Cara Jawab Pertanyaan 'Kapan Nikah' Secara Islami, Tetap Tenang dan Jaga Lisan
Ani Susanti July 25, 2026 10:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Pertanyaan sederhana seperti "kapan nikah?" kerap dianggap sebagai basa-basi dalam pergaulan. 

Namun, di balik kalimat tersebut, tidak sedikit orang yang justru merasakan tekanan emosional karena setiap orang memiliki perjalanan hidup dan persoalan yang berbeda.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mustafa Indonesia, Habib Shaleh Muhammad Al Jufri, mengingatkan pentingnya menjaga adab dalam berbicara, terutama ketika menyangkut urusan pribadi orang lain.

Menurutnya, seorang Muslim perlu mempertimbangkan dampak dari setiap pertanyaan sebelum mengucapkannya.

"Kalau ingin bertanya kepada seseorang, mikir-mikir dulu. Jangan sampai pertanyaan kita membuat orang sedih dan susah," ujar Habib Shaleh dalam wawancara dengan jurnalis Tribunnews, Faryyanida Putwiliani dalam program OASE melalui Zoom yang tayang live di Kantor Tribunnews Solo, Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (20/3/2026).

Baca juga: Doa Istri untuk Suami yang Sedang Mencari Nafkah, Ikhtiar Memohon Rezeki dan Perlindungan Allah SWT

Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar mengetahui keadaan yang sedang dihadapi orang lain.

Ada yang masih menunggu jodoh, baru mengalami kegagalan hubungan, atau sedang mempersiapkan diri untuk menikah sesuai kondisi yang dimilikinya.

Karena itu, menurutnya, menghindari pertanyaan yang berpotensi melukai perasaan merupakan bagian dari akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

Habib Shaleh juga memberikan panduan bagi mereka yang kerap menerima pertanyaan mengenai pernikahan.

Ia menyarankan agar tidak merespons dengan emosi ataupun perkataan yang dapat memperkeruh suasana.

Sebaliknya, jawablah dengan sopan dan penuh doa.

Contoh Jawaban

Ia mencontohkan jawaban sederhana yang tetap santun.

"Kalau ditanya kapan nikah, jawab saja, 'Doakan insyaallah jodohnya cepat datang.'"

Menurutnya, jawaban tersebut mencerminkan kerendahan hati sekaligus mengajak orang lain turut mendoakan kebaikan, bukan memperpanjang perdebatan atau menimbulkan rasa tidak nyaman.

Habib Shaleh bahkan menyarankan agar seseorang tidak ragu meminta doa kepada orang yang bertanya.

"Kita minta doa. Kita minta doa. Barangkali kamu punya calon untuk saya," katanya sambil tersenyum.

ilustrasi pernikahan
ilustrasi pernikahan (Pexels.com/NATASHA FERNANDEZ)

Menurutnya, cara seperti itu dapat menjaga suasana tetap hangat tanpa memicu konflik ataupun rasa tersinggung.

Lebih lanjut, Habib Shaleh mengingatkan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bagian penting dari akhlak seorang Muslim.

Karena itu, seseorang hendaknya tidak mudah menanyakan persoalan yang bersifat sangat pribadi apabila tidak mengetahui kondisi orang yang dihadapi.

"Kalau kita tahu orang ini masih single, jangan ditanyakan, 'Kapan kamu nikah?' Kalau kita tahu sudah sekian lama menikah tetapi belum punya anak, jangan ditanyakan, 'Kapan punya anak?' Sangat sedih sekali."

Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga perasaan sesama. Kalimat yang terdengar ringan bagi sebagian orang belum tentu memiliki makna yang sama bagi orang lain.

Baca juga: Daftar Doa Agar Dijauhkan dari Hal Buruk hingga Musibah, Amalan yang Diajarkan Rasulullah SAW

Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang pernikahan mungkin tetap akan muncul dalam berbagai kesempatan.

Meski demikian, Habib Shaleh mengajak umat Islam untuk menyikapinya dengan kesabaran dan akhlak yang baik.

Menurutnya, jawaban yang lembut jauh lebih baik daripada membalas dengan sindiran atau kemarahan.

Sikap santun justru dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap keadaan orang di sekitarnya.

Tidak semua persoalan pribadi perlu dijadikan bahan pertanyaan, terlebih jika berpotensi membuka luka yang tidak terlihat.

Habib Shaleh menekankan bahwa persoalan ini bukan hanya tentang bagaimana menjawab, tetapi juga bagaimana seseorang bertanya.

Pertimbangan Sebelum Bertanya

Menurutnya, sebelum mengajukan pertanyaan, seseorang perlu mempertimbangkan apakah pertanyaan tersebut akan membawa manfaat atau justru melukai hati orang lain.

"Jangan sampai pertanyaan kita membuat orang sedih dan susah," ujarnya.

Dengan menjaga lisan dan menghormati perasaan sesama, hubungan kekeluargaan maupun persahabatan dapat tetap terjalin dengan hangat dan penuh kenyamanan.

Pada akhirnya, Habib Shaleh mengingatkan bahwa pernikahan bukanlah tolok ukur keberhasilan hidup seseorang.

Setiap orang memiliki waktu, ujian, dan ketetapan Allah SWT yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah terus berikhtiar, berdoa, bertawakal, serta menjaga adab dalam berbicara kepada sesama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.