SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Sebagai dua simpul ekonomi penting di bagian selatan Pulau Sumatera, Kota Palembang dan Bandar Lampung memiliki daya pikat serta peran strategis yang saling melengkapi.
Palembang, yang menyandang status sebagai kota terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Medan, dikenal kaya akan warisan budaya dan kelezatan kuliner.
Bekas pusat peradaban Kerajaan Sriwijaya ini juga kenyang pengalaman dalam menggelar berbagai event berskala nasional hingga internasional, yang kian memancarkan daya tariknya di panggung nasional.
Sementara itu, Kota Bandar Lampung berdiri kokoh sebagai "pintu gerbang utama" Pulau Sumatera.
Baca juga: Metropolis Sumatera vs Raksasa Jawa: Membandingkan Biaya Hidup dan Gaji Palembang vs Surabaya
Berada di posisi vital penghubung Sumatera dan Jawa, kota ini menjadi pusat transit, jalur logistik, serta koridor utama menuju berbagai destinasi wisata unggulan di Lampung.
Lantas, jika kedua kota ini diadu dari kacamata kapasitas fiskal dan pendapatan asli daerah (PAD) pada Tahun Anggaran 2026, kota mana yang mencatatkan pundi-pundi keuangan lebih besar?
Mengintip Dapur Keuangan Daerah: Data DJPK Kemenkeu per 24 Juli 2026
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan per 24 Juli 2026, berikut perbandingan target dan realisasi PAD antara kedua kota:
Sebagai pusat pertumbuhan regional, Pemkot Palembang memasang target PAD cukup fantastis pada Tahun Anggaran 2026, yakni sebesar Rp 2,3 Triliun.
Hingga akhir Juli 2026, realisasi PAD Kota Palembang tercatat telah mencapai Rp 906,14 Miliar (sekitar 39,40?ri target).
Skala ekonomi kota yang besar serta sokongan kuat dari pajak daerah, retribusi, dan sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) menjadi penopang utama masuknya penerimaan kas daerah.
Di sisi lain, Kota Bandar Lampung menetapkan target PAD pada Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp 1,129 Triliun.
Secara nominal, target ini berada di kisaran separuh dari target Kota Palembang.
Meski target nominalnya lebih kecil, laju penyerapan PAD Kota Bandar Lampung hingga pertengahan tahun ini terbilang cukup presisi.
Hingga Juli 2026, PAD Bandar Lampung telah terealisasi sebesar Rp 475,81 Miliar atau menyentuh 42,14?ri total target.
Sektor jasa transportasi, perhotelan, restoran, dan logistik di kawasan transit ini terbukti menjadi mesin penggerak PAD yang konsisten.
Dari segi nominal total, Palembang unggul signifikan lebih dari dua kali lipat dalam hal pundi-pundi PAD dibandingkan Bandar Lampung, sejalan dengan skala ekonomi dan perannya sebagai pusat metropolitan.
Namun dari sisi laju persentase penyerapan di pertengahan tahun, Bandar Lampung mencatatkan laju yang sedikit lebih cepat (42,14 % ) dalam mengejar target tahunannya dibandingkan Palembang (39,40 % ).