Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara pengguna menjelajahi internet. Bahkan, sejumlah perusahaan teknologi, kini banyak menghadirkan browser yang dilengkapi agen AI, yang memungkinkan pengguna menyerahkan berbagai tugas secara otomatis, mulai dari mencari informasi perjalanan, hingga melakukan reservasi hotel atau restoran.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran terkait keamanan siber. Studi terbaru dari tim peneliti University of Washington menemukan, sejumlah browser AI yang memiliki kemampuan lebih canggih justru dapat membuka celah keamanan serius bagi penggunanya. Demikian mengutip futurity.org, Senin, (27/7/2026).
Dalam penelitian yang disitat dari futurity.org, tim University of Washington menguji tujuh browser berbasis agen AI yang populer. Hasilnya, empat browser diketahui memiliki celah yang memungkinkan pihak berbahaya melewati protokol keamanan fundamental bernama "same-origin policy". Sistem ini dirancang untuk mencegah situs web yang dibuka melalui browser saling mengakses informasi satu sama lain.
Para peneliti bahkan berhasil melakukan serangan pembuktian konsep atau proof-of-concept di ChatGPT Atlas. Dalam skenario tersebut, sebuah situs web dapat mencuri informasi dari situs lain yang sedang dibuka di dalamnya. Ibaratnya, sebuah iklan yang muncul di situs email bisa saja mengambil informasi sensitif yang tersimpan di dalam email pengguna.
Tak hanya ChatGPT Atlas, peneliti juga menemukan kondisi yang memungkinkan serangan serupa terjadi pada tiga browser lain. Ketiganya adalah Chrome dengan Gemini, Claude for Chrome, dan Perplexity Comet. Temuan ini menunjukkan kemampuan agen AI untuk berinteraksi dengan berbagai situs dapat menghadirkan risiko keamanan baru.
Browser berbasis AI bekerja dengan memberikan agen kecerdasan buatan akses untuk menjalankan berbagai tugas atas nama pengguna. Misalnya, ketika diminta merencanakan liburan, agen AI dapat membuka sejumlah tab untuk mencari rute perjalanan dan restoran, kemudian melakukan reservasi hingga memasukkan jadwal ke kalender pengguna.
Seberapa baik tugas tersebut dijalankan dapat berbeda-beda, tergantung kemampuan masing-masing browser.

Menariknya, penelitian tersebut menemukan bahwa browser yang memberikan lebih sedikit izin kepada agen AI, cenderung memiliki tingkat keamanan yang lebih baik. Artinya, semakin luas akses yang diberikan kepada agen AI untuk berinteraksi dengan berbagai layanan dan informasi pengguna, semakin besar pula potensi risiko yang perlu diperhatikan.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kemudahan yang ditawarkan browser AI juga harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat.
Lantaran, ketika agen AI diberi kewenangan untuk mengakses dan menjalankan aktivitas di berbagai situs, celah keamanan yang ada berpotensi dimanfaatkan untuk mengambil informasi sensitif pengguna.