Rektor USK Paparkan Kiprah Satgas Dalam Penanganan Siklon Senyar
Nur Nihayati July 26, 2026 12:03 PM

Laporan wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir I Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Mirza Tabrani memaparkan kiprah Satgas USK dalam penanganan bencana Siklon Senyar Aceh pada Diskusi Publik bertema “Membedah Progres Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Pascabencana Hidrometeorologi dan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera 2026–2028”. 

Acara ini digelar Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh di Ruang Event Hall Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Jumat (24/7/2026).

Dalam paparannya, Prof Mirza menekankan kontribusi USK di bidang penyediaan air bersih, dukungan pendidikan, dan layanan kesehatan.

Baca juga: Tim USK Edukasi Pasien Diabetes Pascabencana di Pidie Jaya, Tekankan Pentingnya Kepatuhan Terapi

“Kami melakukan pengeboran dan sterilisasi air dengan alat yang dirancang mahasiswa.

Alat tersebut sudah ditempatkan di sejumlah lokasi terdampak, sehingga air yang semula keruh dapat kembali jernih dan dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan wudu,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dukungan pendidikan bagi civitas akademika terdampak.

Rumah amal USK

Katanya, Universitas Syiah Kuala berupaya membantu mahasiswa dan keluarga terdampak melalui pemberian lebih dari 2.300 beasiswa yang disalurkan lewat Rumah Amal USK.

“Dengan data penerima yang tercatat secara by name, by address,” kata Mirza.

Selain beasiswa, melalui Rumah Amal USK juga telah disalurkan fasilitas sarana air bersih siap minum di delapan lokasi yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya.

Baca juga: Bangun Kreativitas dan Sportivitas, Mahasiswa KKN USK Gelar Festival Anak Desa di Pidie Jaya

Selain itu, USK mengirimkan tenaga medis secara reguler ke desa-desa dan lokasi pengungsian. “Kami secara reguler mengirimkan dokter ke desa-desa dan lokasi pengungsian.

Penugasan dilakukan bergiliran, ada yang dua minggu hingga satu bulan, dan setiap keberangkatan selalu dibarengi dengan obat-obatan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Menanggapi paparan tersebut, Kaposkowil Satgas PRR Aceh, Safrizal Z.A mengapresiasi program dokter turun langsung ke desa-desa dan lokasi pengungsian yang dijalankan USK.

“Ada banyak aktivitas dari Universitas Syiah Kuala, termasuk yang saya kawal langsung, masalah dokter turun ke desa.

Kalau biasanya masyarakat datang ke pos-pos pelayanan kesehatan, ini para petugas layanan atau dokter-dokter turun ke lokasi-lokasi pengungsian atau rumah-rumah penduduk,” ujarnya.

Safrizal mendorong kampus lain yang memiliki Fakultas Kedokteran untuk menjalankan pola serupa, serta fakultas lain untuk berperan dalam pendampingan ekonomi masyarakat. 

Ia juga menekankan perlunya pembinaan agar bantuan stimulan ekonomi tidak bersifat konsumtif, dan mengajak kampus-kampus di Aceh untuk mengarahkan program KKN tematik ke wilayah terdampak bencana.

“Memang butuh bimbingan, pendampingan, termasuk nanti kalau boleh KKN, nanti kita imbau juga kampus-kampus se-Aceh ini, KKN-lah di tempat-tempat terdampak bencana,” katanya.

Menurut Safrizal, skala dampak bencana yang masif tidak bisa ditangani satu kementerian atau pemerintah daerah saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas pihak — kampus, lembaga swadaya masyarakat, dan berbagai unsur lain.

Diskusi publik ini dihadiri oleh 12 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Aceh. Selain Rektor USK dan Rektor UIN Ar-Raniry, sejumlah rektor atau perwakilan PTN/PTS lainnya juga hadir, memberikan pandangan, masukan, serta dukungan untuk keberhasilan kerja rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.(*)


“Kami melakukan pengeboran dan sterilisasi air dengan alat yang dirancang mahasiswa. Alat tersebut sudah ditempatkan di sejumlah lokasi terdampak, sehingga air yang semula keruh dapat kembali jernih,” 
Mirza Tabrani
Rektor USK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.