BANGKAPOS.COM -- Pilu sang kakak saat menyambut jenazah adiknya Muhamad Zulfikar Drakel meninggal dunia di Provinsi Lampung, Selasa (21/7/2026).
Kematian Muhamad Zulfikar Drakel, dokter muda yang ditemukan meninggal menjadi duka mendalam terutama bagi keluarga dan rekan sejawatnya.
Muhamad Zulfikar Drakel ditemukan meninggal dunia di kamar mandi penginapan Guest House Sakinah, Metro Pusat, Lampung, Selasa (21/7/2026) malam.
Dunia medis pun kehilangan satu sosok dokter internship Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Muhamad Zulfikar Drakel.
Ia dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi yang sebenarnya hampir merayakan ulang tahunnya dalam waktu dekat.
Jenazah dokter internship tersebut dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Kamis (23/7/2026).
Dilansir Tribunkalteng.com, jenazah almarhum Muhammad Zulfikar tiba di Bandara H Asan Sampit sekitar pukul 14.10 WIB. Jasad dokter internship tersebut sempat dibawa ke rumah duka di Jalan Kapten Mulyono, Sampit sebelum dimakamkan.
Prosesi pemakaman sekitar pukul 15.20 WIB di Tempat Pemakaman Muslimin di Jalan Manggis, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotim.
Tiga puluh menit kemudian, tepat sekitar pukul 15.50 WIB, jenazah Muhammad Zulfikar Drake mulai dikebumikan.
Tangis keluarga pun pecah mengiringi prosesi pemakaman.
Ibu almarhum bersama kakak-kakaknya tak kuasa menahan kesedihan.
Mereka tampak menangis sambil memeluk erat foto Muhammad Zulfikar Drake untuk terakhir kalinya.
Zulfikar diketahui memiliki seorang kakak yang aktif di media sosial Instagram dengan nama pengguna @yanadrakel.
Sejak malam penemuan jasad, Yana terus membagikan kabar terbaru mengenai kondisi di kediamannya sembari menanti kedatangan jenazah sang adik yang diterbangkan langsung dari Lampung.
Rangkaian ucapan belasungkawa dari rekan serta keluarga pun membanjiri Instastory dan diunggah ulang oleh Yana.
Tak hanya itu, Yana juga membagikan potret pilu saat dirinya duduk bersandar di samping peti mati dengan wajah yang sembab menahan tangis.
"kakak sudah dirumah ding, kakak tunggu fikar pulang, walau tanpa tawa hehehe... khas fikar" cuit sang kakak dalam unggahannya.
Melalui unggahan di laman sosial media yang sama, diketahui bahwa jenazah dokter internship FKUI ini kini telah tiba di rumah duka di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
"Allhamdulilah, om sudah sampai" tulis sang kakak menyambut kedatangan jenazah adiknya.
Kepergian Zulfikar terungkap setelah rekannya menaruh curiga lantaran korban tak kunjung merespons panggilan telepon maupun pesan singkat via WhatsApp.
Penjaga penginapan Guest House Sakinah, Hendri, menceritakan bahwa ia bersama rekan korban sempat berusaha mengetuk pintu kamar yang berlokasi di lantai atas tersebut.
Namun, karena tidak mendapat jawaban sama sekali, pintu kamar akhirnya dibongkar secara paksa hingga Zulfikar ditemukan sudah tak bernyawa di dalam kamar mandi pada Selasa (21/7/2026) malam.
"Kami ketuk-ketuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban sama sekali. Begitu pintu dibongkar dan kami masuk, di atas tempat tidur tidak ada orang."
Muhamad Zulfikar Drakel merupakan seorang dokter koas dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Di mana ia sedang menjalani pendidikan profesi di RSUD Sukadana, Lampung Timur.
Selama menjalani program koas, Zulfikar menginap di Guest House Sakinah, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Lampung.
Zulfikar menyewa kamar di penginapan tersebut sejak sebelum bulan Ramadhan tahun ini.
Dokter koas ini diketahui berasal dari Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Lahir tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yakni 17 Agustus 2000, yang dimana saat ini ia masih menginjak usia 25 tahun.
Kurang dari satu bulan lagi Zulfikar baru akan merayakan ulang tahunnya yang ke-26 tahun.
Dikutip dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), Zulfikar merupakan lulusan Pendidikan Dokter UI.
Ia masuk sebagai mahasiswa baru pada September 2018.
Zulfikar kembali berkuliah di UI untuk menjalani studi Profesi Dokter, langsung setelah lulus dari Pendidikan Dokter.
Ia pun dilantik dan diambil sumpah sebagai dokter pada Mei 2025.
Menurut unggahan teman Zulfikar semasa sekolah di akun Instagram @defrydoaibu, korban merupakan lulusan SMPN 1 Sampit.
Zulfikar dikenal sebagai pribadi yang peduli kepada teman-temannya.
"Dia adalah seorang yang baik, yang peduli sesama, menghibur banyak orang, disayangi teman-temannya dan dicintai oleh banyak orang," tulis @defrydoaibu, Rabu (22/7/2026) dalam Tribunnews.com.
Sementara itu, di mata sang kakak, Mariana Drakel, Zulfikar merupakan sosok paman yang sayang pada keponakannya.
Lewat unggahan Instagram Story, Mariana mengunggah percakapan WhatsApp dengan Zulfikar.
Tampak Zulfikar berniat membelikan baju untuk para keponakannya.
"Di mana lagi ku temukan adik laki-laki yang perhatian sama ponakan-ponakannya, yang ke mana-mana ingat sama ponakan-ponakannya," ungkap Mariana, Kamis (23/7/2026).
Tak hanya berfokus pada pendidikan, Zulfikar tampaknya juga menikmati travelling.
Ia kerap mengunggah foto dirinya tengah pelesiran di akun Instagram @fikardrakel.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung membeberkan hasil investigasi terkait kematian Muhamad Zulfikar Drakel.
IDI Lampung diketahui meminta keterangan dari sejumlah pihak, mulai dokter sesama koas, pihak RSUD Sukadana, direktur RSUD, hingga dokter pendamping.
Menurut Ketua IDI Lampung, Josi Harnos, tidak ditemukan indikasi kerja berlebihan atau overwork pada Zulfikar.
Josi juga mengatakan korban tidak mengalami bullying di tempat kerja.
"Hasil investigasi menunjukkan tidak ditemukan indikasi overwork atau kerja berlebihan. Kami juga tidak menemukan adanya bullying maupun kekerasan di tempat kerja," ujarnya, Kamis (23/7/2026), dilansir TribunLampung.com.
Baca juga: Pergi Belanja, Bocah 14 Tahun di Bangka Selatan Pulang Bersimbah Darah, Nyawanya Tak Tertolong
Diduga, Zulfikar memiliki penyakit peserta yang sebelumnya belum diketahui.
Meski demikian, penyebab Zulfikar meninggal belum diketahui lantaran keluarga korban menolak autopsi.
"Memang ditemukan indikasi infeksi, tetapi tidak bisa ditegakkan infeksi apa, lokasinya di mana, dan bagaimana prosesnya karena pihak keluarga menolak dilakukan autopsi. Kami menghormati keputusan keluarga," jelas Josi.
Terpisah, Kapolres Metro, AKBP Hangga Utama Darmawan, mengatakan pihaknya belum menemukan unsur pidana dalam kematian Zulfikar.
Karena itu, ia mengimbau publik untuk tak buru-buru berspekulasi terkait kematian korban.
Hangga menyebut tim penyelidik masih bekerja mengumpulkan fakta dan keterangan, agar penyebab Zulfikar meninggal, terang.
"Masih dalam proses pendalaman. Tim penyelidik masih bekerja mengumpulkan keterangan dan fakta di lapangan," kata Hangga kepada Kompas.com, Kamis.
Menurut Hangga, penyidik belum dapat menyimpulkan ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut.
Seluruh temuan di lokasi kejadian masih dianalisis bersamaan dengan hasil pemeriksaan medis.
"Belum ada kesimpulan mengarah ke pembunuhan. Nanti perkembangan lebih lanjut akan disampaikan oleh Kasat Reskrim," pungkas dia.
Tangis keluarga pun pecah mengiringi prosesi pemakaman.
Ibu almarhum bersama kakak-kakaknya tak kuasa menahan kesedihan. Mereka tampak menangis sambil memeluk erat foto Muhammad Zulfikar Drakel untuk terakhir kalinya.
Di sekitar liang lahat, puluhan kerabat, sahabat, rekan sejawat hingga warga yang mengenal almarhum ikut mengiringi kepergian dokter muda tersebut. Diperkirakan lebih dari 100 orang hadir memberikan penghormatan terakhir.
Suasana hening sesekali berubah menjadi isak tangis ketika jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat.
Sejumlah sahabat terlihat saling menguatkan satu sama lain, sementara keluarga terus memanjatkan doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Sehari sebelumnya, kakak kandung almarhum, Marliana Drake, sempat mengungkapkan kesedihannya melalui unggahan di media sosial Instagram. "Kakak ikhlas, tapi kakak rindu," tulis Marliana, menggambarkan rasa kehilangan mendalam atas kepergian sang adik.
Kronologi penemuan dokter Zulfikar, yang meninggal dunia di kamar mandi Guest House Sakinah, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro, Lampung, Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Muhammad Zulfikar Drake merupakan dokter muda asal Kotim yang sedang menjalani program internship di RS Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.
Korban ditemukan setelah rekan kerjanya merasa curiga karena telepon dan pesan WhatsApp yang dikirim tidak kunjung mendapat respons.
Penjaga Guest House Sakinah, Hendri, mengatakan rekan korban datang ke penginapan untuk memastikan kondisi Zulfikar setelah beberapa kali gagal menghubunginya.
"Sebelumnya ada kawannya datang bertanya, kok ditelepon tidak diangkat, di WhatsApp tidak dibalas. Akhirnya kami cek ke atas. Kami ketuk-ketuk pintu kamarnya, tidak ada panggilan atau jawaban sama sekali," ujar Hendri, Rabu (22/7/2026).
Karena tidak ada respons dari dalam kamar, Hendri bersama rekan korban memutuskan membuka pintu kamar penginapan. Saat masuk, mereka tidak menemukan Zulfikar berada di atas tempat tidur.
"Begitu dibuka pintu, di tempat tidur tidak ada. Setelah kami lihat ke kamar mandi, korban sudah ditemukan tergeletak di sana," kata Hendri.
Usai menemukan korban, Hendri segera melaporkan kejadian tersebut kepada pengurus RT dan RW setempat. Informasi itu kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian.
Tak lama berselang, aparat kepolisian bersama Tim Inafis Polres Metro tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi di sekitar kamar penginapan.
Hendri mengungkapkan, Zulfikar telah cukup lama tinggal di Guest House Sakinah. Menurutnya, korban berasal dari Kalimantan dan bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.
"Sudah lama menginap di sini, sebelum bulan puasa memang sudah tinggal di sini. Beliau dokter yang bertugas di Rumah Sakit Sukadana, Lampung Timur," ujarnya.
Setelah proses olah TKP selesai dilakukan, jenazah korban dievakuasi sekitar pukul 21.00 WIB ke RSUD Ahmad Yani Kota Metro untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolres Metro AKBP Hangga Utama Darmawan mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
"Itu masih dalam proses pendalaman. Untuk hasilnya masih terus didalami oleh tim penyelidik," ujar Hangga saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
Polisi menyatakan belum menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban dan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI buka suara meninggalnya peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), dr. Muhammad Zulfikar Drakel, di RSUD KH Ahmad Hanafiah, Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.
Menurut Kemenkes, hal tersebut tidak berkaitan dengan dugaan perundungan (bullying) maupun kelebihan beban kerja.
Penegasan ini disampaikan setelah Kemenkes menyelesaikan investigasi bersama sejumlah lembaga untuk menelusuri penyebab meninggalnya dokter muda tersebut.
Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian publik karena muncul berbagai spekulasi di media sosial yang mengaitkan kematian peserta internsip dengan tekanan selama menjalani program pendidikan.
Namun, hasil investigasi menyimpulkan tidak ditemukan hubungan antara penyelenggaraan Program Internsip Dokter Indonesia dengan penyebab meninggalnya almarhum.
Kementerian Kesehatan menjelaskan investigasi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Inspektorat Jenderal Kemenkes, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Direktorat Jenderal SDM Kesehatan, Kolegium Bedah, Komite Internsip Kedokteran Pusat dan Provinsi, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), hingga Federasi Serikat Pekerja Medis dan Kesehatan Indonesia.
Selain itu, Kemenkes juga bekerja sama dengan Kepolisian setempat untuk menelusuri seluruh kronologi kejadian.
Berdasarkan hasil penelusuran, almarhum meninggal akibat penyakit yang bersifat sensitif.
Atas permintaan keluarga, Kementerian Kesehatan tidak mengungkap diagnosis penyakit tersebut kepada publik guna menjaga kerahasiaan data medis almarhum.
Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Yuli Farianti, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya dr. Muhammad Zulfikar Drakel.
Ia mengatakan sejak menerima laporan, Kemenkes langsung membentuk tim investigasi untuk memastikan seluruh informasi yang beredar dapat diverifikasi secara objektif.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya dr. Muhammad Zulfikar Drakel. Sejak menerima laporan kejadian, Kementerian Kesehatan segera membentuk tim gabungan untuk melakukan investigasi secara menyeluruh. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya kelalaian dalam penyelenggaraan Program Internsip yang berkaitan dengan meninggalnya almarhum," ujar dr. Yuli dalam konferensi pers daring, Kamis (23/7/2026).
Hasil investigasi juga mengungkap kondisi kerja almarhum selama mengikuti Program Internsip.
Saat kejadian, dr. Zulfikar sedang menjalani stase bangsal dengan tugas mengikuti visite bersama Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Jam kerja berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 14.00 dan bahkan dapat selesai lebih awal apabila kegiatan visite telah berakhir.
Dengan pola tersebut, total jam kerja peserta internsip berada di bawah batas maksimal 40 jam kerja per minggu.
Seluruh praktik klinis yang dijalani peserta juga dilakukan di bawah pendampingan dokter pembimbing dan DPJP.
Selain menelusuri jam kerja, tim investigasi juga memeriksa dugaan adanya tekanan selama menjalani program.
Hasilnya, tidak ditemukan adanya kelebihan beban kerja yang berpotensi menyebabkan kelelahan.
Tim juga tidak menemukan indikasi perundungan, intimidasi maupun hambatan ketika almarhum membutuhkan izin menjalani pengobatan.
"Berdasarkan hasil investigasi, peserta menjalankan jam kerja sesuai ketentuan yang berlaku. Kami juga tidak menemukan indikasi kelebihan beban kerja, perundungan, intimidasi, maupun kendala dalam pemberian izin berobat. Selama menjalani pengobatan, almarhum memperoleh izin beristirahat dan berobat sesuai kebutuhan," jelas dr. Yuli.
Dengan demikian, Kemenkes menegaskan tidak ada hubungan antara penyebab meninggalnya dr. Zulfikar dengan pelaksanaan Program Internsip Dokter Indonesia.
Kementerian Kesehatan juga mengungkapkan telah melakukan penguatan tata kelola Program Internsip melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/594/2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Internsip Dokter dan Dokter Gigi Indonesia yang diterbitkan pada 8 Juni 2026.
Regulasi tersebut mengatur pembatasan jam kerja maksimal 40 jam per minggu, pengaturan waktu istirahat dan cuti, ketentuan pemberian izin, hingga penguatan sistem pendampingan praktik dan perlindungan bagi peserta.
Menurut Kemenkes, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar dan bekerja yang lebih aman bagi seluruh peserta Program Internsip.
"Kementerian Kesehatan berkomitmen memastikan setiap kejadian ditindaklanjuti secara objektif, transparan, dan akuntabel. Evaluasi dan penguatan tata kelola Program Internsip akan terus dilakukan agar seluruh peserta memperoleh lingkungan belajar dan bekerja yang aman, sehat, dan terlindungi," tutup dr. Yuli.
(TribunLampung.co.id/Tribunnews.com/TribunSumsel.com/Tribunkalteng.com/Bangkapos.com)