BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sudah hampir sembilan tahun Rijali Ahmad menggantungkan hidupnya sebagai pengemudi ojek online (ojol).
Sejak bergabung pada 2017, ia merasakan langsung masa-masa ketika orderan datang tanpa henti, kini ia harus berjam-jam menunggu notifikasi yang tak kunjung berbunyi.
Setiap pagi sekitar pukul 08.00 Wita, Rijali mulai menghidupkan aplikasi. Aktivitas itu baru berakhir sekitar pukul 23.00 Wita. Hampir 12 jam berada di jalan demi mengejar target penghasilan harian.
Sayangnya, kerja lebih lama tak lagi menjamin pendapatan seperti dulu yang gacor (banyak orderan). “Kalau dulu bersih bisa sekitar Rp 300 ribu sehari. Sekarang bersih Rp150 ribu saja sudah syukur,” ujar Rijali, Minggu (26/7).
Menurutnya, penurunan pendapatan tidak hanya dipicu satu faktor. Ia melihat jumlah pengemudi terus bertambah sementara pesanan tidak ikut meningkat.
Di sisi lain, hadirnya berbagai aplikasi transportasi daring membuat persaingan semakin ketat.
Baca juga: Jangan Ada Korban Lainnya
Baca juga: Suara Lirih di Balik Perubahan Iklim
Rijali mengaku kini biaya operasional justru semakin membebani. Penggantian oli, servis rutin hingga suku cadang kendaraan terus mengalami kenaikan.
Padahal seluruh biaya tersebut harus ditanggung sendiri oleh mitra pengemudi.
Di tengah kondisi tersebut, Rijali juga menyoroti sistem aplikasi yang menurutnya ikut memengaruhi pendapatan para pengemudi. Ia menyebut ada akun yang cenderung ramai menerima order, sementara akun lainnya justru sepi.
Rijali pun berharap pemerintah memberi perhatian kepada para pengemudi transportasi daring. Salah satu harapan yang ia sampaikan ialah subsidi bahan bakar khusus bagi mitra pengemudi agar beban operasional sedikit berkurang.
Sementara, Ketua Komunitas 07 Gojek Banjarmasin, Herman, mengatakan kondisi pengemudi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Pria yang mulai menjadi mitra pengemudi sejak 2017 itu mengaku pernah menikmati masa ketika pendapatan harian mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu. Kini, memperoleh Rp150 ribu saja jadi tantangan tersendiri.
Menurut Herman, perubahan mulai terasa sejak bonus insentif dihapus sekitar 2019. Pendapatan saat ini lebih banyak bergantung pada jumlah pelanggan maupun tip yang diberikan konsumen.
“Itu pun tergantung tanggal. Biasanya awal bulan masih lumayan. Setelah lewat tanggal 10 mulai turun lagi,” ujarnya.
Menurutnya, perilaku pengemudi juga turut menentukan performa akun. Driver yang sering memilih-milih pesanan atau membatalkan order dinilai berpotensi mengalami penurunan distribusi order.
Sebagai ketua komunitas, Herman mengaku banyak menerima keluhan dari para anggota. Selain persoalan order yang sepi, laporan mengenai order fiktif juga masih sering terjadi.
Tak hanya dilakukan pelanggan, ia menyebut praktik tersebut kadang dilakukan sesama pengemudi.
Keluhan lain yang paling sering diterima komunitas ialah soal tarif dan besaran potongan aplikasi. Ia mencontohkan, pelanggan bisa membayar sekitar Rp13 ribu untuk satu perjalanan, tetapi pengemudi hanya menerima sekitar Rp 9.200.
Selisih tersebut, menurut Herman, tidak lagi terlihat rinci di aplikasi sehingga memunculkan istilah “potongan siluman” di kalangan pengemudi.
Meski begitu, Herman mengaku komunitas tetap berusaha menjadi wadah bagi para pengemudi.
Menurutnya, keberadaan komunitas membuat proses penyampaian keluhan lebih mudah dibanding dilakukan secara individu. “Kami beda-beda jaket, tapi sebenarnya sama-sama berjuang mencari nafkah,” katanya. (sul)