SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Pulau Sumatera secara konsisten mengukuhkan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi utama sekaligus penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kedua bagi Indonesia setelah Pulau Jawa.
Kekayaan alam yang melimpah mulai dari komoditas perkebunan kelas dunia hingga perut bumi yang kaya akan hasil tambang menjadi bahan bakar utama laju perekonomian di pulau ini.
Perkebunan kelapa sawit membentang luas di Riau, Sumatera Selatan (Sumsel), hingga Lampung. Sementara itu, komoditas unggulan seperti karet dan kopi diproduksi secara masif di wilayah Sumsel, Lampung, dan Sumatera Utara.
Tak berhenti di situ, cadangan energi raksasa berupa minyak bumi, gas alam, dan batu bara terkonsentrasi di Riau dan Sumsel, di samping potensi timah yang melimpah di Kepulauan Bangka Belitung.
Baca juga: Adu Kas Daerah Kota Transit: Tegal vs Lubuklinggau, Mana yang Lebih Mandiri?
Lantas, di antara provinsi-provinsi kaya tersebut, manakah yang memiliki skala ekonomi terbesar?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang diakses pada Senin (27/7/2026), berikut draf lima provinsi terkaya di Pulau Sumatra berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB).
Provinsi Sumatera Utara (Sumut) berhasil menempati takhta tertinggi sebagai daerah dengan nilai ekonomi terbesar di Sumatra.
Dengan total PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 1.236,19 triliun, Sumut menjadi satu-satunya provinsi di luar Riau yang menembus angka di atas Rp 1.000 triliun.
Baca juga: Adu Potensi Ekonomi Dua Kota Budaya: PAD Palembang vs Solo, Mana Lebih Superior?
Keunggulan Sumut ditopang oleh diversifikasi ekonomi yang sangat kuat, mulai dari industri pengolahan, perkebunan kelapa sawit dan karet, pertanian pangan, hingga sektor perdagangan dan pariwisata yang berpusat di Kota Medan.
Menempel ketat di posisi kedua adalah Provinsi Riau dengan capaian PDRB ADHB sebesar Rp 1.201,38 triliun. Selisih yang tipis dari Sumut membuktikan betapa masifnya kekuatan ekonomi Riau.
Kekayaan Riau utamanya didorong oleh dominasi industri kelapa sawit dari hulu ke hilir, sektor kehutanan (pulp dan kertas), serta kontribusi besar dari sektor pertambangan migas yang saban tahun menyumbang nilai tambah berlipat ganda bagi daerah.
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) atau yang dikenal sebagai Bumi Sriwijaya dengan bangga mengamankan posisi tiga besar sebagai wilayah terkaya di Sumatra.
Total PDRB harga berlaku di Sumsel tercatat mencapai Rp 720,20 triliun.
Perekonomian Sumsel bertumpu pada pilar yang sangat solid: kombinasi antara lumbung energi nasional (batu bara, minyak bumi, dan panas bumi) serta sektor perkebunan raksasa (karet dan kelapa sawit).
Pembangunan infrastruktur terintegrasi seperti jalan tol dan pelabuhan turut mempercepat perputaran roda ekonomi di provinsi ini.
Berada di posisi keempat, Provinsi Lampung mencatatkan nilai PDRB ADHB mencapai Rp 523,84 triliun.
Sebagai pintu gerbang penghubung Pulau Jawa dan Sumatra, Lampung memanfaatkan posisi strategisnya dengan sangat baik.
Perekonomian daerah ini disokong kuat oleh sektor pertanian dan perkebunan (kopi, tebu, nanas, dan sawit), perikanan, serta pergerakan logistik dan jasa transportasi yang tiada henti.
Melengkapi daftar lima besar daerah terkaya di Sumatra, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengantongi nilai PDRB ADHB sebesar Rp 381,72 triliun.
Berbeda dengan provinsi lainnya yang didominasi oleh hasil bumi lahan luas, kekuatan ekonomi Kepri bertumpu pada sektor manufaktur, industri galangan kapal, serta status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) di Batam, Bintan, dan Karimun yang menarik investasi asing dalam jumlah besar.
Capaian nilai PDRB yang fantastis di lima provinsi ini menegaskan bahwa Pulau Sumatra merupakan benteng pertahanan ekonomi nasional.
Bagi Sumatera Selatan sendiri, keberhasilan menembus tiga besar menjadi bukti konkret bahwa hilirisasi komoditas energi dan pertanian yang tengah berjalan mampu memberikan dorongan signifikan bagi nilai ekonomi daerah.