Jangan Ada Korban Lainnya
Irfani Rahman July 27, 2026 07:47 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- WARGA Kalimantan Selatan kembali dikejutkan oleh musibah rumah ambruk. Kali ini, peristiwa memilukan terjadi di Kompleks Fadillah Perdana, Jalan Tembikar Kanan, Desa Tatah Layap, Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar, pada Sabtu (25/7).

Musibah kali ini terasa kian menyayat hati karena menelan korban jiwa seorang pemuda bernama Rizky (yang akrab disapa Iki). Di balik tragedi ini, terukir kisah keberanian dan pengorbanan yang luar biasa.

Sebelum tertimpa reruntuhan, Iki sempat menyelamatkan adik-adiknya yang baru saja ia jemput dari sekolah dasar di kawasan Pemurus Dalam. Adiknya berhasil selamat. Tapi sayang, nyawa Iki tak tertolong akibat tertindih puing bangunan.

Peristiwa rumah ambruk di Banua cukup sering terjadi. Sebelumnya, kejadian serupa terjadi di Jalan Gerilya RT 19, Kelurahan Tanjung Pagar, Kecamatan Banjarmasin Selatan, serta beberapa lokasi lainnya.

Pola penyebabnya pun kerap berulang: tiang penyangga patah akibat tak mampu menahan beban bangunan, yang diduga dipicu oleh adanya penambahan konstruksi tanpa perhitungan matang.

Menanggapi tragedi ini, aparat kepolisian bergerak cepat. Polsek Kertak Hanyar bersama tim Inafis Polres Banjar langsung mengamankan lokasi, mendata korban di rumah sakit, serta mengumpulkan keterangan dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Informasi awal mengindikasikan bahwa rumah nomor 29 ambruk terlebih dahulu, sebelum akhirnya merembet ke rumah nomor 30 dan 31 di sebelahnya.

Musibah berulang ini harus menjadi refleksi dan alarm keras bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pihak pengembang wajib melakukan pengawasan ketat sejak awal konstruksi hingga penyelesaian. Material bangunan yang digunakan harus benar-benar sesuai spesifikasi dan standar teknis yang aman.

Instansi terkait yang mengeluarkan izin bangunan tidak boleh sebatas memproses administratif. Pengawasan berkala di lapangan wajib dilakukan. Pembangunan yang melanggar standar keselamatan harus berani dihentikan secara tegas.

Sementara itu, bagi warga yang membangun atau merenovasi rumah secara mandiri—terutama saat menambah lantai atau memperluas bangunan—sangat penting untuk berkonsultasi dengan ahli atau tukang berpengalaman.

Perhitungan kekuatan fondasi dan struktur penyangga adalah kunci utama mencegah kegagalan bangunan.

Kita tentu berharap musibah seperti ini dapat diantisipasi sejak dini. Pengawasan konstruksi yang disiplin adalah harga mati agar tak ada lagi rumah ambruk, dan tak ada lagi korban jiwa seperti almarhum Iki di masa mendatang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.