Tangis Anak saat Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok Warga Diduga Curi Ayam, Kades Pilu
Arie Noer Rachmawati July 26, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Tangis seorang anak perempuan yang pecah di samping jenazah sang ayah menyita perhatian publik setelah videonya viral di media sosial.

Momen mengharukan itu terjadi saat jenazah korban hendak diberangkatkan untuk prosesi pemakaman.

Korban diketahui merupakan warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Ia meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa usai dipergoki dalam dugaan kasus pencurian ayam.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, pada Jumat (24/7/2026) dini hari.

Dugaan aksi main hakim sendiri yang berujung hilangnya nyawa seseorang kini menjadi sorotan publik.

Kepala Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengaku prihatin atas kejadian tersebut.

Menurutnya, apa pun kesalahan yang diduga dilakukan seseorang, penyelesaiannya harus melalui jalur hukum, bukan dengan tindakan kekerasan.

Ia menilai masyarakat seharusnya menyerahkan terduga pelaku kepada aparat kepolisian agar diproses sesuai aturan yang berlaku.

"Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara hanya mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," kata Sutama, dihubungi Minggu (26/7/2026), dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Aksi Pencurian Kompor dan Tabung Gas di Warung Kediri Digagalkan Warga, Pelaku Berpura-pura Kencing

Baca juga: Pedagang Ubi Cilembu di Mojokerto Gagalkan Pencurian Motor, Pelaku Awalnya Pura-pura Ngamen

Diduga Curi Ayam Aduan Warga

Berdasarkan informasi kepolisian, pria tersebut diduga tepergok mencuri seekor ayam aduan milik warga.

Kemarahan massa disebut dipicu keresahan masyarakat yang selama ini kerap kehilangan ternak ayam.

Meski memahami keresahan warga, Sutama menegaskan tindakan kekerasan hingga menyebabkan kematian tidak dapat dibenarkan.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum sehingga setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

"Kalau semua orang mempunyai pemikiran seperti itu, tentu akan banyak orang meninggal hanya karena persoalan pencurian. Negara kita adalah negara hukum," ujarnya.

Sutama mengatakan, apabila masyarakat memergoki seseorang diduga melakukan pencurian, yang bersangkutan cukup diamankan dan diserahkan kepada polisi.

Menurut dia, tindakan tersebut jauh lebih tepat dibandingkan melakukan pengeroyokan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Peristiwa ini juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Baca juga: Wisatawan Asal Bangkalan Madura Jadi Korban Pencurian di Pacet, Pelaku Babak Belur Dihakimi Massa

Kesedihan Keluarga

Sutama mengaku terpukul saat menjemput jenazah korban dan menyaksikan langsung kesedihan anak-anak yang kehilangan sosok ayah.

"Sedih sekali melihat anak-anaknya menangis," kata dia.

Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak.

Anak pertama telah berkeluarga, sementara anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA, dan anak bungsunya masih bersekolah di kelas 1 SD.

Di tengah duka tersebut, Sutama menyebut pihak keluarga memilih menerima peristiwa itu sebagai musibah.

Dia mengatakan, pihak keluarga tidak berencana menempuh langkah hukum terkait pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Berdasarkan informasi polisi, aksi massa tersebut dipicu kemarahan warga yang resah karena dalam beberapa waktu terakhir kerap terjadi kasus kehilangan ayam aduan di lingkungan setempat.

Selain mengeroyok terduga pelaku hingga meninggal dunia, massa juga membakar sepeda motor yang digunakan korban.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.