Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim ratusan tentara Amerika Serikat tewas dalam serangan balasan bertajuk Operasi Nasr 2.
IRGC menyebut sedikitnya 200 tentara AS tewas dalam serangan yang menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Dikutip dari Tasnim, Sabtu (25/7/2026), operasi tersebut menyasar sejumlah fasilitas militer AS di berbagai wilayah Teluk.
Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, mengklaim serangan itu juga menghancurkan berbagai aset udara milik Amerika Serikat.
Menurut Mohebi, aset yang diklaim hancur meliputi 11 jet tempur dan helikopter.
Kemudian 17 drone pengintai dan operasional, delapan pesawat pengisian bahan bakar di udara, serta empat helikopter militer berat.
Iran juga mengklaim berhasil menghancurkan satu jet tempur F-15 yang berada di dalam hanggar perlindungan khusus.
Selain itu, satu pesawat patroli maritim P-8 Poseidon dan satu pesawat angkut militer C-17 Globemaster juga disebut hancur.
Tak hanya aset udara, IRGC mengklaim telah melumpuhkan jaringan radar, pusat komando, hingga sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat.
Mohebi menyebut serangan tersebut menghancurkan tujuh pusat komando dan kendali serta enam unit radar sistem pertahanan Patriot.
Kemudian delapan radar peringatan dini, tujuh radar rudal pertahanan udara, dan lima instalasi radar jarak jauh.
IRGC juga mengklaim menghancurkan lima sistem radar FPS dan FPS-117, tiga radar pengawasan udara dan maritim, serta tiga sistem komunikasi satelit.
Iran turut mengklaim menghantam infrastruktur logistik yang menopang operasi militer Amerika Serikat di kawasan.
Menurut IRGC, serangan itu menghancurkan enam hanggar drone MQ-9 Reaper dan lima hanggar pesawat tempur.
Selain itu, empat hanggar perlindungan pesawat, satu hanggar persiapan F-15, satu hanggar drone berisi delapan pesawat nirawak, serta satu hanggar penyimpanan pesawat P-8 Poseidon juga diklaim hancur.
IRGC juga menyebut enam area parkir dan landasan pesawat, empat peluncur roket HIMARS, serta empat sistem pertahanan udara Patriot ikut menjadi sasaran.
Selain itu, Iran mengklaim menghancurkan 17 gudang persenjataan, persediaan suku cadang pesawat, dan perlengkapan angkatan laut.
Sebanyak 12 tangki penyimpanan bahan bakar, satu dermaga bahan bakar, serta satu fasilitas pengisian bahan bakar kapal induk juga disebut hancur.
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan sekitar 190 hingga 290 rudal pencegat THAAD atau sekitar 80 persen dari total persediaan kemungkinan telah digunakan selama konflik.
Lembaga itu juga memperkirakan Amerika telah menghabiskan lebih dari 60 persen stok rudal SM-3.
Selain itu, hingga 1.430 rudal pencegat Patriot diperkirakan telah digunakan.
Di sisi ofensif, pasukan AS disebut telah meluncurkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk dan sekitar 1.100 rudal JASSM.