Potret Warga Beli Air Bersih Rp 340 Ribu Sebulan Imbas Kemarau, Daerah Jadi Langganan Kekeringan
Ani Susanti July 25, 2026 09:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Ancaman kekeringan kembali menghantui sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seiring musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama akibat pengaruh El Nino.

Warga pun mulai menghemat penggunaan air bersih sambil berharap bantuan datang sebelum cadangan air mereka habis.

Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Dusun Talgapung, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang.

Di kawasan tersebut, masyarakat mengandalkan sisa air yang tersimpan di bak penampungan karena hujan belum juga turun.

Baca juga: BPBD Dropping Air Bersih ke Ratusan Warga Terdampak Kekeringan di Desa Sukorejo Blitar

Ketua RT Dusun Talgapung, Heri, mengatakan persoalan kekeringan sudah menjadi siklus yang berulang hampir setiap tahun.

Kondisi itu memaksa warga mengurangi penggunaan air untuk berbagai kebutuhan sehari-hari agar persediaan tetap bertahan selama musim kemarau.

"Kami memang benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih. Warga harus menghemat penggunaan air. Kalau persediaan habis, kami biasanya mengajukan bantuan air bersih. Jika bantuan belum datang, kami hanya mengandalkan air tadah hujan yang jumlahnya sangat terbatas," kata Heri dalam rilisnya, Jumat (24/7/2026).

PAH Sejak Tahun 1980-an

Sebagian besar rumah di dusun tersebut telah memiliki penampungan air hujan (PAH) sejak dekade 1980-an.

Fasilitas itu menjadi sumber cadangan utama yang dimanfaatkan warga ketika musim kemarau tiba.

Air hujan disimpan di dalam bak berdiameter sekitar 2,5 meter agar dapat digunakan selama beberapa waktu.

Namun, ketika persediaan itu habis, warga terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Satu tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter dijual seharga Rp170.000 dan rata-rata hanya cukup memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua pekan.

Dengan kondisi tersebut, setiap rumah tangga sedikitnya harus mengeluarkan sekitar Rp340.000 setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Untuk membantu meringankan beban warga, Rumah Amal Salman Yogyakarta bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Yogyakarta menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.

Sebanyak 30 truk tangki air dikirimkan ke Dusun Talgapung. Bantuan itu langsung dimanfaatkan warga dengan mengisi bak penampungan sebagai persediaan selama musim kemarau masih berlangsung.

Koordinator Rumah Amal Salman Yogyakarta, Aroda Fitrah Sukoco, mengatakan penyaluran air bersih dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan masyarakat di tengah ancaman kemarau yang lebih panjang.

"Program kolaborasi ini sudah berjalan sejak 2025. Rumah Amal bersama IA ITB Yogyakarta terus mendampingi masyarakat dalam upaya penyediaan air bersih," kata Aroda.

Baca juga: Selalu Dilanda Krisis Air Bersih saat Kemarau, Warga Sumberpinang Jember Minta Ada Pipanisasi

Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Yogyakarta, Warih Mahamboro, menilai bantuan air bersih merupakan langkah penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat.

Namun, menurutnya, persoalan kekeringan tidak dapat diselesaikan hanya dengan distribusi air.

"Daerah ini mengalami kekeringan hampir setiap tahun. Penyaluran air bersih tentu membantu kebutuhan mendesak warga, tetapi persoalan akses air bersih membutuhkan penanganan yang lebih berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan karakter wilayah," ujar Warih.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.