SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim telah menentukan rute bus Trans Jatim Koridor II Malang-Kepanjen.
Rute ini melalui Kecamatan Gondanglegi. Dishub Jatim dan Kabupaten Malang melakukan survei titik halte, Senin (27/7/2026).
Sebelumnya, Dishub Kabupaten Malang mengusulkan tiga rute Trans Jatim dari Kota Malang menuju Kepanjen, Kabupaten Malang.
Tiga rute tersebut antara lain Hamid Rusdi - Kacuk - Talangagung, Hamid Rusdi - Sempalwadak - Talangagung, dan Hamid Rusdi - Gondanglegi - Talangagung.
Dari tiga usulan tersebut telah ditentukan rutenya, yakni Hamid Rusdi - Gondanglegi - Talangagung.
Menurut Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jatim, Ainur Rofiq, menyampaikan jika penentuan rute tersebut telah melalui beberapa pertimbangan.
Baca juga: Aliansi Sopir Angkot di Kota Malang Tolak Koridor II Trans Jatim, Minta Pemkot Utamakan Kolaborasi
Pertama, rute tersebut mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah berupa fasilitas seperti halte.
Kedua, melihat permintaan pengguna angkutan umum di Gondanglegi cukup tinggi namun tidak didukung dengan penyediaan sarana angkutan.
"Trans Jatim ini kan Buy The Service (BTS), jadi bus ini ada atau tidak adanya penumpang tetap jalan."
"Dari sini harus ada kepastian layanan, kalau sudah ada kepastian, maka otomatis masyarakat akan terbantu dengan keberadaan Trans Jatim," kata Rofiq ketika dikonfirmasi SURYAMALANG.COM.
Rencananya, bus akan beroperasi pada Oktober 2026.
Untuk mengejar target tersebut, hari ini dilakukan survei penitikan halte.
Survei dimulai Terminal Hamid Rusdi - Bululawang - Gondanglegi - Terminal Talangagung.
Kurang lebih ada 40 titik halte yang disurvei oleh petugas Dishub, yakni 20 titik ke arah Malang dan 20 titik ke arah Talangagung.
Survei dilakukan untuk memastikan titik halte sudah sesuai kebutuhan atau tidak.
"Kalau tidak sesuai, kita geser. Jadi rencana kita penitikan itu sebenarnya banyak, tapi kadang-kadang space-nya kurang."
"Apa terlalu berdekatan, itu juga kita akan bergeser lagi. Kan kalau titik-titik berdekatan, itu nanti mempengaruhi waktu tempuh Trans Jatim," sambungnya.
Menurutnya, penentuan titik halte tidak terbatas oleh jarak, apakah harus 1 kilometer atau 2 kilometer.
Namun, yang menjadi pertimbangan adalah di halte tersebut terdapat potensi permintaan masyarakat untuk berpergian.
Misalnya seperti di pasar, sekolah, pondok, persimpangan desa.
Di antaranya, penitikan dilakukan di halte depan SMP NU dan depan Balai Desa Gondanglegi Kulon.
Setelah dilakukan survei, Rofiq mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi.
Apakah titik tersebut sudah sesuai atau terdapat masukan dan penolakan dari masyarakat.
"Misalkan titiknya jangan di sini, agak sebelah atau digeser ke kanan atau ke kiri, pasti ada itu. Evaluasi akan dilakukan satu minggu setelah ini," bebernya.
Survei berlangsung satu hari ini mulai pagi hingga perkiraan sore hari.
Namun pada pukul 14.30 WIB, petugas sudah menyurvei 20 titik halte sampai di Desa Gondanglegi Kulon. Perkiraan ada 20 halte lagi hingga ke Terminal Talangagung.
Baca juga: Ekspansi Trans Jatim Malang Raya Harus Akomodir Aspirasi dan Perhatikan Nasib Sopir Angkot