Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Malam itu, di Aula UPTD Taman Budaya Gerson Poyk dipenuhi nuansa kekeluargaan. Balutan kain tenun dengan ragam motif khas Flores Timur menghiasi ruangan.
Para sesepuh duduk berdampingan dengan generasi muda. Di hadapan mereka, tongkat estafet kepemimpinan Ikatan Keluarga Adonara (IKA) Kupang resmi berpindah ke tangan generasi baru.
Sabtu 25 Juli 2026, menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi yang telah mengikat ribuan warga diaspora Adonara di Kota Kupang selama lebih dari setengah abad.
Ketua dan Badan Pengurus IKA Kupang periode 2026-2030 resmi dilantik oleh Ketua Dewan Penasihat IKA Kupang, Lambertus Mean Tokan.
Hadir dalam pelantikan itu Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, para sesepuh, tokoh masyarakat, serta keluarga besar Adonara yang memenuhi ruangan dengan semangat persaudaraan.
Bagi sebagian orang, pelantikan hanyalah seremoni pergantian pengurus. Namun bagi masyarakat Adonara, malam itu adalah pengingat bahwa sebuah organisasi tidak hanya dibangun oleh struktur, melainkan oleh ikatan batin, sejarah panjang, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua IKA Kupang, Marius Samon Ago mengajak seluruh warga mengenang perjalanan panjang organisasi yang lahir pada April 1972.
Selama lebih dari 52 tahun, IKA Kupang telah menjadi rumah bersama bagi putra-putri Adonara yang merantau ke Kota Kupang.
"IKA Kupang lahir sebagai tempat bertemu, saling menguatkan, bertukar pikiran, dan membangun soliditas sesama warga Adonara," ujarnya.
Menurut Marius, perjalanan panjang itu bukan sekadar catatan usia organisasi. Selama puluhan tahun, IKA telah memberi warna dalam pembangunan Kota Kupang maupun tanah kelahiran di Lewotana Adonara. Jejak para pendahulu menjadi fondasi yang kini diwariskan kepada generasi muda.
Dengan penuh penghormatan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendiri dan sesepuh yang telah menjaga organisasi tetap hidup hingga hari ini.
"Kami sadar melanjutkan tongkat kepemimpinan ini bukan perkara mudah. Namun kami percaya, kepercayaan yang diberikan para orang tua menjadi kekuatan bagi kami untuk menjaga warisan yang telah dibangun dan melahirkan kreativitas baru sesuai tantangan zaman," katanya.
Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, Marius menilai IKA harus bertransformasi menjadi organisasi yang semakin profesional.
Ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama membangun sistem organisasi yang lebih mandiri, memperkuat tata kelola, serta menghadirkan program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Baginya, pelantikan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari kerja panjang.
Ia mengajak seluruh diaspora Adonara meninggalkan romantisme masa lalu dan mulai menulis sejarah baru.
"Sejarah memang mencatat warga Adonara telah memberi kontribusi besar dalam politik, birokrasi, dan pembangunan. Tetapi kita hidup hari ini. Saatnya menciptakan sejarah baru yang lebih besar daripada kejayaan masa lalu," ujarnya.
Ketua Dewan Penasihat IKA Kupang, Lambertus Mean Tokan, memilih membawa hadirin menyelami masa lalu.
Ia mengisahkan bagaimana organisasi-organisasi mahasiswa asal Adonara lahir dari keterbatasan. Salah satunya adalah Perkumpulan Pelajar Mahasiswa Bipolo (PERGAMAN) yang berdiri sekitar tahun 1970-an.
Saat itu, jumlah mahasiswa asal Bipolo masih sangat sedikit. Biaya kuliah mahal, kesempatan belajar terbatas, sementara kehidupan ekonomi keluarga belum memadai. Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh rasa persaudaraan yang kuat.
Berawal dari pertemuan tiga hingga empat mahasiswa, lahirlah sebuah organisasi yang menjadi tempat saling menopang.
Mereka mengumpulkan dana bersama, membantu sesama mahasiswa, dan membangun semangat agar pendidikan menjadi jalan perubahan.
Menurut Lambertus, semangat seperti itulah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda Adonara.
Organisasi, katanya, tidak akan besar hanya karena nama, tetapi karena keikhlasan anggotanya melayani sesama.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadirkan pesan yang sederhana namun mengena.
Ia mengawali sambutannya dengan mengingatkan pentingnya mendengar pengalaman para orang tua.
"Generasi muda memang melek teknologi dan bergerak cepat. Tetapi kebijaksanaan tetap dimiliki para sesepuh. Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik," ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kota Kupang, ia menyampaikan penghargaan kepada masyarakat Adonara yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan kota.
Menurutnya, banyak tokoh besar lahir dari rahim masyarakat Adonara dan memberikan pengabdian bagi daerah.
Kemudian ia mengajak seluruh hadirin membayangkan sebuah kapal yang bersandar indah di dermaga.
Pemandangannya memang mempesona. Namun, katanya, kapal tidak diciptakan hanya untuk diam.
"Kapal dibuat untuk membelah ombak, menantang gelombang, dan berlayar menuju tujuan. Begitu juga IKA. Organisasi ini bukan dibentuk hanya untuk berkumpul, tetapi hadir menjawab tantangan pembangunan," tuturnya.
Ia kemudian mengutip ungkapan Latin Duc in Altum artinya bertolaklah ke tempat yang lebih dalam.
Bagi Christian, IKA harus berani melangkah lebih jauh, mengambil peran lebih besar, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa Kota Kupang adalah kota yang dibangun dari keberagaman.
Seperti benang-benang pada selembar kain tenun, kata Christian setiap suku memiliki warna dan motif berbeda. Justru karena berbeda, semuanya membentuk keindahan.
"Persatuan bukan berarti menjadi sama. Persatuan adalah kemampuan berjalan bersama di tengah perbedaan," katanya.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai masyarakat Adonara memiliki karakter yang telah dikenal luas sebagai perantau tangguh.
Di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga mancanegara, warga Adonara hadir membawa semangat bekerja keras.
Menurutnya, merantau bukan hanya mencari penghidupan, tetapi juga memperluas persaudaraan.
Namun di balik kekuatan itu, ia mengingatkan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di tanah kelahiran, terutama konflik sosial dan sengketa tanah yang kerap menghambat pembangunan.
Energi besar masyarakat Adonara, katanya, jangan lagi habis untuk konflik.
Energi itu harus diubah menjadi kekuatan membangun ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ia berharap IKA mampu menjadi perekat, penengah, sekaligus penggerak perubahan.
Pelantikan malam itu akhirnya bukan hanya tentang pengucapan sumpah jabatan. Melainkan menjadi penanda bahwa api persaudaraan yang dinyalakan para pendiri sejak tahun 1972 masih terus menyala.
Kini, api itu berpindah ke tangan generasi baru.
Mereka memikul harapan untuk menjaga rumah besar bernama Ikatan Keluarga Adonara Kupang tetap kokoh sebagai tempat pulang, tempat belajar, dan tempat mengabdi.
Sebab, sebagaimana pesan yang mengakhiri malam penuh makna itu, perjalanan bersama selalu dimulai dengan pertemuan, tumbuh karena kebersamaan, dan mencapai keberhasilan melalui kerja sama. (rey)