Arti Gempa Bum Siang dan Malam Hari, Apa Perbedaannya?
Joko Widiyarso July 27, 2026 06:04 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Pernahkah Tribunners mendengar anggapan bahwa waktu terjadinya gempa bumi dipercaya memiliki arti tersendiri? 

Dalam tradisi Jawa, kepercayaan seperti ini sudah dikenal sejak lama dan masih sering menjadi bahan obrolan hingga sekarang.

Tak sedikit orang yang percaya bahwa gempa yang terjadi pada siang hari memiliki makna berbeda dengan gempa yang terjadi pada malam hari. 

Kepercayaan tersebut bukan muncul begitu saja, melainkan berasal dari berbagai catatan dalam Primbon Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, gempa bukan hanya dipahami sebagai peristiwa alam. 

Alam dipercaya memiliki "bahasanya" sendiri, sementara manusia belajar membaca tanda-tanda itu melalui pengalaman hidup yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Cerita tersebut akhirnya seiring berjalannya waktu menjadi warisan subjektif yang kemudian menjadi sebuah tradisi.

Lantas, benarkah gempa siang dan malam memiliki arti yang berbeda menurut Primbon Jawa? Berikut penjelasannya.

Arti Gempa Siang Menurut Primbon Jawa

Museum Gunungapi Merapi di Kabupaten Sleman.
Museum Gunungapi Merapi di Kabupaten Sleman. (website mgm.slemankab.go.id)

Pernah membayangkan bagaimana rasanya ketika bumi berguncang di tengah riuhnya aktivitas dan tumpukan tugas? 

Dilansir dari kajian ilmiah berjudul Gempa Bumi dalam Pandangan-Dunia Orang Jawa: Studi atas Dua Manuskrip Primbon Jawa Abad ke-19 M karya Islah Gusmian, guncangan di siang bolong bukan sekadar peristiwa alam biasa.

Melainkan sebuah pesan pengingat agar orang-orang mulai bersiap dan lebih mawas diri.

Nenek moyang dulu membaca tanda ini bukan untuk menyebar ketakutan, melainkan sebagai ramalan yang yang dikaitkan dengan beberapa aspek kehidupan.

Berikut penjelasannya.

  • Gempa di bawah sengatan matahari sering dipandang sebagai isyarat datangnya kemarau panjang.
  • Ada rasa cemas yang tersirat, bayangan akan tanah sawah yang meretak, panen yang tak seberapa, hingga hewan ternak yang perlahan kurus karena kehabisan rumput segar.
  • Imbas dari alam yang kurang bersahabat tentu merembet ke urusan perut.
    Catatan kuno menggambarkan akan mengalami masa-masa prihatin, ditandai dengan melonjaknya harga bahan pangan. 
  • Tantangan nyata bagi manusia untuk bisa bertahan hidup.
    Waspada, suasana yang serba sulit sering kali memicu tekanan batin.
  • Gempa siang diyakini membawa aura yang membuat emosional.
  • Kekhawatiran akan retaknya ketenteraman daerah mulai dari memanasnya konflik, perebutan takhta, hingga ancaman perang yang menggelisahkan banyak jiwa.

Arti Gempa Malam Menurut Primbon Jawa

Primbon Jawa punya sudut pandang yang cukup melegakan terkait tafsiran gempa malam hari.

Berbeda dengan guncangan di siang hari yang dipenuhi suasana waspada, gempa malam lebih sering ditafsirkan sebagai isyarat datangnya angin segar dan harapan baru.

Meski begitu, leluhur tetap mengingatkan agar suasana tenang ini tidak membuat siapa pun terlena.

Setelah melewati musim kemarau yang melelahkan, gempa malam kerap dibaca sebagai penanda bahwa hujan akan segera menyiram bumi. 

Ada kehangatan yang terasa membayangkan daun-daun kembali bersemi dan tanah yang gersang mulai hidup lagi. 

Tapi ingat, ada juga selipan peringatan untuk warga pesisir agar tetap siaga terhadap potensi angin kencang atau gelombang laut yang mendadak bergejolak.

Gempa di tengah malam dipercaya membawa berkah berupa melimpahnya bahan pangan. 

Bayangan akan harga beras yang terjangkau dan sandang yang mudah didapat tentu menjadi penawar cemas bagi banyak keluarga.

Ada pesan indah yang tersirat untuk kehidupan bermasyarakat. 
Gempa malam diyakini membawa aura keselamatan dan mendorong banyak orang untuk saling peduli. 

Suasana pun terasa lebih harmonis karena orang-orang makin gemar berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun, manuskrip kuno tidak pernah melukiskan sesuatu tanpa celah.
Di balik ramalan baik tersebut, terselip pula peringatan akan munculnya wabah penyakit atau ancaman kesehatan bagi hewan ternak.

Mengapa Tafsiran Gempa Siang dan Malam Bisa Berbeda?

MUSIM TANAM : Sejumlah petani wanita menanam bibit padi di sawah di Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo, Jumat (24/10/2025).
MUSIM TANAM : Sejumlah petani wanita menanam bibit padi di sawah di Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo, Jumat (24/10/2025). (TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando)

Dalam benak tribunners mungkin timbul pertanyaan 

”apa dasar perbedaan makna antara gempa siang dan malam?”

Perbedaan penafsiran ini tidak muncul begitu saja atau sekadar tebak-tebakan. 

Berdasarkan riset peneliti Islah Gusmian Gempa Bumi dalam Pandangan-Dunia Orang Jawa, masyarakat Jawa tempo dulu memandang gempa bumi sebagai sebuah sistem tanda. 

Ada beberapa alasan unik di balik perbedaan tersebut:

Uniknya, naskah Primbon Jawa hanya mengelompokkan gempa ke dalam dua waktu utama.

Hal ini cukup berbeda dari tradisi di daerah lain, seperti naskah kuno dari Aceh atau Padang, yang membagi waktu gempa secara lebih rinci berdasarkan rentang jadwal salat (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, hingga Isya).

Waktu siang atau malam ternyata bukan satu-satunya tolok ukur. 

Dalam Primbon Jawa, biasanya penanda waktu ini masih dipadukan dengan bulan dalam kalender Jawa. 

Jadi, gempa siang di bulan Sura bisa membawa pesan yang sama sekali berbeda jika guncangan serupa terjadi di bulan berikutnya.

Cara pandang ini muncul karena sebagian besar leluhur Jawa hidup dari bercocok tanam. 

Suka duka kehidupan bergantung pada alam mulai dari curahan air hujan, pergantian musim, kesuburan sawah, hingga kesehatan hewan ternak. 

Pada akhirnya, semua tafsiran ini memperlihatkan bagaimana orang-orang Jawa pada masa lalu merekam pengalaman bertahun-tahun dalam membaca gejala alam. 

Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk kearifan lokal agar manusia selalu eling, bijak, dan siap mengantisipasi segala kemungkinan perubahan zaman. (MG Natasya Aulia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.