TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para pelaku usaha industri pangan olahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipacu mengurus Nomor Izin Edar (NIE) guna mempermudah pengawasan dan memenuhi standar kelayakan mutu produk.
Percepatan penerbitan Nomor Izin Edar (NIE) oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta kini menjadi fokus utama untuk meningkatkan kualitas pangan olahan melalui SAPA SEMESTA (sadar pangan aman, sistematis, ekosistem, massif, efektif, sinergi, terintegrasi dan aksesibel).
Kepala BBPOM Yogyakarta, Ani Fatimah Isfarjanti, mengatakan industri pangan menjadi tulang punggung pereknomian nasional.
Di wilayah DIY produk pangan olahan paling dicari karena sebagai oleh-oleh para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.
“Kami bekerjasama dengan beberapa universitas untuk mendampingi UMKM agar dapat izin edar, meningkatkan daya saing terutama di Jogja produk pangan kan dicari wisatawan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya, seusai launching Sapa Semesta serentak, secara nasional, Senin (27/7/2026).
Pihaknya bekerjasama dengan beberapa universitas untuk melakukan pendampingan para pelaku UMKM dalam pemenuhan NIE.
Pada April 2026 lalu bidang pangan olahan telah memberikan pendampingan untuk NIE sebanyak 60 pelaku UMKM kemudian Juli 2026 ada 47.
“Terakhir kami berkolabirasi dengan Dinkop UKM DIY ada 30 UMKM kemudian Disperindag kami fasilitasi 20 jadi total 50 UMKM,” terang dia.
Ani menuturkan NIE memiliki masa berlaku selama lima tahun.
Melalui sertifikat izin edar tersebut, diharapkan pelaku usaha bisa menjaga kualitas produk.
Di sisi lain masyarakat juga bisa mendapatkan produk yang berkualitas dan aman.
“Tentu ini belum semuanya kami jangkau, tetapi kami berusaha agar seluruh UMKM di Yogyakarta ini punya izin edar,” terang Ani.
Salah satu pelaku usaha yang baru saja menerima NIE, Indra Gunawan kini mulai bersiap melakukan ekspansi produk olahan pangan yang dirintisnya sejak 2023.
Meski sudah tiga tahun merintis usaha, Gunawan baru mengurus NIE tahun ini lantaran sebelumnya produk pangan olahannya diproduksi ketika ada pre order.
“Sebelumbya peoses pre order, agar saya bisa stok produk saya mengurus izinya. Produknya rendang uda bungsu. Ini sertifikasi pertama. Tentu saya bisa lebih massif untuk memasarkannya, lebih percaya diri lah,” pungkasnya. (hda)