Kisah Penjaga Angkringan Parimono Jombang, Rp35 Ribu Semalam untuk Hidup 
Ndaru Wijayanto July 26, 2026 06:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Di balik ramainya kawasan Angkringan Parimono, Kecamatan Jombang, Jawa Timur, tersimpan kisah perjuangan para pekerja yang bertahan hidup dengan penghasilan minim dan stigma negatif.

Menjelang senja, saat lampu-lampu di kawasan Taman Parimono, Kecamatan Jombang, mulai menyala dan aroma kopi perlahan memenuhi udara, Puja Nova Nurmaulidya menggenggam erat gerobak angkringan yang akan ia dorong menuju tempat berjualan.

Jaraknya memang hanya sekitar 20 meter. Namun bagi perempuan 21 tahun asal Kecamatan Perak, Jombang itu, gerobak tersebut menjadi simbol perjuangan yang ia lakukan hampir setiap malam selama setahun terakhir.

Pukul 18.00 WIB menjadi awal rutinitasnya. Gerobak didorong ke lokasi, gelas ditata, minuman disiapkan, pelanggan dilayani, peralatan dicuci, hingga lapak kembali dirapikan saat dini hari. Semua pekerjaan itu diselesaikannya sendiri.

Sekitar pukul 01.00 WIB, ketika sebagian besar orang telah terlelap, Puja baru benar-benar mengakhiri pekerjaannya.

Sebagai imbalan, ia membawa pulang Rp35 ribu.

Nominal itu bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam sebulan, penghasilannya tidak sampai Rp1 juta.

Dari uang itu pula ia harus membayar uang kos, membeli makan, memenuhi kebutuhan pribadi, bahkan sesekali membantu ibunya yang bekerja sebagai buruh tani.

Baca juga: Kustianingsih Penjual Angkringan Syok Rumahnya Dikelilingi Ular Kobra, Dulu Dibuat Produksi Kerupuk

"Kalau cukup ya enggak. Tapi cari kerja sekarang susah. Yang penting halal," ucapnya dalam keterangan yang ditulis Tribunjatim.com, Minggu (26/7/2026). 

Ayahnya telah lama meninggal dunia. Sejak itu, Puja memilih berdiri di atas kakinya sendiri.

ANGKRINGAN - Potret penjaga warung angkringan di sekitar kawasan Taman Parimono, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (25/7/2026). Tetap bertahan meski bekerja di balik Stigma buruk
ANGKRINGAN - Potret penjaga warung angkringan di sekitar kawasan Taman Parimono, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (25/7/2026). Tetap bertahan meski bekerja di balik Stigma buruk (Tribun Jatim Network/Anggit Puji Widodo)

Baca juga: Viral Balap Lari Liar di Maospati Magetan, Pemilik Angkringan Dipanggil Polisi

Ia tak ingin ibunya yang tinggal di rumah terus memikirkan biaya hidupnya.

Karena itulah ia rela menekan pengeluaran sekecil mungkin. Ada hari-hari ketika ia hanya makan sekali. Jika masih lapar, mi instan menjadi pilihan agar perut tetap terisi.

Baca juga: Tiga Pemuda Terlantar di Bondowoso usai Ditipu Janji Usaha Angkringan

"Yang penting masih bisa hidup," katanya. 

Ia sengaja menyewa kamar kos di Kecamatan Diwek, Jombang agar perjalanan pulang setelah bekerja tidak terlalu jauh. Setiap dua pekan sekali, ia pulang menemui ibunya.

Namun di hadapan sang ibu, Puja memilih menyimpan sendiri beratnya kehidupan yang dijalani.

"Ibu cuma tahu saya kerja. Yang penting beliau tahu saya sehat dan enggak pernah minta uang," ungkapnya.

Belakangan, angkringan di kawasan Parimono jadi sorotan publik.

Baca juga: Belasan Angkringan di SLG Kediri Ditertibkan, 4 Pramusaji Ternyata Masih di Bawah Umur

Berbagai komentar bermunculan di media sosial. Tidak sedikit yang memandang sebelah mata para pekerja di sana.

Komentar-komentar itu sempat membuat kakaknya meminta Puja berhenti bekerja. Namun perempuan muda itu menolak.

Baginya, bergantung kepada orang lain bukanlah jalan yang ingin ditempuh.

"Kalau saya berhenti, terus hidup dari siapa? Sampai kapan harus bergantung sama saudara?" katanya.

Menurut Puja, banyak pekerja angkringan memiliki kisah yang tak pernah diketahui orang.

Ada yang berasal dari keluarga tidak utuh, ada yang hanya lulusan SD atau SMP sehingga kesulitan memperoleh pekerjaan lain.

"Orang cuma lihat luarnya saja. Padahal kami cuma cari nafkah," ujarnya.

Cerita serupa datang dari Anggun Gisella Gitafreya, atau Gita. Usianya baru 20 tahun.

Perempuan asal Kecamatan Gudo, Jombang itu juga menghabiskan malam-malamnya menjaga angkringan.

Latar belakang hidupnya tak kalah berat. Ia tidak sempat menamatkan sekolah karena persoalan keluarga.

Kini ia tinggal bersama sang nenek setelah berpisah dengan kedua orang tuanya.

Sebelum bekerja di Jombang, Gita pernah menjadi penjaga warung kopi di Surabaya. Kini ia merasa lebih nyaman bekerja di Parimono.

"Di sini orang datang ya ngopi, ngobrol, terus pulang," ungkapnya.

Penghasilannya memang sedikit lebih besar dibanding Puja, berkisar Rp45 ribu hingga Rp60 ribu setiap malam bergantung omzet penjualan.

Namun baginya, bukan besarnya upah yang membuatnya bertahan.

Kalimat sederhana dari sang nenek menjadi pegangan hidupnya.

"Yang penting halal. Tidak nyuri," celetuknya. 

Ucapan itu selalu diingat setiap kali ia mulai bekerja.

Gita mengaku sedih ketika pekerja angkringan kerap menjadi sasaran penilaian negatif.

Padahal, menurutnya, sebagian besar dari mereka hanyalah anak-anak muda yang sedang berusaha bertahan di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

"Kadang sedih. Saya di sini cuma kerja, tapi jadi omongan orang," ujarnya.

Di balik riuhnya gelak tawa pelanggan dan hangatnya secangkir kopi yang tersaji setiap malam, ada kisah tentang dua perempuan muda yang memilih tetap berdiri meski hidup tak pernah benar-benar mudah.

Mereka mungkin hanya menerima puluhan ribu rupiah dalam semalam. Namun bagi Puja dan Gita, upah itu bukan sekadar angka.

Itu adalah harga dari sebuah kemandirian, keteguhan untuk tidak menyerah, dan keyakinan bahwa rezeki yang diperoleh dengan cara halal selalu layak untuk diperjuangkan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.