TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK — Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah kabupaten sekitar Kalimantan Barat mulai mengancam kesehatan masyarakat di pusat ibu kota provinsi.
Merespons potensi gangguan kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak bergerak cepat dengan mengeluarkan imbauan mitigasi risiko.
Warga, terutama kelompok rentan, diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta kembali membiasakan penggunaan masker guna meminimalisir paparan polutan.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengonfirmasi bahwa berdasarkan data alat pemantau kualitas udara yang terpasang di sejumlah titik, kondisi udara di wilayahnya telah bergerak melampaui ambang batas normal dan masuk dalam kategori tidak sehat.
Pemkot berjanji akan terus memberikan pembaruan data secara transparan kepada publik.
"Instalasi pemantauan udara di Kota Pontianak sudah menunjukkan angka kurang sehat. Nanti kalau sudah sangat berbahaya, kita akan umumkan. Jadi setiap hari kita update terus datanya," ungkap Edi, Sabtu, 25 Juli 2026.
Edi menjelaskan, fenomena kabut asap yang melingkupi Kota Pontianak saat ini merupakan dampak lintas batas (transboundary haze).
Baca juga: Karhutla di Kawasan Bandara Supadio Sulit Dipadamkan, Api Membara di Dalam Gambut
Angin kencang membawa material abu dan asap dari titik-titik kebakaran lahan yang berada di wilayah kabupaten tetangga masuk ke area perkotaan.
Secara internal, Pemkot Pontianak mengklaim telah menghentikan potensi karhutla di dalam kota melalui pengawasan dan penegakan hukum yang diperketat.
Edi menegaskan pentingnya langkah proteksi mandiri dari tingkat keluarga.
"Saya sudah mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi kegiatan outdoor (luar ruangan). Terus gunakan masker apabila keluar, terutama bagi yang sensitif terhadap ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)," tegasnya.
Secara khusus, pertahanan kesehatan masyarakat disorot pada kelompok masyarakat berisiko tinggi.
Wali Kota menginstruksikan para orang tua untuk lebih protektif menjaga anak-anak serta warga lanjut usia (lansia) yang secara fisiologis memiliki sistem imunitas lebih rentan terhadap polusi udara.
"Makanya tadi saya berharap, terutama pada anak-anak sama warga yang mempunyai imun rentan terhadap ISPA, itu untuk mengantisipasi, Misalnya keluar dengan masker, terus mengurangi kegiatan outdoor, dan selalu melihat kondisi cuaca di luar," tambahnya.
Hingga kini, Pemkot Pontianak melalui instansi terkait terus mengintegrasikan pemantauan indeks standar pencemar udara (ISPU).
Ini guna menentukan langkah strategis penanganan lanjutan, termasuk skenario kebijakan pendidikan maupun pelayanan publik jika kondisi udara terus memburuk. (*)