TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Di tengah derasnya arus konten media sosial yang membuat banyak anak muda lebih akrab dengan layar ponsel dari pada alat musik, sekelompok musisi lokal di Kabupaten Batang memilih melawan keadaan dengan cara sederhana berkarya dari kampung sendiri.
Grup musik indie Suka Band resmi meluncurkan dua single terbaru bertajuk 'Negasi' dan 'Sisi Hati' di Kafe Koosha, Kalisalak, Kabupaten Batang, Sabtu (25/7/2026) malam.
Namun, peluncuran tersebut bukan sekadar memperkenalkan lagu baru.
Mereka membawa misi yang lebih besar, yakni menghidupkan kembali semangat bermusik di kalangan Generasi Z melalui kolaborasi lintas seni bersama komunitas perupa Serbuk Pensil.
Baca juga: Band Asal Semarang Tutup Perjalanan di Bintang Muda Lokananta Vol. 2 Dengan Tur 2 Kota
Baca juga: The A+ Keluar Sebagai Juara 1 Kompetisi Band Hydroplus Soccer League di Kudus
Di sudut kafe, alunan musik berpadu dengan goresan pensil para seniman yang menuangkan makna lagu ke dalam karya visual.
Pengunjung tak hanya mendengarkan lirik, tetapi juga menyaksikan bagaimana emosi dalam lagu diterjemahkan menjadi ilustrasi yang hidup.
Personel Suka Band, Muhammad Farid, mengatakan musik seharusnya tidak hanya dinikmati melalui pendengaran, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman visual yang memperkuat pesan di balik setiap lagu.
"Musik itu melibatkan banyak indra. Selain pendengaran, ada juga penglihatan. Karena itu kami menggandeng teman-teman Serbuk Pensil untuk membuat artwork yang akan tampil di platform digital seperti Spotify, YouTube, dan media lainnya," kata Farid kepada Tribunjateng, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, dua single tersebut mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Lagu 'Negasi' berbicara tentang penyangkalan terhadap kenyataan yang pahit, sedangkan 'Sisi Hati' menggambarkan seseorang yang tengah terluka karena persoalan perasaan.
Meski mengusung tema galau, Farid berharap karya tersebut tidak hanya menjadi teman saat bersedih, tetapi juga memotivasi anak-anak muda Batang agar berani berkarya.
"Kami ingin anak-anak muda Batang, terutama pelajar, kembali tertarik ke dunia musik. Jangan hanya bergantung pada gawai, tetapi juga mulai menciptakan karya dan mengekspresikan diri lewat musik," ungkapnya.
Semangat itu akan terus dijaga melalui program rutin bertajuk 'Sketsa Akhir Pekan', sebuah agenda kolaboratif antara musisi dan perupa yang rencananya digelar setiap akhir pekan.
Dalam kegiatan tersebut, para seniman Serbuk Pensil akan membuat ilustrasi secara langsung saat Suka Band membawakan lagu-lagunya.
Konsep ini diharapkan menjadi ruang kreatif baru yang mempertemukan musik dan seni rupa dalam satu panggung.
Anggota Komunitas Serbuk Pensil, Syaiful Bassyar, mengatakan setiap ilustrasi dibuat dengan membaca dan memahami makna lirik secara mendalam sehingga menghasilkan visual yang mampu memperkuat pesan lagu.
Kolaborasi tersebut menjadi warna baru bagi perkembangan ekosistem seni di Kabupaten Batang.
Tidak hanya memperkenalkan karya musik lokal, tetapi juga membuka ruang apresiasi bagi para perupa untuk tampil bersama musisi dalam satu panggung.
Di tengah gempuran budaya digital yang serba instan, langkah Suka Band dan Serbuk Pensil menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari kota-kota besar.
Dari sebuah kafe sederhana di Batang, mereka membuktikan karya lokal juga mampu berbicara, menginspirasi, dan mengajak generasi muda kembali mencintai proses berkesenian.
Dengan hadirnya dua single baru tersebut, Suka Band berharap semakin banyak talenta muda Batang yang berani menunjukkan karya mereka sendiri, sehingga musik indie daerah tidak hanya bertahan, tetapi terus tumbuh menjadi identitas kreatif yang membanggakan.
"Kami mencoba menerjemahkan setiap detail lirik ke dalam karya seni rupa. Ini bentuk dukungan kami kepada teman-teman Suka Band sekaligus menunjukkan bahwa musik dan seni visual bisa saling menguatkan," tutupnya. (Ito)