TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata bahwa dirinya belum makan seharian, tetapi tetap merasa kenyang karena hanya merokok?
Bagi sebagian orang, pernyataan tersebut mungkin terdengar aneh.
Sebab, rasa kenyang umumnya muncul setelah tubuh menerima asupan makanan berat.
Lantas, apakah merokok benar-benar bisa membuat seseorang merasa kenyang, atau hanya sekadar sugesti?
Jawabannya, fenomena tersebut memang bisa terjadi.
Namun, rasa kenyang yang dirasakan bukan berasal dari tubuh yang telah mendapatkan nutrisi, melainkan akibat pengaruh zat nikotin terhadap sistem saraf dan hormon pengatur nafsu makan.
Berikut penjelasan ilmiahnya.
Nikotin merupakan zat adiktif utama yang terkandung dalam rokok.
Setelah dihirup, nikotin akan masuk ke aliran darah dan mencapai otak hanya dalam hitungan detik.
Di dalam otak, nikotin bekerja pada bagian hipotalamus, yaitu area yang berperan mengatur rasa lapar dan rasa kenyang.
Nikotin mengaktifkan reseptor saraf tertentu yang kemudian mengirimkan sinyal seolah-olah tubuh sudah memperoleh asupan makanan.
Akibatnya, rasa lapar menjadi berkurang meski lambung sebenarnya masih kosong.
Selain itu, nikotin juga mempengaruhi pelepasan beberapa zat kimia di otak, seperti dopamin dan serotonin, yang dapat mempengaruhi suasana hati sekaligus membantu menekan nafsu makan untuk sementara waktu.
Efek lain dari nikotin adalah merangsang pelepasan hormon adrenalin.
Hormon ini membuat tubuh memasuki kondisi yang dikenal sebagai respons fight or flight, yaitu mekanisme alami ketika tubuh bersiap menghadapi ancaman atau situasi yang menegangkan.
Saat kondisi tersebut terjadi, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan tubuh lebih memprioritaskan fungsi organ vital dibandingkan proses pencernaan.
Akibatnya, aktivitas saluran cerna melambat sehingga keinginan untuk makan pun ikut berkurang.
Baca juga: Nekat Merokok di Malioboro Siap-siap Disidang! Satpol PP Gelar Operasi Yustisi Sebulan Sekali
Pelepasan hormon adrenalin juga merangsang hati untuk melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah.
Kenaikan kadar gula darah ini memberikan sinyal bahwa tubuh memiliki sumber energi sehingga rasa lapar menjadi berkurang untuk sementara waktu.
Meski demikian, energi tersebut hanya berasal dari cadangan tubuh, bukan dari makanan yang baru dikonsumsi.
Karena itu, efeknya hanya bersifat sementara dan tidak dapat menggantikan kebutuhan nutrisi harian.
Kebiasaan merokok dalam jangka panjang juga dapat menurunkan kemampuan indra pengecap dan penciuman.
Paparan zat kimia dalam asap rokok dapat mengganggu fungsi papila lidah dan saraf penciuman sehingga cita rasa makanan terasa kurang nikmat dibandingkan sebelumnya.
Akibatnya, sebagian perokok menjadi kurang berselera untuk makan karena makanan tidak lagi memberikan sensasi rasa yang optimal.
Jawabannya adalah tidak.
Rasa kenyang setelah merokok hanya merupakan respons sementara akibat perubahan sinyal di otak dan hormon tubuh. Kondisi tersebut tidak berarti tubuh telah memperoleh kalori, protein, vitamin, mineral, maupun zat gizi lain yang dibutuhkan.
Dengan kata lain, tubuh tetap memerlukan makanan agar dapat menjalankan berbagai fungsi organ secara normal.
Mengandalkan rokok untuk menekan rasa lapar bukanlah kebiasaan yang sehat.
Jika dilakukan terus-menerus, tubuh berisiko mengalami kekurangan energi dan zat gizi yang diperlukan untuk memperbaiki jaringan, menjaga daya tahan tubuh, serta menghasilkan energi.
Selain itu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti:
Fenomena seseorang merasa kenyang setelah merokok memang memiliki dasar ilmiah. Nikotin dapat mempengaruhi otak, hormon, dan sistem saraf sehingga rasa lapar berkurang untuk sementara waktu.
Namun, rasa kenyang tersebut hanyalah efek biologis yang bersifat sementara dan tidak menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi tubuh telah terpenuhi.
Karena itu, merokok tidak dapat menggantikan fungsi makanan. Tubuh tetap membutuhkan asupan gizi yang seimbang agar seluruh organ dapat bekerja dengan baik dan kesehatan tetap terjaga.
(MG ABIL PRAMUDYA)