Suara Lirih di Balik Perubahan Iklim
Irfani Rahman July 27, 2026 07:47 AM

Oleh: Mujiburrahman

Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- MINGGU lalu, 19 Juli 2026. Setelah menyetir kurang lebih tiga jam dari Amuntai, saya dan keluarga berhenti sejenak di sebuah warung makan di pinggir jalan raya Kota Martapura.

Tak lama setelah kami duduk, tiba-tiba terlihat beberapa orang pria bersuara agak keras, disusul suara sirene mobil-mobil pemadam kebakaran yang meraung-raung dan melesat cepat. 

Di Banjarmasin, sejak kemarau melanda tahun ini, suara sirene mobil pemadam kebakaran itu makin sering terdengar. Lampu mobil yang berkelap-kelip dan dipacu dengan kecepatan tinggi, membuat kita yang melihat khawatir bahkan takut.

Banyak di antara pemadam itu tidak memiliki tanki air, hanya mesin pompa air saja. Ada pula rombongan pemadam itu yang naik sepeda motor. Mereka mungkin sudah pernah dilatih, dan rata-rata masih remaja. Jumlah kelompok pemadam ini tergolong banyak. Sebagian besar adalah inisiatif warga sendiri. Sebagian lagi memang dari pemerintah.

BMKG memang telah memperingatkan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem, antara lain akibat El Nino, yakni pemanasan suhu air laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur yang memicu perubahan cuaca. Karena lebih panas dari biasa, orang menyebutnya El Nino Godzila.

Sebaliknya, di kawasan tertentu, yang terjadi justru hujan yang amat lebat. Jika Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Papua dan sebagian Kalimantan mengalami panas dan kekeringan, maka Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, dan Riau justru mengalami hujan deras.

Cuaca ekstrem tentu dapat menimbulkan bencana serius. Jika panas-kering dapat memicu kebakaran, maka hujan deras dapat menimbulkan bajir. Cuaca ekstrem, yang tampak anomali ini, yakni bahwa hujan dan panas tak lagi teratur di bulan-bulan tertentu, adalah bukti nyata bahwa dunia mengalami perubahan iklim.

Perubahan iklim ini, seperti dikatakan para ilmuwan, adalah akibat ulah manusia sendiri, yang banyak menggunakan bahan bakar fosil dan merusak lingkungan, khususnya hutan, sehingga suhu bumi semakin bertambah panas.

Dengan demikian, ada dua masalah besar yang dihadapi umat manusia di abad ini. Pertama, yang bersifat jangka pendek, yaitu bagaimana menghadapi bencana akibat perubahan iklim. Bencana tersebut adalah kebakaran dan banjir.

Bagaimana mencegah agar bencana itu tidak semakin besar dan meluas? Bagaimana pula menanganinya agar lebih efektif (mendatangkan hasil) dan efisien (hemat waktu, energi dan biaya)? Kedua, yang bersifat jangka panjang. Bagaimana mengurangi emisi karbon akibat bahan bakar fosil? Bagaimana menjaga lingkungan dan membangunnya kembali?

Untuk yang pertama, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menangani bencana dengan baik. Misalnya, bagaimana agar grup pemadam kebakaran yang banyak itu bisa dilatih secara profesional dengan pembagian wilayah yang jelas. 

Mungkin saja mereka akan lebih berdayaguna jika turut membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Koordinasi oleh Badan Penanggulangan Bencana sangat penting. Selain itu, kepercayaan publik harus benar-benar dijaga. Kita kadang sangat terpukul setelah mengetahui bahwa Badan ini justru melakukan korupsi besar-besaran.

Untuk yang kedua, orang sudah amat sering berbicara tentang pembangunan berkelanjutan yang antara lain adalah bagaimana agar kita membangun dan mengembangkan industri dengan tetap menjaga lingkungan.

Ada slogan seperti “ekonomi hijau” dan “ekonomi biru”. Namun, suara-suara ini tampaknya masih kalah dengan ambisi manusia yang amat tamak dan rakus, sehingga tak peduli apapun kelak akibat buruk yang akan terjadi bagi generasi yang akan datang.

Fatalnya, kerusakan alam ini justru dilakukan dan didukung, resmi atau diam-diam, oleh para penguasa negara.

Keserakahan itu tak hanya berdampak pada tingkat lokal, tetapi sudah bersifat global. Orang-orang kaya, tak hanya membangun usaha besar-besaran di negeri sendiri, tetapi juga merambah ke negeri-negeri lain.

Mereka punya uang dan teknologi, sementara negeri-negeri lain punya kekayaan alam untuk dieksploitasi. Para pengusaha kaya itu dengan hormat disebut “investor”.

Akhirnya terjadilah kerjasama antara pengusaha dan penguasa. Sayang, yang untung seringkali hanya mereka yang terlibat langsung dalam kerjasama itu, sementara publik lebih banyak menerima akibat buruknya.

Lantas, apakah kita menyerah dan berputus asa? Tentu tidak. Mungkin salah satu alternatifnya adalah pandangan religius terhadap alam. Tokoh yang paling awal mewacanakannya adalah Seyyed Hossein Nasr, seorang cendekiawan Muslim, alumni MIT dan Harvard.

Pada 1966, dalam kuliah umum di Universitas Chicago, Nasr sudah mengingatkan bahwa krisis lingkungan mulai mengancam dunia, dan sebab utamanya adalah karena sains dan teknologi membuang pandangan agama bahwa alam adalah wujud yang sakral, yang suci, sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dihormati.

Pada 2022 lalu, penulis terkenal, Karen Armstrong, menerbitkan buku berjudul: Sacred Nature: Restoring Our Ancient Bond with Natural World. “Meski kita perlu mengurangi emisi karbon dan memperhatikan peringatan-peringatan para ilmuwan, kita perlu belajar untuk tidak hanya bertindak secara berbeda, tetapi juga berpikir secara berbeda tentang alam,” tulisnya.

Kita harus berkaca pada tradisi-tradisi keagamaan yang menghormati alam agar kita bisa “mengembangkan apresiasi estetis terhadap alam dan merancang program etis yang memandu perilaku dan pikiran kita,” pungkasnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kita mengenal istilah ‘eko-teologi’, ‘fiqh lingkungan’ dan ‘eko-sufisme’. Khazanah kebijaksanaan hidup yang terkandung dalam tradisi keilmuan Islam ini, tidak hanya harus dikaji dan dikembangkan, tetapi juga harus disebarluaskan dan diajarkan oleh para ulama dan cendekiawan kepada masyarakat.

Selain itu, tentu perlu ada tindakan-tindakan nyata di lapangan, sebagai wujud dari upaya menjaga lingkungan seperti menjaga kebersihan, penanaman pohon, pengelolaan sampah yang baik, penggunaan energi ramah lingkungan, dan seterusnya.

Mungkin suara ini lirih, sayup-sayup terdengar. Tak banyak orang yang mau menyuarakannya. Ia baru sedikit terdengar lebih nyaring ketika bencana besar melanda manusia. Setelah itu, suara itu perlahan hilang ditelan bising deru mesin-mesin industri.

Keserakahan memang sulit dikalahkan, karena ia adalah nafsu purba manusia. Tak peduli dia pengusaha, cendekiawan, ulama, pejabat atau orang biasa. Semua punya nafsu. Namun, yang penting di sini bukan apakah kita berhasil atau tidak, melainkan, apakah kita berjuang atau tidak, dan berada di barisan yang mana? (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.