SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemandangan berbeda tersaji di tepian Sungai Musi kawasan Kampung Kapitan dan Plaza 7 Ulu, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Minggu (26/7/2026).
Momen surutnya debit air Sungai Musi yang memunculkan daratan pasir landai hingga lima meter ke tengah sungai, kini bersih dari tumpukan sampah rumah tangga.
Pemandangan asri ini merupakan buah dari aksi gotong royong ratusan relawan lintas generasi dalam memperingati Hari Sungai Nasional yang jatuh pada 27 Juli.
Pemandangan kawasan yang bersih tersebut turut mencuri perhatian warga yang beraktivitas di Car Free Day (CFD) Jembatan Ampera, Minggu (26/7/2026) pagi.
"Nah sudah bersih dari sampah sepertinya di Kampung Kapitan 7 Ulu itu ya, cantik ya, bisa juga kalau gitu kota Palembang ada pantainya," komentar warga setelah melihat Kampung Kapitan dan Plaza 7 Ulu dari atas Jembatan Ampera.
Aksi lingkungan ini digagas oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Sumsel dan Jejak Rasa, berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang, Kecamatan Seberang Ulu I, Dinas Pariwisata Palembang, serta 400 relawan berbagai komunitas pegiat lingkungan.
Salah satu inisiator kegiatan sekaligus Owner Jejak Rasa, Rere Gita, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Pihaknya sengaja membatasi jumlah peserta demi efisiensi dan efektivitas pergerakan di lapangan.
"Awalnya pendaftar mencapai ribuan, tetapi kami batasi menjadi 400 relawan agar aksinya lebih fokus dan maksimal, bukan sekadar datang untuk berfoto. Hasilnya, sedikitnya dua ton sampah basah berhasil diangkut menggunakan enam armada DLH ke tempat pengolahan," ujar Rere kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di sela aksinya.
Rere menambahkan, aksi ini dipicu rasa prihatin atas kritik wisatawan terkait kondisi kebersihan di pusat kota. Ia menilai penumpukan sampah di aliran sungai berdampak serius pada ekosistem hayati, termasuk berkurangnya populasi ikan lokal.
Kesadaran serupa disampaikan Muslih Imami (21), mahasiswa asal Lampung yang sengaja bergabung dalam aksi tersebut saat berlibur di Palembang. Bersama kelompoknya, Muslih berhasil mengumpulkan sekitar empat karung sampah yang mayoritas berupa sampah rumah tangga dan popok sekali pakai.
"Sungai Musi ini ikon kebanggaan dan tujuan utama wisata. Malu rasanya kalau ada komentar miring dari luar tetapi kita sendiri tidak bergerak. Harapan kami, fasilitas tempat sampah diperbanyak dan sosialisasi kepada warga pinggiran sungai terus digencarkan," kata Muslih.
Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Dr H Akhmad Mustain SSTP, MSi, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif dan kepedulian para generasi muda, mulai dari Generasi Alfa hingga Gen Z, yang turun langsung membersihkan tepian sungai.
Mustain membeberkan, potensi timbulan sampah di Kota Palembang mencapai 0,7 kilogram per jiwa per hari. Dengan estimasi penduduk sekitar 1,8 juta jiwa, Kota Palembang menghasilkan sekitar 1,260 ton sampah sehari. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 ton di antaranya berpotensi mengalir dan menjadi timbulan sampah di Sungai Musi.
"Kota Palembang tidak memiliki tambang atau minyak. Kekuatan kita ada pada sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata dengan Sungai Musi sebagai daya tarik utama. Kiblat pembangunan harus kembali menghadap ke sungai," tegas bapak yang hobi olahraga berkuda ini.
Pemerintah Kota Palembang terus berupaya memperkuat kolaborasi hingga tingkat kecamatan dan kelurahan, mengoptimalkan peran kelompok pengangkut sampah warga, serta menegakkan sanksi tegas bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan. (syahrul)