Dari Riak Air hingga Harapan yang Tumbuh, Kisah Telaga Hijau yang Viral di Kepahiang
Ricky Jenihansen July 26, 2026 06:54 PM

Telaga Hijau Kepahiang bukan sekadar destinasi yang sempat viral, tetapi juga cerita tentang warga yang merawat keindahan menjadi harapan.

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG – Di tepi Jalan Lintas Ring Road Kepahiang, laju kendaraan sesekali melambat.

Bukan karena kemacetan, melainkan rasa penasaran.

Di balik pagar bambu sederhana dan deretan bunga marigold berwarna kuning keemasan yang bermekaran, terbentang sebuah telaga berair hijau yang tenang.

Riaknya kecil, nyaris tak terdengar, hanya sesekali bergoyang ketika angin menyentuh permukaannya.

Di sanalah Telaga Hijau berada, sebuah sudut alam di Desa Karang Anyar, Kecamatan Kepahiang, yang belakangan menjadi buah bibir setelah viral di media sosial.

Tidak ada gerbang megah ataupun loket tiket seperti destinasi wisata pada umumnya.

Sebuah papan bertuliskan "Wisata Telaga Hijau" menyambut setiap orang yang datang, berdiri sederhana di antara pepohonan yang menaungi kawasan itu.

Di bawah rindangnya pepohonan, beberapa gazebo beratap rumbia menjadi tempat pengunjung melepas lelah.

Jalan setapak dari tanah menghubungkan setiap sudut telaga, sementara bunga-bunga yang ditanam di sepanjang tepian menghadirkan semburat warna di tengah dominasi hijau alam.

Sesekali terdengar tawa anak-anak yang berlarian, berpadu dengan suara kamera ponsel yang silih berganti mengabadikan momen.

Di salah satu sudut telaga, sebuah dermaga kecil dari bambu memanjang ke arah air.

Beberapa pengunjung bergantian berdiri di ujungnya, mencari sudut terbaik untuk berfoto dengan latar air berwarna hijau yang menjadi ciri khas tempat itu.

Dari kejauhan, permukaan telaga memantulkan bayangan pepohonan yang mengelilinginya.

Airnya tampak tenang, seolah menyimpan cerita panjang yang baru belakangan diketahui banyak orang.

Padahal, Telaga Hijau bukanlah tempat baru.

telag ahijau 123121412
TELAGA HIJAU - Pengunjung menikmati suasana Wisata Telaga Hijau di Desa Karang Anyar, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, dengan berfoto di dermaga bambu yang menjadi salah satu spot favorit di kawasan tersebut.

Pengelolaan Telaga Hijau

Menurut pengelola, Warni (50), telaga itu sudah lama dikenal masyarakat sekitar.

Namun, selama bertahun-tahun keberadaannya hanya menjadi tempat singgah warga setempat.

Perubahan mulai terjadi ketika foto dan video Telaga Hijau ramai beredar di media sosial.

"Wisata telaga ini sebenarnya sudah lama ada. Baru sekitar empat bulan ini, sejak Maret 2026, mulai dikelola setelah sempat viral," ujar Warni saat ditemui, Minggu (26/7/2026).

Sejak saat itu, kelompok tani di Desa Karang Anyar bergotong royong menata kawasan tersebut.

Gazebo mulai dibangun.

Bunga-bunga ditanam di sepanjang tepian.

Spot foto dibuat agar pengunjung dapat menikmati pemandangan dari berbagai sudut.

Semua dilakukan secara swadaya dengan harapan Telaga Hijau dapat berkembang menjadi destinasi wisata desa yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Menariknya, hingga kini tidak ada tarif tiket masuk yang ditetapkan.

Pengunjung hanya diminta membayar biaya penitipan kendaraan, sedangkan untuk memasuki kawasan wisata disediakan kotak donasi dengan sistem sukarela.

"Kalau datang ke sini pembayarannya berupa uang penitipan kendaraan dan uang masuk secara sukarela dari pengunjung," katanya.

Jumlah Pengunjung

Viral memang membawa banyak orang datang.

Namun, seperti banyak destinasi yang sempat ramai di media sosial, euforia itu perlahan mereda.

Warni mengatakan, saat ini rata-rata pengunjung sekitar 50 orang dalam sepekan.

Angka itu jauh menurun dibandingkan ketika Telaga Hijau sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

"Sekarang pengunjung rata-rata sekitar 50 orang dalam seminggu. Memang sedang sepi dibandingkan saat viral dua bulan lalu yang bisa mencapai ratusan orang dalam seminggu," jelasnya.

Meski demikian, semangat untuk membenahi kawasan wisata itu tidak ikut surut.

"Saat ini kami sedang berproses mengembangkan wisata ini lagi. Harapan kami pengunjung dapat membantu menunjang pengembangan wisata ini," ungkap Warni.

Pengalaman Pengunjung

Harapan itu juga dirasakan para pengunjung.

Yesi (35), warga Desa Gunung Agung, Kecamatan Bermani Ilir, mengaku mengetahui keberadaan Telaga Hijau dari Facebook ketika destinasi tersebut sedang viral.

Rasa penasaran membawanya datang bersama keluarga.

Kini, kunjungan itu bukan lagi yang pertama.

"Ini sudah yang ketiga kalinya ke sini. Melihat langsung lebih indah. Sebelumnya belum ada hiasan bunga ataupun pondok-pondok, sekarang lebih maju, lebih keren dan tertata rapi. Sudah banyak pondok-pondok dan spot foto baru," ujarnya.

Baginya, daya tarik Telaga Hijau bukan hanya terletak pada warna airnya yang unik atau suasana alam yang masih asri.

Sistem pembayaran sukarela justru menjadi pengalaman berbeda yang jarang ditemui di tempat wisata lain.

"Masuk ke sini bayarnya sukarela. Ke depan kami mungkin akan sering ke sini mengajak keluarga maupun teman-teman karena semakin indah dan tertata," tambah Yesi.

Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat membantu pengembangan kawasan wisata tersebut melalui penambahan fasilitas dan sarana bermain.

"Kami berharap semoga pihak-pihak terkait dapat membantu mengembangkan wisata ini dengan tambahan fasilitas dan sarana bermain yang lebih banyak," harapnya.

Harapan untuk Telaga Hijau

Riak-riak kecil di permukaan Telaga Hijau mungkin akan terus menghilang setiap kali angin berlalu.

Namun, di balik air berwarna hijau yang sempat viral itu, ada harapan yang terus dijaga.

Harapan agar telaga yang dahulu hanya dikenal warga sekitar ini tak sekadar menjadi tempat singgah untuk berfoto, melainkan tumbuh menjadi destinasi wisata desa yang mampu menghidupkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Sebab, terkadang sebuah tempat tidak hanya menyimpan keindahan alam, tetapi juga cerita tentang orang-orang yang memilih merawatnya, meski riuh media sosial perlahan telah berlalu.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.