TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Ancaman gagal panen yang menghantui petani di Dusun Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai mendapat perhatian dari kalangan legislatif.
Wakil Ketua II DPRD Luwu, Andi Mammang, memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu untuk membahas dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian.
Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, berkurangnya debit air akibat musim kemarau membuat sejumlah areal persawahan kesulitan mendapatkan pasokan air.
Akibatnya, petani di beberapa kecamatan mulai dihantui ancaman gagal panen.
"Beberapa daerah pertanian, khususnya sawah masyarakat, memang terdampak kekeringan akibat masuknya musim kemarau sehingga debit atau pasokan air berkurang. Ada daerah yang susah mendapatkan air untuk area persawahannya," kata Andi Mammang kepada Tribun-Timur.com, Senin (27/7/2026) siang.
Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Luwu itu menilai, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun DPRD.
Menurutnya, langkah cepat perlu dilakukan agar kekhawatiran petani tidak semakin bertambah di tengah masa tanam yang sedang berlangsung.
"Ini akan menjadi perhatian pemerintah maupun kami dari legislatif untuk mencarikan solusi dan langkah-langkah yang nantinya bisa membantu atau mengurangi beban masyarakat, khususnya di sektor pertanian," ungkapnya.
Andi Mammang mengaku, DPRD Luwu dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan dengan pihak eksekutif untuk membahas penanganan kekeringan.
Selain itu, ia juga berencana turun langsung meninjau wilayah-wilayah yang terdampak.
"InsyaAllah, kami segera melakukan pertemuan dengan eksekutif terkait hal ini dan akan turun meninjau daerah-daerah yang terdampak kekeringan. Mudah-mudahan ada solusi yang bisa segera dilakukan," katanya.
Sebelumnya, petani di Dusun Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, mengeluhkan sulitnya mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka.
Sebanyak 135 hektare areal persawahan di wilayah tersebut terancam gagal panen setelah hujan tidak turun selama lebih dari satu bulan.
Petani Dusun Lumika, Jafar Sena (55), mengatakan areal persawahan petani di wilayahnya kini mencapai sekitar 135 hektare.
Luasan tersebut bertambah secara bertahap melalui program percetakan sawah sejak 2010.
"Awalnya hanya sekitar 35 hektare. Tahun 2010 bertambah 10 hektare, 2012 sekitar 25 hektare, 2013 bertambah 60 hektare, 2017 sekitar 24 hektare, dan terakhir tahun 2025 bertambah sekitar 12 hektare," kata Jafar.
Namun, perluasan lahan itu tidak diikuti pembangunan jaringan irigasi yang memadai.
"Kalau persoalan air tidak diperhatikan, jelas kami bisa gagal panen total. Yang kami butuhkan sekarang adalah saluran irigasi agar air bisa masuk ke sawah," ujarnya.
Menurut Jafar, hujan tidak lagi turun selama lebih dari satu bulan.
Akibatnya, sawah yang baru memasuki masa tanam mulai mengalami kekeringan.
"Tahun ini air memang sangat kurang. Biasanya masih ada hujan sesekali, tapi sekarang sudah lebih dari satu bulan tidak turun," katanya.
Selama ini, petani hanya mengandalkan mesin pompa untuk menyedot air dari bendungan suplesi.
Namun, jaraknya cukup jauh dan biaya operasionalnya tidak sedikit.
"Tidak semua petani punya pompa. Kebanyakan hanya pinjam. Saya pakai mesin Honda 3,5 PK, sehari habis lima sampai tujuh botol bensin. Satu botol Rp13 ribu," ungkapnya.
Jafar menilai bantuan pipa atau paralon menjadi solusi tercepat untuk menyelamatkan tanaman padi yang tersisa.
"Kalau mau diselamatkan, paling lambat satu minggu. Kalau lewat, sawah di sebelah timur bisa habis," tuturnya.
Selain itu, ia berharap pemerintah segera membangun jaringan irigasi permanen dari Desa Padang Tuju yang telah memiliki bendung.
Menurutnya, Bendungan Padang Sappa di Noling juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
"Setahu saya, pintu air ke daerah sini sebenarnya sudah dipersiapkan," katanya.
Bagi Jafar, target IP 300 masih sulit dicapai jika persoalan air belum terselesaikan.
"Dua kali panen saja masih berat, apalagi tiga kali. Ada juga petani yang khawatir kalau dipaksakan tiga kali panen, humus tanah akan cepat habis," ungkapnya.
Ia menambahkan, ancaman kekeringan telah menjadi persoalan tahunan bagi petani di Noling.
Bahkan, pada tahun ini, kekeringan terjadi dua kali dalam satu musim tanam.
"Kalau panen berhasil, mungkin hanya sekitar 40 persen dari yang ditanam. Kami hanya berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kebutuhan petani. Sebab, sawah ini satu-satunya sumber penghidupan masyarakat di sini," pungkasnya. (*)
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana