Renungan Harian Kristen 26 Juli 2026 - Putus Asa? No!
Bacaan ayat: 1 Samuel 30:6 (TB) Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Masa sulit bisa datang kapan saja dan dimana saja. Masa sulit tidak pilih kasih ketika hadir.
Masa sulit menjadi bagian kehidupan yang akan terus tampil dalam banyak wajah. Bisa jadi hadir dalam rasa lapar, meskipun orang menyebutnya sebagai puasa.
Fakta miskin, namun orang bisa berdalih demi efisiensi. Masing-masing memiliki sudut pandang dan sudut paham yang membuat fakta masa sulit terasa kasar menyakitkan atau lembut menggemaskan.
Lebih menyakitkan bahwa masa sulit sering diluar jangkauan untuk dikendalikan. Bencana alam, siapa yang dapat menyangka? Kebangkrutan dan pailit, siapa yang bisa menduga?
Berbagai masalah muncul hampir bersamaan, siapa yang bisa bertahan? Beberapa orang harus terkapar, hampir-hampir kehilangan pengharapan.
Sementara yang lain mencoba bertahan dalam tubuh yang semakin lelah, hampir tidak ada lagi tenaga. Menyedihkan bukan?
Daud harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Tempat dimana ia tinggal telah diserang musuh. Anggota keluarganya dijadikan sebagai tawanan.
Kala itu, menjadi tawanan cukup menguntungkan. Minimal mereka masih hidup untuk kemungkinan dibebaskan. Meskipun demikian, keberadaan sebagai tawanan juga tidak baik-baik saja.
Terikat erat tanpa tahu kedepan akan terjadi apa. Bisa dibunuh, dijual sebagai budak, atau dibiarkan mati kelaparan.
Jika masih kuat bisa jadi mereka akan menjadi pekerja paksa dengan keadaan yang penuh derita.
Wajar jika Daud bersedih. Ia menangis bersama orang-orangnya sampai tidak bisa lagi menangis. Sebuah kondisi yang sangat memilukan.
Apa yang mesti mereka lakukan? Menarik bahwa dalam situasi demikian Daud memilih untuk menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan.
Ini sebuah pilihan paling bijaksana. Bisa saja ia mencari bala bantuan yang mungkin akan menolong. Atau segera mengumpulkan orangnya untuk mengejar.
Tidak. Pertama ia melakukan untuk tetap percaya kepada Tuhan. Ia tahu persis bahwa sumber utama kekuatan ialah Tuhan dan bukan yang lain.
Kemudian ia meminta petunjuk Tuhan, apa yang harus ia lakukan berikutnya. Strategi diatur demi misi pembebasan para tawanan, dan itulah yang mereka lakukan.
Masa sulit boleh hadir kapan saja dan dimana saja. Namun bagi orang percaya, fokus hidup tidak boleh beralih. Tuhan sumber kekuatan bagi kita.
Teruslah percaya, teruslah berharap.
Putus asa?
Jangan! Itu hanya akan menghancurkan kehidupan. Seberat apapun beban kehidupan, jangan pernah menyerah. Kuatkan hati dan tetaplah percaya kepada Tuhan. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang