TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan melalui berbagai proyek strategis nasional, mulai dari infrastruktur, pengembangan kawasan pangan (food estate), hingga program swasembada pangan.
Berbagai proyek tersebut dinilai masih menjadi penggerak permintaan alat berat di dalam negeri. Selain itu, dinamika belanja pemerintah juga turut memengaruhi pola permintaan alat berat.
Presiden Direktur PT Hexindo Adiperkasa Tbk Dwi Swasono mencontohkan, ketika anggaran pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dikurangi, investasi pembelian alat berat ikut melambat dan sebagian kebutuhan beralih ke skema penyewaan.
Baca juga: Hexindo Luncurkan Lini Alat Berat WIXIM, Bidik Kebutuhan Konstruksi hingga Tambang
"Intinya mengikuti budget pemerintah. Contoh ya, contoh misalnya kita bicara IKN. IKN kan budget-nya di-cut, berarti investasi alat kan berkurang, dialihkan ke rental. Kira-kira gitu. Kemudian saya melihat Agro masih berada di atas. Makanya investasi terus berjalan, termasuk forestry atau HTI juga mulai replacement alat yang sudah di atas 5 tahun, dia coba untuk mengganti alatnya," ungkap Dwi saat peluncuran WIXIM Supported by LANDCROS di NICE, Nusantara International Convention Exhibition PIK 2, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Salembaran, Kec. Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (27/7/2026).
Di sisi lain, perusahaan menilai program pemerintah yang berkaitan dengan ketahanan pangan justru memberikan prospek positif bagi industri alat berat.
Pengembangan kawasan pangan membutuhkan berbagai jenis alat untuk mendukung pembukaan lahan maupun pekerjaan konstruksi.
Selain itu, proyek jangka panjang cenderung mendorong perusahaan melakukan investasi pembelian alat berat. Sementara untuk proyek berdurasi pendek, pelaku usaha lebih memilih memanfaatkan layanan penyewaan alat demi menekan biaya investasi.
Baca juga: Permintaan Alat Berat Meningkat, Hexindo Catat Penjualan Kuartal I 2026 Lampaui Target
"Kita bicara food estate. Food estate macam-macam, ada cetak sawah, ada sugar cane, ada sawit juga. Itu sangat signifikan membutuhkan alat berat. Tinggal periode kontrak dari masing-masing proyek kan berbeda. Kalau untuk long-term oke, tapi kalau untuk short-term biasanya cukup rental," jelasnya.
Berlanjutnya sejumlah proyek prioritas pemerintah tersebut masih menjadi penopang permintaan alat berat di Indonesia.
Akan tetapi, PT Hexindo Adiperkasa Tbk menegaskan keterlibatannya dilakukan melalui para kontraktor dan pelaku usaha yang mengerjakan proyek, bukan melalui kerja sama langsung dengan pemerintah.
Dwi menyebut, investasi alat berat umumnya dilakukan oleh perusahaan kontraktor sebagai pelanggan Hexindo. Oleh karena itu, perusahaan fokus mendukung kebutuhan pelanggan yang memperoleh proyek pemerintah maupun swasta.
"Kita enggak ada kerja sama langsung dengan pemerintah. Yang Hexindo lakukan adalah selama pelanggan itu mendapatkan proyek-proyek, apakah proyek pemerintah maupun private project, kita berusaha untuk mendukung kegiatan customer. Tapi kalau direct ke pemerintah, rasanya semua dealer tidak ada yang langsung nih. Selalu menggunakan pelanggannya. Karena yang investasi alat kan customers."