SURYA.co.id, MALANG – Sebuah jalan persawahan tanpa nama di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, diam-diam menjelma menjadi destinasi favorit untuk menikmati senja.
Berbekal hamparan sawah, panorama Gunung Arjuna dan Gunung Semeru, serta secangkir kopi seharga Rp5.000, kawasan ini setiap sore dipenuhi anak-anak muda yang datang untuk melepas penat.
Lokasinya berada di jalur yang menghubungkan Morotanjek dan Ngatik, sekitar 10 kilometer dari Stasiun Malang.
Baca juga: Pantai Brumbun Tulungagung, Akses Jalan Rusak Tenggelamkan Pesona Wisatanya
Saat musim kemarau, jalan selebar sekitar empat meter itu menawarkan pemandangan yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan.
Di sisi utara berdiri megah Gunung Arjuna dengan puncaknya yang kerap diselimuti awan.
Sementara di selatan, puncak Mahameru di Gunung Semeru tampak sesekali menghembuskan asap ketika cuaca cerah.
Minggu (26/7/2026) sore, kawasan tersebut mulai dipadati pengunjung sejak pukul 15.00 WIB.
Mayoritas merupakan kawula muda yang datang bersama pasangan maupun teman-teman.
Mereka memesan kopi dari pedagang kaki lima, lalu menggelar karpet di tepi jalan menghadap persawahan.
Semilir angin yang menggoyangkan hamparan padi menjadi pelengkap suasana menunggu matahari terbenam.
Ketika langit mulai memerah, matahari perlahan tenggelam di sisi barat Gunung Arjuna. Momen itu hampir selalu diabadikan pengunjung melalui kamera ponsel.
Salah satu yang ikut menghidupkan suasana adalah Suprayitno atau yang akrab disapa Bokir.
Selama tiga tahun terakhir, ia berjualan kopi menggunakan Vespa PX keluaran 1978.
Menurut Bokir, ia sengaja memilih lokasi tersebut karena pemandangannya yang indah saat sore hari.
"Saya buka setiap hari mulai pukul 15.00 sampai sekitar pukul 20.00 WIB," ujar Bokir.
Dalam sehari, lebih dari 50 orang mampir ke lapaknya. Saat akhir pekan atau hari libur, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 100 orang.
Menu yang dijual pun sederhana, mulai kopi saset, mi kuah instan, hingga kacang goreng.
Harga minuman dibanderol mulai Rp5.000, sedangkan mi kuah dijual Rp6.000.
"Paling banyak yang dipesan memang kopi. Banyak yang datang hanya ingin duduk santai sambil menikmati pemandangan sore," katanya.
Menurut Bokir, suasana senja menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Hampir setiap pengunjung mengabadikan langit jingga dengan latar Gunung Arjuna.
Salah seorang pengunjung, Agus Prasetyo, mengaku cukup sering datang ke lokasi tersebut selepas bekerja.
Warga Kota Malang itu memilih kawasan persawahan karena menawarkan suasana tenang yang sulit didapat di tengah kota.
"Saya datang ke sini untuk menikmati senja sekaligus keluar sejenak dari suasana kota yang semakin padat," ujarnya.
Agus mengaku sudah mengenal pedagang kopi di lokasi karena cukup rutin berkunjung. Menurutnya, daya tarik utama kawasan ini justru terletak pada lanskap alam yang masih terbuka.
"Kalau terlalu banyak pembangunan, pemandangannya bisa rusak. Lebih baik tetap alami seperti sekarang," katanya.
Seiring bertambahnya malam, jumlah pengunjung terus meningkat.
Pedagang makanan ringan seperti cilok dan gorengan mulai berdatangan sehingga kawasan itu berubah menjadi ruang berkumpul sederhana di tengah persawahan.
Bagi Bokir, tantangan terbesar datang saat musim hujan. Hujan yang turun pada sore hari membuatnya tidak bisa membuka lapak.
"Kalau hujan terpaksa libur. Pernah sudah datang ke sini, tapi tiba-tiba hujan deras, akhirnya tidak jadi jualan," tuturnya.
Meski hanya berupa jalan di tengah sawah tanpa fasilitas wisata khusus, lokasi ini perlahan menjadi destinasi alternatif bagi warga Malang Raya.
Pemandangan Gunung Arjuna dan Gunung Semeru, hamparan sawah yang luas, serta suasana senja yang tenang menjadi daya tarik yang membuat banyak orang rela datang hanya untuk menikmati secangkir kopi dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk perkotaan.