SURYA.CO.ID SURABAYA - Festival Riset dan Inovasi menjadi agenda utama dalam rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya.
Pada kesempatan itu, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya memperkenalkan enam inovasi berbasis riset sebagai upaya memperkuat fungsi Kebun Raya Mangrove sebagai pusat penelitian, edukasi, dan hilirisasi inovasi.
Enam inovasi tersebut meliputi Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan (EBT) berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step. Selain itu, BRIDA juga memperkenalkan SIFO Fishery, sistem perikanan pintar hasil kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan Festival Riset dan Inovasi menjadi pembuka rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove. Sementara pada Minggu (27/7/2026), kegiatan akan dilanjutkan dengan agenda Mangrove Eco Run.
"Rangkaian HUT Kebun Raya Mangrove berlangsung selama dua hari. Setelah kita menggelar Festival Riset dan Inovasi pada Sabtu, kemudian dilanjutkan Minggu kegiatan Mangrove Eco run," kata Agus.
Baca juga: KEK JIIPE Gresik Tanam Seribu Mangrove dan Perkuat Tata Kelola Lingkungan Berbasis Data
Festival tersebut diikuti sekitar 70 peserta dari perguruan tinggi di Surabaya, sekolah, hingga pegiat lingkungan yang memamerkan berbagai hasil riset dan inovasi ramah lingkungan. Seluruh karya yang dipamerkan akan dinilai untuk menentukan inovasi terbaik.
Selain pameran, BRIDA menggelar talkshow yang menghadirkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Surabaya, perwakilan Center for Innovation and Entrepreneurship Research (CIER), serta Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN.
Menurut Agus, forum tersebut bertujuan membangun kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan dunia usaha agar hasil riset dapat dihilirisasikan menjadi produk yang bermanfaat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.
"Konsep yang kita bangun adalah mengintegrasikan riset, inovasi, sampai hilirisasi. Namun semuanya harus berada dalam payung ekologi, sehingga pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan," ujarnya.
Agus menjelaskan, berbagai inovasi yang diluncurkan tidak disiapkan untuk produksi massal, melainkan sebagai media edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang berkunjung ke Kebun Raya Mangrove.
Baca juga: Tanam Mangrove Bersama, Risma : KRM Jadi Natural Seawall Surabaya dari Ancaman Bencana
"Peralatan itu bukan untuk produksi skala besar, tetapi sebagai media pembelajaran. Jadi anak-anak yang datang ke Kebun Raya Mangrove tidak hanya belajar tentang mangrove, tetapi juga mengenal energi baru terbarukan," katanya.
Memasuki tahun keempat operasional, BRIDA menargetkan peningkatan kapasitas layanan wisata sekaligus memperkuat fungsi riset. Salah satunya melalui penambahan jalur trekking hingga mencapai sekitar 10 kilometer.
Selain itu, koleksi mangrove ditargetkan bertambah dari sekitar 70 spesies menjadi 100 spesies melalui ekspedisi pengumpulan bibit dari berbagai daerah. Dalam rangkaian peringatan HUT ke-3 tersebut juga dilakukan penebaran benih ikan dan penanaman bibit mangrove.
"Kami ingin menyediakan semakin banyak spesies mangrove karena Kebun Raya Mangrove ini memang menjadi laboratorium riset. Semakin banyak jenis yang tersedia, semakin besar peluang penelitian yang bisa dilakukan," ujar Agus.
Staf Ahli Wali Kota Bidang Kemasyarakatan dan SDM Bisukma Kurniawati menegaskan Kebun Raya Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan konservasi, penelitian, pendidikan, inovasi, hingga kebijakan publik.
"Hari ini kita merayakan bertambahnya usia Kebun Raya Mangrove. Yang kita rayakan bukan sekadar bertambahnya umur atau koleksi tanaman, tetapi bertambahnya harapan bahwa Indonesia masih memiliki kesempatan memilih masa depan ekologinya," ujar perempuan yang akrab disapa dr Betty tersebut mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Pemerintah Kota Surabaya berharap Kebun Raya Mangrove menjadi simbol pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), R Hendrian, mengapresiasi capaian Kebun Raya Mangrove Surabaya. Menurutnya, kebun raya tersebut telah meraih penghargaan sebagai kebun raya dengan percepatan pembangunan infrastruktur terbaik dan menjadi Kebun Raya Terbaik Kedua di Indonesia saat usianya baru menginjak dua tahun.
Ia menilai keberhasilan itu tidak lepas dari komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam mendukung pengembangan kebun raya. Hendrian berharap keberadaan Kebun Raya Mangrove terus mendapat dukungan karena memiliki lima fungsi utama sesuai Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2023, yakni penelitian, konservasi, pendidikan lingkungan, wisata konservasi, dan layanan ekosistem.
"Kebun Raya Mangrove Surabaya bukan hanya kebanggaan Kota Surabaya atau Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi kebanggaan dunia karena menjadi salah satu kebun raya yang secara khusus mengonservasi mangrove sekaligus berada langsung di kawasan hutan mangrove," ujarnya.