Adu Kas Daerah Kota Transit: Tegal vs Lubuklinggau, Mana yang Lebih Mandiri?
Yandi Triansyah July 27, 2026 11:47 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Keberadaan wilayah transit memegang peranan krusial dalam denyut nadi perekonomian kawasan.

Di pesisir utara Jawa Tengah, Kota Tegal berdiri kokoh di jalur utama Pantura menjadi simpul penghubung arus pergerakan barang dan jasa antara Jakarta, Semarang, hingga Surabaya.

Sementara di seberang pulau, Kota Lubuklinggau tampil sebagai simpul strategis di barat Sumatera Selatan.

Berada di persimpangan jalan lintas tengah Sumatera, Lubuklinggau secara alami tumbuh menjadi "kota transit megah" sekaligus pintu gerbang utama yang menghubungkan Sumatera Selatan dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi.

Baca juga: Adu Potensi Ekonomi Dua Kota Budaya: PAD Palembang vs Solo, Mana Lebih Superior?

Sama-sama menyandang predikat sebagai kota transit utama yang mengandalkan sektor jasa, perdagangan, dan mobilitas penduduk, lantas bagaimana jika kedua kota ini diadu dari segi Pendapatan Asli Daerah (PAD)? Kota transit mana yang memiliki kas daerah lebih tebal dan lebih mandiri?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan per Minggu (26/7/2026), terdapat perbedaan skala anggaran dan struktur penerimaan yang cukup kontras antara kedua wilayah ini.

Kota Tegal: Target PAD Rp 470,80 Miliar, Realisasi Tembus Rp 176 Miliar

Sebagai kota otonom padat di pesisir Jawa Tengah dengan aktivitas perdagangan Pantura yang tiada henti, Kota Tegal mematok target PAD cukup tinggi pada tahun anggaran 2026, yakni mencapai Rp 470,80 miliar.

Baca juga: Adu Gaji Bos dan  Manajer: Sumsel vs Sumut, Mana yang Lebih Makmur?

Memasuki paruh kedua tahun ini, per 26 Juli 2026, Kota Tegal tercatat berhasil merealisasikan penerimaan kas daerah sebesar Rp 176,08 miliar.

Sektor pajak daerah menjadi kontributor terbesar dengan realisasi menyentuh Rp 99,93 miliar.

Uniknya, sebagai kota transit pedagang dan moda transportasi, sektor retribusi daerah di Kota Tegal berkontribusi sangat signifikan, yakni mencapai Rp 73,35 miliar.

Adapun pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan baru menyumbang Rp 0,33 miliar, serta pos lain-lain PAD yang sah mencatatkan realisasi sebesar Rp 2,47 miliar.

Lubuklinggau: Targetkan PAD Rp 162,22 Miliar, Realisasi Capai Rp 61,92 Miliar

Di sisi lain, Kota Lubuklinggau bergerak dengan skala anggaran daerah yang lebih efisien.

Sebagai gerbang penghubung tiga provinsi di Sumatra, target PAD Kota Lubuklinggau pada tahun 2026 dipatok sebesar Rp 162,22 miliar.

Hingga pertengahan tahun, per 26 Juli 2026, realisasi penerimaan PAD Kota Lubuklinggau telah mencapai Rp 61,92 miliar.

Struktur PAD Kota Lubuklinggau ditopang secara seimbang oleh pajak daerah yang terealisasi sebesar Rp 30,71 miliar dan pos lain-lain PAD yang sah yang menyumbang angka cukup besar, yakni Rp 26,84 miliar.

Sementara itu, pos hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan menyetor Rp 2,78 miliar, serta pos retribusi daerah tercatat menyumbangkan penerimaan sebesar Rp 1,60 miliar.

Dari perbandingan angka tersebut, Kota Tegal secara volume unggul jauh dalam hal besaran PAD baik dari segi target tahunan maupun realisasi pertengahan tahun yang hampir mencapai tiga kali lipat ketimbang Kota Lubuklinggau.

Tingginya PAD Kota Tegal didorong oleh pekatnya densitas ekonomi Pantura Jawa, di mana perputaran usaha hotel, restoran, parkir, hingga retribusi pasar dan jasa umum berjalan sangat masif.

Di sisi lain, Kota Lubuklinggau meskipun memiliki fungsi perbatasan dan transit inter-provinsi yang sangat vital di Sumatera, skala ekonomi lokalnya masih berada pada tahap penguatan infrastruktur dan penataan kawasan usaha.

Meski demikian, potensi pertumbuhan Lubuklinggau sebagai hub pergerakan logistik tiga provinsi tetap menjadi modal kuat untuk melejitkan kas daerahnya di masa mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.