Hujan Angin Terjang Klungkung, Kamar Mandi Ambruk, Longsor Putus Akses 10 KK di Pesinggahan Bali
Putu Dewi Adi Damayanthi July 28, 2026 06:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Warga Desa Kusamba I Komang Juniarta tampak menahan kantuk, Senin 27 Juli 2026. 

Ia harus begadang hingga pagi, karena kamar mandi miliknya roboh setelah diterjang banjir Sungai Candigara.

Juniarta mengatakan, hujan deras disertai angin kencang mengguyur Klungkung sejak Minggu 26 Juli 2026, sekitar pukul 23.00 Wita. 

Saat itu ia tidak bisa tidur karena, karena debit air di Sungai Candigara kian meninggi. 

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini 27 Juli 2026, Angin Kencang Terpa Jembrana dan Karangasem

"Saya lihat (debit) air mulai tinggi. Saya ambil sepeda motor, bawa ke kantor polisi (Polsek) agar tidak kena banjir," ujar Juniarta, Senin 27 Juli 2026.

Ia pun tidak tidur, karena khawatir banjir menggenang rumahnya. Terlebih ia memiliki dua anak yang masih kecil. 

"Saya sempat sakit perut, saya ke WC. Saat itu angin kencang, sampai terdengar suara seng," jelasnya.

Saat keluar dari WC itulah, tiba-tiba saja kamar mandinya roboh diterjang banjir. 

Menurutnya Sungai Candigara selama ini rawan banjir, ketika hujan deras dengan durasi lama.

"Selama ini memang rawan banjir, warga selalu khwatir kalau hujan deras," ungkapnya.

Selain menyebabkan kerusakan bangunan di Desa Kusamba, longsor yang memutus akses menuju permukiman warga di Dusun Sangluh, Desa Pesinggahan

Kapolsek Dawan, AKP I Ketut Nariawan mengatakan pihaknya langsung melakukan pengecekan ke lokasi-lokasi terdampak bencana untuk memastikan kondisi warga sekaligus mendata kerusakan akibat cuaca buruk tersebut.

"Curah hujan yang tinggi disertai angin kencang terjadi mulai pukul 23.00 Wita hingga sekitar pukul 05.00 Wita. Dari hasil pengecekan terdapat beberapa titik yang mengalami kerusakan di wilayah Kecamatan Dawan," ujarnya.

Kerusakan terparah terjadi di Dusun Bingin, Desa Kusamba. Sebuah bangunan kamar mandi milik I Komang Juniarta ambruk akibat hujan dan angin kencang. 

Peristiwa tersebut menyebabkan kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp10 juta.

Di Desa Pesinggahan, cuaca ekstrem juga merusak atap gudang milik I Gede Uli yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kiriman menuju Nusa Lembongan. Kerugian akibat kerusakan itu diperkirakan sekitar Rp5 juta.

Tak hanya merusak bangunan, hujan deras juga memicu longsor yang menutup akses jalan menuju permukiman sekitar 10 kepala keluarga (KK) di wilayah Sangluh, Desa Pesinggahan. 

Akibatnya, aktivitas warga sempat terganggu karena jalan tidak dapat dilalui.

"Kami telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan di lokasi terdampak agar akses masyarakat dapat segera kembali normal," ungkap AKP I Ketut Nariawan 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak, jajaran Polsek Dawan juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako kepada I Komang Juniarta, pemilik rumah yang kamar mandinya ambruk di Desa Kusamba. (mit)

Banjir Rendam Sawah Pesinggahan

Curah hujan tinggi di Kabupaten Klungkung juga menyebabkan banjir di Desa Pesinggahan, Senin 27 Juli 2026. 

Genangan air merendam areal persawahan di sisi utara Jalan Bypass Ida Bagus Mantra hingga hamparan sawah tampak menyerupai danau.

Perbekel Desa Pesinggahan, I Nyoman Suastika, menyebut banjir di kawasan tersebut bukan lagi persoalan baru. 

Menurutnya, kondisi itu semakin sering terjadi setelah dibangunnya sebuah jembatan menuju kawasan perumahan di Dusun Suwitrayasa.

Suastika menilai konstruksi jembatan tersebut menjadi salah satu penyebab terganggunya aliran Sungai Bugbugan. 

Tiang pancang yang berada di tengah alur sungai disebut kerap menahan sampah saat debit air meningkat, sehingga aliran air tidak mengalir lancar dan akhirnya meluap ke lahan pertanian warga.

"Setiap hujan deras, sawah di Dusun Suwitrayasa maupun Dusun Kanginan hampir selalu terdampak banjir. Warga menduga penyebabnya karena aliran sungai terhambat," ujarnya.

Ia menjelaskan, persoalan tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. 

Bahkan, instansi tersebut dikatakan telah melayangkan teguran tertulis kepada pihak pengembang agar menghentikan aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya air sekaligus membongkar bangunan yang dinilai bermasalah.

Suastika juga mengungkapkan, sejak awal pembangunan, pihak pengembang tidak pernah berkoordinasi dengan pemerintah desa. 

Saat dikonfirmasi mengenai perizinan, pengembang saat itu hanya menyampaikan bahwa proses pengurusan izin masih berlangsung.

"Karena izinnya belum selesai, saya sempat menyarankan agar lebih dulu membuat senderan karena lokasi proyek berada di tepi sungai," katanya.

Namun dalam perkembangannya, pengembang justru membangun jembatan sebagai akses utama menuju kawasan Perumahan Geria Permai. 

Setelah proyek perumahan berjalan, jembatan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan hingga akhirnya tidak dapat digunakan.

Situasi semakin rumit ketika warga penghuni perumahan berusaha meminta pertanggungjawaban kepada pengembang. 

Menurut Suastika, pihak pengembang sudah tidak dapat dihubungi sehingga penyelesaian persoalan menjadi terhambat. (mit)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.