TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Momen terakhir KD bersama keluarganya masih diingat sang sepupu.
Sebelum ditemukan tewas di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, pria 38 tahun itu sempat menyerahkan uang untuk biaya sekolah anak keduanya.
Namun, tiga hari kemudian keluarga justru menerima kabar duka.
Hal tersebut diungkapkan sepupu KD, Made Parta. Dikatakan dia, sebelumnya KD sempat menyerahkan uang tunai senilai Rp2,7 juta untuk biaya uang gedung anaknya yang masuk di sekolah swasta.
Baca juga: KATA Ahli Hukum Soal Kasus Pengeroyokan Maling Ayam di Baturiti Bali, Polisi Temukan Pisau Pada KD
"Begitu almarhum menyerahkan uang Rp2 juta sekian itu, terus dia menghilang. Tapi untuk uang gedung itu sudah ter-cover, sudah dibayarkan sama istrinya," ucapnya, Senin (27/7/2026).
Setelah tak kunjung pulang selama tiga hari, dirinya didatangi kepala dusun dan perbekel yang mengabarkan adanya penemuan jenazah di kawasan Baturiti pada Jumat (24/7/2026).
Mendapat informasi tersebut, Parta langsung menuju Polsek Baturiti, kemudian diarahkan ke RSUD Tabanan untuk memastikan identitas korban.
"Nah, tau-tau menjelang tiga hari dari itu, saya didatangi kelian dusun sama kepala desa bahwa ada mayat di kawasan Baturiti. Begitu saya ke sana, saya ke Polsek Baturiti, langsung digiring ke RSUD Tabanan," tuturnya.
Baca juga: Maling Ayam Tewas Diamuk Massa di Baturiti, Polda Bali Tegaskan Main Hakim Sendiri Adalah Pidana
Jenazah tiba di rumah duka pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 16.00 wita. Kemudian keesokan harinya baru dikubur di setra adat Desa Sidetapa.
Pihak keluarga tidak tahu apa alasan KD nekat mencuri ayam di Baturiti. Sebab saat itu kebutuhan untuk uang gedung sudah terpenuhi.
"Nah, itu saya kurang tahu. Soalnya waktu uang Rp2,7 juta itu sudah ter-cover, istrinya juga tidak tahu, diam dia," ucapnya.
Di sisi lain, Parta mengungkapkan jika KD merupakan tulang punggung keluarga yang bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan istri dan dua anak perempuannya.
Saat musim panen, korban bekerja sebagai buruh petik cengkeh, sedangkan di luar musim ia menjadi buruh harian yang mengerjakan pekerjaan mencangkul.
"Kalau musim cengkeh dia buruh memetik cengkeh. Kalau tidak ada musim cengkeh, dia buruh nyangkul," katanya. (*)