21 Kasus Kriminal dalam 20 Hari, Motif Kriminalitas Parepare Diduga Faktor Kesulitan Ekonomi
Muh Hasim Arfah July 27, 2026 08:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, PAREPARE - Polres Parepare Sulawesi Selatan membongkar 21 kasus tindak pidana dalam operasi Pekat Lipu 2026. 

Operasi yang digelar selama 20 hari mulai dari 6 Juli hingga 25 Juli 2026 juga mengungkap 25 tersangka.

Operasi Pekat Lipu adalah razia resmi kepolisian di wilayah Sulawesi Selatan untuk memberantas penyakit masyarakat seperti minuman keras, judi, senjata tajam, narkoba, dan premanisme.

Operasi ini rutin digelar oleh Polda Sulsel beserta jajaran polres setempat guna menjaga keamanan dan ketertiban umum.

Sejumlah kasus yang menonjol diantaranya, pencurian motor, pencurian ringan, kekerasan, hingga judi sabung ayam.

Motif ekonomi dan upaya mencari keuntungan instan menjadi pendorong utama para pelaku nekat melanggar hukum di Kota Cinta.

​Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yuda mengatakan, hasil pemeriksaan awal terhadap para tersangka, kondisi ekonomi yang mendorong pelaku melakukan tindak pidana.

"Semua dilatarbelakangi faktor ekonomi, yang mana para pelaku ini mencari keuntungan (secara instan), termasuk dalam judi sabung ayam dan kasus-kasus pencurian," katanya kepada Tribun-Timur.com di Mapolres Parepare, Senin (27/7/2026).

Padahal ekonomi Kota Bandar Madani, julukan Kota Parepare ini mencapai  5,82 persen pada triwulan I 2026. 

Baca juga: ​Operasi Pekat Lipu 2026 di Parepare, Ungkap 21 Kasus, Ringkus 25 Tersangka

Indra merincikan, Polres Parepare berhasil menuntaskan 4 kasus yang masuk dalam Target Operasi (TO) dengan mengamankan 4 orang tersangka utama.

Sementara untuk pengungkapan di luar target operasi atau Non-TO, jajaran kepolisian menangani sebanyak 17 kasus dengan total 21 orang tersangka yang diamankan.

"Pada Operasi Pekat Lipu ini, kita menetapkan TO sebanyak 4 TO. Untuk TO semuanya terungkap, ada 4 kasus. Kemudian pengungkapan yang merupakan non-TO itu ada 17 kasus dengan tersangka berjumlah 21 orang," ungkapnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Yadi Arodhiskara mengungkapkan, kondisi ekonomi masyarakat khususnya di Parepare saat ini memang memicu meningkatnya angka kriminal.

Kata dia, saat peluang kerja makin sempit dan pendapatan merosot, sebagian orang terdesak hingga nekat memilih jalan pintas demi memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar, seperti makan sehari-hari.

​"Ketika kebutuhan dasar tidak bisa terpenuhi lewat pekerjaan yang resmi atau produktif, orang cenderung mencari jalan pintas," ucapnya saat dihubungi Tribun-Timur.com.

"Apalagi kita lihat kondisi sekarang, harga bahan pokok semua melonjak. Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, ini sudah sulit," lanjutnya.

​Menurutnya, tindak kejahatan jalanan seperti pencurian motor, jambret, hingga judi sabung ayam umumnya dipicu oleh perut kosong dan hilangnya akses ekonomi.

"Kondisi ini sangat berbeda dengan kejahatan seperti korupsi. Jika kejahatan jalanan lahir dari keterdesakan hidup, korupsi justru didorong  demi kepuasan pribadi," ujarnya.

Yadi mengutarakan, lesunya perekonomian di Parepare tidak lepas dari ketatnya kondisi keuangan negara.

Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Parepare ini membeberkan, pemotongan anggaran dari pusat ke daerah yang mencapai hampir 50 persen menjadi pemicu utama macetnya roda ekonomi di tingkat lokal.

​"Beberapa sektor pembangunan yang diharapkan bisa memutar uang di daerah terpaksa terpangkas. Banyak program pemerintah tidak bisa jalan karena keterbatasan anggaran," jelasnya.

​Selama ini, belanja pemerintah pusat melalui transfer APBN menjadi penopang utama perputaran uang dan investasi di daerah.

Sehingga, saat kucuran dana tersebut berkurang drastis, aktivitas ekonomi warga ikut lesu dan kehilangan daya dorong.

"Pemkot juga harusnya tidak pasrah pada dana transfer pusat. Harus lebih kreatif mencari sumber pendanaan baru dan menarik investasi dari pihak luar," tandasnya.

Ekonomi Parepare Tumbuh 5,82 Persen

Ekonomi Kota Parepare menunjukkan tren positif pada Triwulan I 2026.

Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ekonomi Kota Parepare tumbuh 5,82 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian tersebut mencerminkan pemulihan sekaligus penguatan aktivitas ekonomi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Nilai PDRB Kota Parepare atas dasar harga berlaku (ADHB) pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp2,590 triliun.

Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp1,496 triliun.

Pertumbuhan ekonomi Parepare terutama ditopang oleh meningkatnya aktivitas pada sektor jasa, perdagangan, serta sektor akomodasi yang meliputi hotel dan restoran.

Ketiga sektor tersebut menjadi penggerak utama yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di Kota Parepare selama awal tahun 2026.

Selain pertumbuhan ekonomi yang positif, kondisi inflasi di Kota Parepare juga tetap terkendali.

Inflasi tahunan (year-on-year) pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,57 persen.

Angka tersebut menunjukkan harga barang dan jasa di Parepare relatif stabil, sehingga turut mendukung daya beli masyarakat dan menjaga iklim ekonomi tetap kondusif.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,82 persen dan inflasi yang terkendali, Kota Parepare mencatatkan kinerja ekonomi yang cukup solid pada Triwulan I 2026.

Kondisi tersebut menjadi indikator positif bagi keberlanjutan aktivitas perdagangan, jasa, dan sektor pendukung lainnya di kota berjuluk Kota Cinta Habibie-Ainun tersebut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.