Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia menjadi perhatian serius.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa semakin banyak anak dan remaja mengalami gangguan psikologis, namun sebagian besar kasus masih terlambat dikenali karena gejalanya kerap dianggap sebagai perubahan perilaku yang wajar.
Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun atau sekitar 15,5 juta jiwa mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Bahkan, satu dari 20 remaja memenuhi kriteria gangguan mental yang terdiagnosis, seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan perilaku.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio.(K), mengatakan anggapan bahwa gangguan mental hanya dialami orang dewasa masih menjadi tantangan dalam upaya deteksi dini.
"Sering kali kita mengira anak-anak belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya," ujar dr. Piprim, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Cegah Masalah Kesehatan Anak, National Hospital Surabaya Bagikan Vitamin A Gratis
Menurut dr. Piprim, deteksi dini menjadi langkah penting agar gangguan kesehatan mental dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat.
Ia menilai pola asuh yang kurang tepat, terutama tekanan berlebihan terhadap prestasi akademik, dapat menjadi salah satu pemicu munculnya masalah psikologis pada anak.
"Anaknya baru satu hari masuk sekolah, kemudian ibu mengatakan kecewa karena sepertinya tidak mungkin jadi juara kelas. Ini gambaran bagaimana tekanan dari orang tua sendiri bisa memengaruhi anak," katanya.
Karena itu, IDAI mengajak para orang tua kembali menerapkan konsep Asuh, Asih, dan Asah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Menurutnya, rumah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan terbuka sehingga anak merasa bebas menyampaikan perasaan maupun persoalan yang dihadapinya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa gangguan mental pada remaja sering kali luput dari perhatian karena gejalanya dianggap sebagai bagian dari masa pubertas.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, penurunan nafsu makan, merasa tidak berharga, overthinking, gelisah, hingga munculnya keluhan fisik seperti sakit perut tanpa penyebab yang jelas.
"Gejala ini sering dianggap perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental," ujar dr. Angga.
Ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku atau emosi yang muncul secara tiba-tiba, tanpa penyebab yang jelas, dan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti tidak mau sekolah, tidak mau makan, atau enggan mandi, sebaiknya segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Selain pola asuh dalam keluarga, dr. Angga menyebut tekanan dari teman sebaya, perundungan siber (cyberbullying), serta paparan konten negatif di internet turut memperburuk kondisi kesehatan mental remaja.
Untuk membantu deteksi dini, IDAI merekomendasikan penggunaan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) yang dapat diisi oleh anak, orang tua, maupun guru. Instrumen tersebut digunakan untuk menilai kondisi emosi, perilaku, dan hubungan sosial anak usia 3–18 tahun sehingga gangguan psikososial dapat dikenali lebih awal.
Selain itu, tenaga kesehatan juga dianjurkan menggunakan pendekatan HEEADSSS (Home, Education, Eating, Activities, Drugs, Sexuality, Suicide, Safety) guna menggali kondisi psikososial remaja secara lebih komprehensif.
IDAI juga mengimbau orang tua untuk membangun komunikasi yang hangat tanpa menghakimi, mengajak anak rutin berolahraga, mengikuti kegiatan positif, mengembangkan hobi, serta membatasi penggunaan media sosial secara bijak.
Menutup paparannya, dr. Angga menegaskan bahwa kesehatan mental anak merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
"Apabila ada masalah, anak-anak harus bercerita kepada orang tua, guru, atau teman yang dipercaya," pesannya.