Perjalanan Presiden FIFA Gianni Infantino selama Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan setelah laporan merinci sejauh mana ia menggunakan pesawat pribadi sepanjang turnamen, memicu kritik dari para pegiat iklim yang mempertanyakan apakah hal itu sejalan dengan komitmen lingkungan FIFA sendiri.
Menurut laporan tersebut, Infantino menghadiri 44 dari 104 pertandingan turnamen antara laga pembuka pada 11 Juni dan final antara Spanyol dan Argentina pada 19 Juli. Turnamen yang diperluas itu digelar di 16 kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sehingga menjadi Piala Dunia terbesar dan paling luas secara geografis dalam sejarah.
Infantino mengunjungi setiap kota tuan rumah selama kompetisi, dan kerap menghadiri lebih dari satu pertandingan dalam sehari. Pada beberapa kesempatan di fase grup, ia menyaksikan dua pertandingan di kota yang berbeda, sementara pada hari-hari tertentu dilaporkan ada tiga penerbangan terpisah untuk menyesuaikan jadwalnya.
Perjalanan yang sangat ekstensif itu menarik perhatian karena dampak lingkungan yang melekat pada penerbangan pribadi, terlebih FIFA berulang kali berjanji untuk mengurangi jejak karbonnya.
Data penerbangan menyoroti dampak lingkungan
Menurut data penerbangan, Infantino menempuh sekitar 106.323 kilometer (66.066 mil) selama turnamen dengan jet pribadi Gulfstream G650, yang diperkirakan menghasilkan 1.020,3 ton ekuivalen karbon dioksida (CO₂e). Jarak itu kira-kira setara dengan mengelilingi Bumi hampir tiga kali, berdasarkan keliling planet sekitar 40.075 kilometer.
BBC mencatat bahwa Gulfstream G650ER, pesawat yang diyakini digunakan selama turnamen, memiliki konsumsi bahan bakar rata-rata sekitar 1.817 liter per jam. Dengan menggunakan metodologi konversi gas rumah kaca pemerintah Inggris, penyiar tersebut memperkirakan emisi yang dihasilkan selama fase grup.
Infantino sebelumnya pernah difoto bepergian dengan pesawat eksekutif Qatar Airways, sementara laporan selama Piala Dunia ini menunjukkan bahwa ia kembali menggunakan Gulfstream G650ER.
Turnamen yang diperluas meningkatkan kebutuhan perjalanan
Edisi 2026 menjadi Piala Dunia pertama yang menampilkan 48 tim dan diselenggarakan bersama oleh tiga negara, sehingga secara signifikan menambah kebutuhan perjalanan bagi tim, ofisial, media, dan suporter.
Menurut penilaian lingkungan FIFA sendiri, turnamen ini diproyeksikan menghasilkan sekitar sembilan juta ton emisi ekuivalen karbon dioksida, hampir dua kali lipat rata-rata yang tercatat pada Piala Dunia yang digelar antara 2010 dan 2022. Perjalanan udara menjadi penyumbang terbesar emisi tersebut.
Meski demikian, FIFA telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50 persen pada 2030 dan mencapai emisi nol bersih pada 2040.
Menjelang turnamen, badan sepak bola dunia itu menguraikan sejumlah inisiatif keberlanjutan, termasuk memusatkan akomodasi tim secara regional untuk mengurangi perjalanan jarak jauh sebisa mungkin, mendorong penggunaan kendaraan listrik dan transportasi umum, meningkatkan efisiensi energi, serta mendorong penghematan air.
Isu klaim lingkungan FIFA sebelumnya juga menarik perhatian regulator. Pada 2023, seorang regulator Swiss menyimpulkan bahwa FIFA telah membuat pernyataan palsu dengan menyebut Piala Dunia Qatar 2022 sebagai turnamen pertama yang netral karbon, setelah mengandalkan langkah-langkah penyeimbangan karbon. Setelah putusan itu, FIFA mengatakan bahwa pihaknya mengakui perubahan iklim sebagai “salah satu tantangan paling mendesak di zaman kita” dan meyakini bahwa tindakan yang segera dan berkelanjutan diperlukan.
Kelompok kampanye mempertanyakan konsistensi
Sejumlah organisasi lingkungan berpendapat bahwa pilihan perjalanan Infantino merusak pesan keberlanjutan FIFA.
Frank Huisingh, pendiri Fossil Free Football, mengatakan bahwa perjalanan dengan jet pribadi itu sangat kontras dengan kondisi yang dialami para pemain dan suporter selama turnamen.
“Saat para pemain dan suporter berjuang menghadapi panas ekstrem, jet pribadi Qatar milik Infantino membawanya dari satu kotak VIP ke kotak VIP lain di turnamen yang membengkak ini,” kata Huisingh.
“Tidak ada ilustrasi yang lebih sempurna untuk menunjukkan kebutaan FIFA yang disengaja terhadap ancaman iklim yang dihadapi sepak bola dan para penggemarnya.”
Katie Cross, kepala eksekutif badan amal keberlanjutan olahraga Pledgeball, mengatakan emisi yang dilaporkan itu mencerminkan “pengabaian total terhadap keberlangsungan permainan, para pemain, dan para penggemar yang membuatnya ada.”
Andrew Simms, direktur New Weather Institute, menggambarkan emisi pesawat itu meninggalkan “awan penghinaan”, sementara Freddie Daley dari Cool Down Sport for Climate Action Network mengatakan kepada BBC Sport bahwa ketergantungan yang tampak pada penerbangan pribadi merupakan “gejala dari kegagalan FIFA dalam lingkungan dan keberlanjutan.”
Jenny Amann, peneliti doktoral di Universitas Loughborough yang meneliti sikap suporter terhadap perubahan iklim dan sepak bola, mengatakan wawancara dengan para penggemar secara konsisten menunjukkan kritik terhadap kepemimpinan FIFA dalam isu lingkungan.
Ia berpendapat bahwa emisi perjalanan Infantino yang dilaporkan itu “ratusan kali lebih besar daripada yang dihasilkan rata-rata penggemar sepak bola Eropa dalam setahun penuh”, seraya menambahkan bahwa tindakan semacam itu kecil kemungkinannya mendorong suporter untuk mengadopsi perilaku yang lebih berkelanjutan.
FIFA membela perjalanan presiden
FIFA membela pengaturan perjalanan presidennya, dengan menegaskan bahwa jadwal Infantino mencerminkan tugas resmi di turnamen yang tersebar di seluruh benua.
Seorang juru bicara FIFA mengatakan bahwa presiden “rutin bepergian, bersama pejabat terkait, untuk urusan bisnis dan yang berkaitan dengan turnamen, serta berupaya mengunjungi asosiasi anggota FIFA kapan pun ia bisa.”
Juru bicara itu menambahkan bahwa pengaturan perjalanan dibuat sesuai kebutuhan operasional.
“Terkadang perjalanan diatur dengan maskapai komersial, termasuk maskapai berbiaya rendah, dan terkadang menggunakan carter pribadi, tergantung mana yang lebih efisien dan hemat biaya dalam situasi tersebut.”
Badan itu juga menyatakan bahwa FIFA telah menetapkan aturan internal yang mengatur perjalanan para pejabatnya.
Berbeda dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, ketika Infantino menghadiri seluruh 64 pertandingan di delapan stadion yang berada dalam jarak tempuh relatif dekat satu sama lain, turnamen 2026 menghadirkan tantangan logistik yang jauh lebih besar karena formatnya yang diperluas dan jarak yang sangat jauh antara kota-kota tuan rumah di seluruh Amerika Utara.
Meski skala perjalanan Infantino memicu perdebatan baru tentang dampak lingkungan sepak bola, FIFA menegaskan bahwa komitmen keberlanjutan jangka panjangnya tetap tidak berubah saat mereka terus mengejar target memangkas emisi pada 2030 dan mencapai emisi nol bersih pada 2040.