BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di bawah rindangnya pepohonan di kawasan Alun-alun Taman Merdeka Kota Pangkalpinang, Fahmi (31) sibuk melayani pembeli yang menghampiri gerobak sederhana miliknya. Di gerobak berisi jambu bangkok dan jambu kristal itu, sebuah kode QRIS BRI berdiri di samping tumpukan buah, siap dipindai pelanggan yang memilih bertransaksi secara non-tunai
Bagi Fahmi, kehadiran QRIS BRI membuat usaha kecil yang dijalaninya terasa lebih praktis. Meski hanya berjualan menggunakan gerobak di pinggir jalan, ia kini bisa melayani pelanggan dengan pilihan pembayaran yang lebih beragam.
Fahmi mengaku awalnya tidak terpikir menyediakan metode pembayaran digital. Namun, semakin banyak pelanggan yang menanyakan apakah pembayaran bisa dilakukan menggunakan QRIS.
"Dulu banyak yang tanya, 'Bisa QRIS, Bang?'. Karena sering ditanya akhirnya saya membuat QRIS BRI melalui aplikasi BRI Merchant. Setelah dipakai ternyata sangat mudah dan nyaman," kata Fahmi kepada Bangkapos.com, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, penggunaan QRIS BRI memberikan kemudahan dalam mengelola transaksi harian. Setiap pembayaran langsung tercatat melalui aplikasi BRI Merchant sehingga ia bisa mengetahui nominal transaksi yang masuk secara real time.
Dana hasil penjualan pun langsung masuk ke rekening dan dapat dipantau melalui aplikasi BRImo.
"Kalau ada pembeli bayar pakai QRIS, notifikasinya langsung masuk. Jadi saya tidak perlu khawatir salah hitung atau menerima uang palsu. Semuanya tercatat," ujarnya.
Kini, transaksi di lapaknya hampir berimbang antara pembayaran tunai dan digital. Fahmi menilai masyarakat semakin terbiasa menggunakan QRIS karena lebih praktis dibanding membawa uang tunai.
Meski hanya berjualan di pinggir jalan, ia merasa pedagang kaki lima juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tertinggal.
"Pedagang kaki lima juga harus melek teknologi. Sekarang banyak pembeli lebih nyaman bayar pakai QRIS, jadi kami juga harus mengikuti perkembangan zaman supaya tetap bisa melayani kebutuhan pelanggan," katanya.
Bagi Fahmi, kehadiran QRIS BRI bukan sekadar alat pembayaran, melainkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan sekaligus membuat pengelolaan usaha menjadi lebih tertata.
Sementara itu, Relationship Manager Funding Transaction BRI Kantor Cabang Pangkalpinang, Tanti Jayanti, mengatakan digitalisasi pembayaran kini tidak hanya dibutuhkan pelaku usaha besar, tetapi juga pedagang kaki lima yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Menurut Tanti, semakin banyak konsumen yang memilih pembayaran non-tunai sehingga pelaku usaha perlu menyediakan pilihan transaksi yang lebih fleksibel.
"Melalui QRIS BRI, pedagang kaki lima maupun pelaku UMKM dapat menerima pembayaran secara mudah, cepat, dan aman. Seluruh transaksi tercatat otomatis sehingga mereka lebih mudah memantau pemasukan harian tanpa harus mencatat secara manual," ujar Tanti.
Ia menjelaskan, QRIS BRI dirancang agar mudah digunakan oleh berbagai jenis usaha, termasuk pedagang kecil yang berjualan di pasar, kaki lima, maupun usaha rumahan.
Dengan hanya menggunakan satu kode QRIS, pedagang dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran digital yang digunakan masyarakat.
"Perubahan perilaku konsumen menuju transaksi digital sudah sangat terasa. Karena itu kami ingin memastikan pedagang kecil juga bisa ikut menikmati manfaatnya, sehingga tidak kehilangan pelanggan yang lebih memilih pembayaran non-tunai," katanya.
Selain memperluas akuisisi merchant QRIS, BRI juga terus melakukan edukasi kepada pelaku UMKM mengenai pemanfaatan transaksi digital, pengelolaan usaha, hingga memperkuat akses layanan keuangan melalui jaringan AgenBRILink yang menjangkau berbagai wilayah.
Menurut Tanti, transformasi digital yang dilakukan BRI tidak berhenti pada penyediaan layanan pembayaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem UMKM agar semakin inklusif dan mampu berkembang.
"Kami ingin pedagang kecil tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Digitalisasi menjadi salah satu langkah awal agar usaha mereka lebih tertata, dipercaya konsumen, dan memiliki peluang untuk naik kelas," ujarnya.
Di sisi lain, BRI juga aktif memberikan pendampingan kepada UMKM melalui berbagai program pembinaan, promosi, serta keikutsertaan dalam pameran dan bazar, sehingga produk-produk lokal Bangka Belitung memiliki akses pasar yang semakin luas.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong pelaku usaha mikro, termasuk pedagang kaki lima, untuk semakin percaya diri memanfaatkan layanan keuangan digital sebagai bagian dari pengembangan usahanya.
Bagi Fahmi, perubahan itu sudah ia rasakan sendiri. Dari sebuah lapak sederhana di pinggir jalan, ia membuktikan bahwa transformasi digital tidak mengenal skala usaha.
"Yang penting mau belajar. Walaupun cuma pedagang kaki lima, kami juga bisa mengikuti perkembangan zaman dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan," tuturnya.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)