SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Sebagai dua kekuatan ekonomi utama di pulau yang berbeda, Palembang dan Surabaya memiliki peran krusial dalam menggerakkan roda perekonomian nasional.
Keduanya tumbuh sebagai pusat bisnis, perdagangan, hingga destinasi pendidikan yang memikat jutaan jiwa untuk mengadu nasib.
Surabaya berdiri megah sebagai ibu kota Jawa Timur sekaligus kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Menjadi pusat bisnis dan industri utama di kawasan timur Indonesia, kota yang sarat sejarah perjuangan dan dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan ini menawarkan dinamika kehidupan perkotaan yang modern dan cepat.
Baca juga: Adu Nyaman Palembang vs Kota Malang: Membandingkan Biaya Hidup, Kuliner, hingga Dapur Gaji
Di sisi lain, Palembang tampil sebagai pilar utama di Pulau Sumatera. Sebagai kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan, bumi Sriwijaya ini terus bergeliat molek.
Berbagai ajang olahraga serta agenda berskala nasional maupun internasional kerap digelar di kota tertua di Indonesia ini, menegaskan posisinya sebagai metropolis yang makin berkembang.
Lantas, jika kedua kota besar ini diadu dari kacamata kesejahteraan dan isi dompet, kota mana yang menawarkan biaya hidup lebih murah serta daya beli yang lebih sehat?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2026, tingkat pengeluaran rata-rata per kapita bulanan menunjukkan selisih yang lumayan berjarak antara kedua kota ini.
Surabaya: Rata-rata pengeluaran per kapita warganya menembus angka Rp2.905.004 per bulan.
Nilai ini terbagi atas konsumsi makanan sebesar Rp1.145.921 dan kebutuhan non-makanan (seperti tempat tinggal, transportasi, energi, dan gaya hidup) sebesar Rp1.759.084.
Palembang: Rata-rata pengeluaran per kapita warganya berada di angka Rp1.879.226 per bulan.
Alokasi untuk konsumsi makanan tercatat sebesar Rp794.213, sedangkan pengeluaran non-makanan berada di kisaran Rp1.085.013.
Secara langsung, biaya hidup di Palembang jauh lebih terjangkau. Rata-rata pengeluaran bulanan warga Surabaya hampir 1,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan warga Palembang, terutama terdorong oleh tingginya biaya non-makanan di Kota Pahlawan tersebut.
Untuk menilai keterjangkauan sebuah kota, besaran biaya hidup tentu harus disandingkan dengan pendapatan atau Upah Minimum Kota (UMK) yang berlaku di tahun 2026.
Surabaya: Menawarkan UMK yang terbilang tinggi, yakni mencapai Rp5.288.796 per bulan.
Jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran dasar per kapita (Rp2,90 juta), seorang pekerja di Surabaya mengalokasikan sekitar 54,9 persen dari upah minimumnya untuk kebutuhan hidup standar bulanan.
Palembang: Memiliki UMK sebesar Rp4.192.837 per bulan. Dengan biaya hidup rata-rata sebesar Rp1,87 juta, pekerja di Palembang hanya perlu mengeluarkan sekitar 44,8?ri UMK untuk memenuhi kebutuhan pokok harian.
Secara finansial, Palembang relatif lebih ramah di kantong bagi para pekerja entry-level maupun pencari kerja.
Meskipun UMK Surabaya lebih tinggi secara nominal, tingginya komponen biaya hidup di Surabaya memakan porsi pendapatan yang lebih besar.
Sebaliknya, Palembang menawarkan porsi sisa pendapatan (disposable income) yang lebih longgar setelah dikurangi kebutuhan pokok harian.
Meski demikian, Surabaya tetap memiliki keunggulan tersendiri lewat ekosistem bisnis yang lebih masif, pilihan karier yang amat beragam, serta infrastruktur metropolitan yang sangat lengkap bagi mereka yang siap bertarung di dinamika kota besar.