TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mengambil sejumlah langkah antisipatif menghadapi potensi ancaman kemarau panjang akibat fenomena El-Nino kategori kuat yang diprediksi melanda wilayah DI Yogyakarta pada Juli hingga Desember 2026.
Gerak cepat ini dilakukan untuk meminimalisir kerugian di sektor pertanian maupun perikanan di wilayah Bumi Sembada akibat potensi risiko gagal panen.
"Kami sudah mengeluarkan surat edaran terkait antisipasi dampak kekeringan tertanggal 31 Maret 2026 yang disampaikan hingga ke tingkat kalurahan, untuk bisa diinformasikan kepada petani," ujar Kepala DP3 Sleman, Liem Astuti, Minggu (26/7/2026).
Dalam Surat Edaran Nomor 500.6/781 tersebut, pihaknya memfokuskan sejumlah strategi utama bagi para pelaku sektor pertanian, di antaranya pengaturan pola tanam dengan cara menyesuaikan jadwal dan tata kelola air agar lebih efisien di tengah keterbatasan pasokan irigasi.
Ia juga mendorong petani untuk memanfaatkan benih unggul tahan kering, seperti padi varietas Inpago 4-13, Inpari 38-46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, hingga Cakrabuana.
Selain itu, kata Liem, pihaknya juga masif melakukan sosialisasi yang melibatkan penyuluh pertanian dan perikanan, menggandeng BMKG dalam pertemuan langsung dengan kelompok tani, serta memanfaatkan media sosial guna mengantisipasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Tidak hanya sektor tanaman pangan, antisipasi juga disiapkan bagi para pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman, mengingat potensi krisis air bersih dan penurunan debit perairan.
Langkah mitigasi untuk sektor perikanan meliputi mengurangi jumlah tebar kepadatan kolam.Memprioritaskan pemeliharaan komoditas yang toleran terhadap kadar oksigen rendah, seperti ikan lele dan patin.
Mengaplikasikan teknologi pendukung seperti penggunaan kincir air dan sistem bioflok untuk mengoptimalkan hasil budidaya. Melalui langkah-langkah ini, Liem optimistis para petani, peternak, serta pembudidaya ikan di Sleman dapat merencanakan usaha tani dengan tepat dan tetap produktif di tengah keterbatasan ketersediaan air.
"InsyaAllah petani dan pembudidaya ikan Sleman sudah bisa memilih komoditas apa yang tepat untuk diusahakan dalam kondisi keterbatasan ketersediaan air ini," katanya.
Sebagimana diketahui, Kepala Stasiun Klimatologi D.I Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengungkapkan bahwa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini berada dalam periode menuju puncak musim kemarau. Kondisi ini diperparah oleh potensi fenomena El Nino kategori kuat yang diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026.
Berdasarkan analisis data dinamika atmosfer dan laut terkini, angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator saat ini didominasi oleh Monsun Australia yang aktif. Selain itu, Indeks ENSO terpantau moderat dengan peluang terjadinya fenomena El Nino kuat dari bulan Agustus hingga Desember 2026.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada curah hujan di wilayah Yogyakarta yang pada periode dasarian III Juli hingga Agustus 2026 diprediksi berada pada kategori rendah, yakni berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Secara keseluruhan, curah hujan untuk bulan Agustus hingga Oktober 2026 juga diprediksi rendah (0–20 mm per bulan) dengan sifat hujan mayoritas Bawah Normal.
Musim kemarau tahun 2026 di DI Yogyakarta diprediksi memiliki sifat hujan Bawah Normal atau lebih kering dari rata-rata klimatologisnya, dengan puncaknya terjadi secara serentak di seluruh Zona Musim (ZOM) pada Agustus 2026. Durasi kemarau diperkirakan berlangsung antara 16 hingga 21 dasarian dan baru akan berakhir pada dasarian pertama hingga kedua November 2026.
Menghadapi kondisi kemarau lebih kering ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih. Hal ini berkaitan dengan aktifitas El Nino kategori kuat berpeluang terjadi pada bulan Agustus hingga Desember 2026 yang dampaknya dapat mengurangi curah hujan dan menambah durasi periode musim kemarau di wilayah Bumi Mataram.
"(Karena itu) diperlukan tindakan antisipasif dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," imbau dia.(*)