TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Kabut asap mulai mengepung Kota Palangka Raya setelah berbagai kejadian karhutla selama lebih dari sepekan, Senin (27/7/2026).
BPBD Palangka Raya mencatat, sebanyak 109 peristiwa karhutla hingga 26 Juli 2026.
Kecamatan Jekan Raya menjadi lokasi paling banyak peristiwa karhutla dengan 74 kejadian, disusul Sebangau 19 kejadian, Pahandut 12 kejadian, serta Bukit Batu 4 kejadian dan Rakumpit 0.
Sejauh ini, total luas hutan dan lahan yang terbakar seluas 54,44 hektare, tersebar di wilayah Palangka Raya. Akibatnya, kabut asap mulai menyelimuti Kota Cantik.
Kabut asap itu, mulai mengganggu sejumlah warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Rahmida (25), warga Palangka Raya, mengaku bau asap mulai tercium per hari ini atau Senin (27/7/2026).
"Mengganggu sekali, mulai hari ini terasa sekali ada asap," kata Rahmida.
Baca juga: Karhutla Tumbang Nusa Belum Padam, Api Meluas Bakar 60 Hektare dan Mengarah ke Tanjung Taruna
Menurutnya, bau asap itu bahkan sudah tercium di rumah-rumah sekitar Jalan Tjilik Riwut Km 7, Palangka Raya.
"Jangankan di luar, di dalam rumah saja sudah tercium. Tapi sepertinya seluruh Palangka Raya mulai ada kabut asap," ungkap Rahmida.
Sebelumnya, Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalop-PB) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet mengatakan, petugas hingga kini masih melakukan penanganan di sejumlah titik karhutla yang belum sepenuhnya padam.
Kondisi tersebut berlangsung lebih kurang satu hingga dua pekan terkahir. Menurut Balap, meski proses pemadaman terus dilakukan, lahan gambut di lokasi itu masih mengeluarkan asap akibat bara api yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
"Masih mengeluarkan asap sampai sekarang," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Save Our Borneo (SOB), Muhammad Habibi mengatakan, penyebab utama kebakaran dan kabut asap bukan semata karena kemarau.
Cuaca, kata dia, hanya menciptakan kondisi yang memudahkan api menyala dan menyebar.
"Persoalan yang sesungguhnya adalah mengapa bentang gambut yang sama terus terbakar dari tahun ke tahun," ujar Habibi.
Sepanjang Juli 2026, lanjutnya, kebakaran kembali terjadi di berbagai wilayah Kalteng, tak hanya di Palangka Raya tapi juga daerah lain seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kotawaringin Timur.
Sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan gambut yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, tetapi menjadi sangat rentan ketika kehilangan fungsi hidrologinya.
Habibi menegaskan, kebakaran yang terus berulang di kawasan gambut seharusnya dipahami sebagai persoalan pengelolaan bentang alam.
Ketika fungsi hidrologi terganggu, lanjutnya, baik karena drainase, pembukaan kanal, maupun perubahan tata guna lahan, lapisan gambut mengering dan berubah menjadi material organik yang sangat mudah terbakar.
Habibi menuturkan, pemerintah sebenarnya telah menjalankan berbagai program restorasi gambut sejak 2016.
Namun, hampir satu dekade sejumlah kawasan yang sama masih kembali mengalami kebakaran.
"Kondisi tersebut menjadi alasan kuat untuk melakukan evaluasi secara terbuka dan berbasis bukti. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi berapa banyak sumur bor dan sekat kanal yang telah dibangun, melainkan apakah infrastruktur tersebut masih berfungsi ketika menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem," tegasnya.