TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Turki mengecam tewasnya empat warga Palestina di wilayah pendudukan Palestina pada Jumat dan menyatakan insiden tersebut merupakan dampak dari kebijakan yang disebut sebagai genosida Israel serta meningkatnya aksi kekerasan pemukim ilegal terhadap warga Palestina.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk meningkatnya aksi kekerasan yang dilakukan pemukim ilegal di wilayah pendudukan Palestina.
Pemerintah Turki menilai pembunuhan terhadap empat warga Palestina dilakukan oleh pemukim yang didorong oleh kebijakan pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Kami mengecam keras meningkatnya teror pemukim ilegal di wilayah pendudukan Palestina," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki, mengutip Anadolu Agency, Minggu (26/7/2026).
Turkiye juga menyerukan kepada masyarakat internasional agar memastikan pelaku kekerasan terhadap warga Palestina beserta pihak-pihak yang mendukung mereka dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum internasional.
Baca juga: Israel Mulai Gali Parit untuk Proyek Penjara Dikelilingi Buaya Buat Tahanan Palestina di Negev
Ankara menilai impunitas terhadap aksi tersebut hanya akan memperburuk situasi keamanan di wilayah pendudukan.
Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memerintahkan operasi militer berskala luas di sejumlah desa Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Langkah itu diambil menyusul serangan penembakan di dekat permukiman ilegal Havat Gilad.
Berdasarkan laporan koresponden Anadolu, pemukim Israel kemudian menyerang desa Sarra dan Urif di Kegubernuran Nablus.
Sejumlah rumah dan harta benda milik warga Palestina dilaporkan dibakar, sementara penduduk setempat berupaya menghalau serangan dengan melempar batu.
Secara tidak langsung, pemerintah Turki menyatakan bahwa meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina merupakan konsekuensi dari kebijakan Israel di wilayah pendudukan dan mendesak komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan impunitas terhadap para pelaku.
Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak Israel melancarkan ofensif militer ke Jalur Gaza pada Oktober 2023.
Berdasarkan data resmi Palestina, sedikitnya 1.182 warga Palestina dilaporkan tewas, ribuan lainnya terluka, dan hampir 24.000 orang ditangkap dalam operasi militer Israel maupun serangan yang dilakukan para pemukim selama periode tersebut.
(*)