Hadapi Tren Penyakit Pencernaan dan Hati, Sri Sultan HB X Dorong Optimalisasi Deteksi Dini
Hari Susmayanti July 27, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tidak semata-mata diukur dari kemampuan menyembuhkan pasien yang telah sakit, tetapi seberapa jauh sistem tersebut mampu mencegah dan mendeteksi penyakit lebih awal.

Paradigma ini dinilai semakin krusial untuk menghadapi tren peningkatan penyakit menular serta gangguan saluran pencernaan dan hati akibat pergeseran gaya hidup masyarakat saat ini.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat membuka Kongres Nasional & Pertemuan Ilmiah Nasional (KONAS & PIN) 2026 di The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta, Sabtu (25/7/2026).

Kongres yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 ini merupakan gawe besar gabungan tiga organisasi profesi kedokteran, yakni Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI). 

Mengusung tema ‘Challenges and Innovations in Gastroenterohepatology: From Research to Clinical Practice’, ajang ini menyoroti bahaya penyakit yang kerap tumbuh perlahan tanpa gejala klinis yang menonjol.

“Ketika gejala mulai dirasakan, kondisi sering kali telah menjadi lebih berat. Karena itu, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati, melainkan juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat. Di sinilah kemajuan teknologi memperoleh tempatnya,” jelas Sri Sultan.

Meskipun sistem digital dan kecerdasan buatan kini mampu membantu dokter mendiagnosis dengan presisi tinggi, Sultan mengingatkan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan kebijaksanaan, etika, dan empati tenaga medis.

“Sebab pasien bukan sekumpulan angka. Di hadapan dokter selalu berdiri manusia dengan riwayat hidup, kecemasan, keluarga, dan harapan untuk kembali sehat. Teknologi dapat memperkuat kemampuan diagnosis, tetapi tanggung jawab klinis tetap berada pada manusia,” tegas Sri Sultan.

Lebih lanjut, Gubernur DIY menggarisbawahi filosofi kesehatan dalam pandangan Jawa, yakni waras.

Konsep ini memandang kesehatan bukan sekadar ketiadaan penyakit pada raga, melainkan wujud keseimbangan antara fisik, pikiran, batin, dan lingkungan. Jika harmoni ini rusak, di situlah ilmu kedokteran harus hadir memulihkannya.

“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan masyarakat, saya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta, termasuk para ahli yang hadir dari berbagai daerah dan negara. Yogyakarta menyambut forum ini dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana. Merawat keselamatan, memulihkan keseimbangan, dan menjaga keberlanjutan kehidupan,” ucap Sri Sultan di hadapan para delegasi.

Baca juga: Terjadi Hampir Bersamaan, Lahan Seluas 8 Hektare di Selopamioro dan Wukirsari Terbakar

Menyinggung falsafah 'ngelmu iku kalakone kanthi laku' (pengetahuan menemukan nilainya saat diwujudkan dalam tindakan), Sultan meminta agar forum ini tidak sekadar menjadi menara gading.

Riset dan temuan ilmiah harus bermuara pada keselamatan manusia dan diaplikasikan dalam pedoman layanan klinis yang merata.

“Saya berharap kongres ini melahirkan rekomendasi yang dapat dilaksanakan. Pencegahan perlu diperkuat; pemeriksaan dini harus diperluas; dan kemampuan diagnosis dan pengobatan harus terus ditingkatkan. Kolaborasi lintas disiplin juga perlu dibangun agar kemajuan ilmu benar-benar hadir sebagai manfaat bagi masyarakat. Semoga dari Yogyakarta lahir gagasan yang memperkuat ilmu kedokteran Indonesia, sekaligus memuliakan martabat setiap pasien,” pungkas Sri Sultan.

Sejalan dengan arahan Gubernur DIY, Ketua Umum Pengurus Besar PPHI, Dr. dr. Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM, menekankan bahwa tingginya beban penyakit hati kronis di Indonesia menuntut kolaborasi nyata, khususnya dalam mengejar target nasional eliminasi hepatitis.

“Kami di PPHI berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan berbasis bukti, di antaranya, mulai dari optimalisasi skrining hepatitis B pada ibu hamil hingga pengenalan teknologi diagnostik baru seperti biomarker PIVKA-II untuk deteksi dini kanker hati. Acara ini pun menjadi langkah konkret untuk mempercepat eliminasi hepatitis 2030,” papar dr. Andri.

Secara teknis, Ketua Panitia Pelaksana KONAS & PIN 2026, dr. Putut Bayupurnama, SpPD, K-GEH, FINASIM, melaporkan bahwa konferensi ini menyediakan lebih dari 20 sesi ilmiah, lokakarya berbasis simulasi mutakhir, hingga demonstrasi prosedur intervensi langsung.

“Tujuan kami adalah memastikan setiap peserta, baik dokter spesialis maupun umum, pulang dengan pengetahuan terbaru yang dapat diaplikasikan langsung untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pasien,” ujar dr. Putut.

Selain dihadiri pemangku kepentingan dalam negeri seperti Kepala Dinas Kesehatan DIY dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H. (Han), kegiatan yang diselenggarakan berkolaborasi dengan FK-KMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito ini juga menghadirkan pakar global.

Nama-nama besar seperti Prof. Shuichiro Shiina (Jepang), serta Prof. Kenichi Ikejima dan Prof. Raja Affendi Raja Ali (Malaysia) turut hadir untuk menjembatani kolaborasi riset antarnegara demi peningkatan layanan kesehatan Indonesia di kancah internasional. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.