TRIBUNJAKARTA.COM, KELAPA GADING - Gelaran JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara menghadirkan ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS) yang mengusung tema Elysian Currents.
Ajang tersebut menjadi wadah bagi desainer Asia Tenggara untuk memperkenalkan karya sekaligus memperkuat hubungan kreatif antarnegara di kawasan ASEAN.
Sebanyak tiga desainer dari Laos, Indonesia, Singapura, hingga Filipina menampilkan koleksi couture yang memadukan warisan budaya dengan sentuhan futuristik.
Masing-masing koleksi mengangkat interpretasi berbeda mengenai identitas budaya Asia Tenggara dalam balutan mode kontemporer.
Pendiri ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS), Hayden Ng, mengatakan gelaran tersebut bertujuan membuka peluang kolaborasi bagi para desainer di kawasan ASEAN.
Menurut dia, AFDS juga menjadi jembatan untuk memperkenalkan karya desainer Indonesia ke panggung internasional.
"Untuk memberikan kesempatan kepada desainer ASEAN untuk berkoneksi dan berkolaborasi. Memperkuat hubungan antar ASEAN. Kita bekerja bersama, kita satu keluarga, kita ASEAN," ujar Hayden, dikutip Senin (27/7/2026).
Ia menambahkan, setiap desainer yang tampil membawa cerita dan karakter masing-masing melalui koleksi yang diperagakan di atas panggung.
Peragaan dibuka oleh desainer asal Laos, Thoulany Chanthalangsy, yang menghadirkan koleksi dengan interpretasi baru terhadap motif-motif tradisional negaranya. Karya tersebut memadukan keahlian kerajinan tangan, teknik tailoring, dan unsur budaya dalam desain yang modern.
Selanjutnya, Indra Murak membawa penonton memasuki dunia fantasi melalui koleksi yang terinspirasi dari hutan ajaib dalam buku cerita. Koleksinya menampilkan nuansa imajinatif dengan sentuhan artistik yang menciptakan suasana berbeda di atas catwalk.
Indra mengungkapkan dirinya memiliki kedekatan dengan Indonesia karena kerap datang ke Jakarta dan Batam untuk mencari bahan kain yang digunakan dalam setiap rancangannya.
"Saya sering bolak-balik Jakarta-Batam buat beli bahan (fabric) untuk desain saya. Jadi saya sudah cukup cinta Indonesia, bagaimana caranya menyatukan bahan dari Indonesia ke desain gaya saya," kata Indra.
Peragaan kemudian ditutup oleh desainer asal Filipina, Erjohn Dela Serna, melalui koleksi bertajuk Liquid Reverie. Koleksi tersebut mengeksplorasi elemen air, pantulan cahaya, dan gerakan yang mengalir dalam balutan desain futuristik.
Melalui pertunjukan tersebut, para desainer dari berbagai negara ASEAN tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga memperkuat kolaborasi dan pertukaran budaya melalui dunia fesyen.