TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ancaman baru dilontarkan Iran di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut negara yang membantu AS bisa menjadi target sah.
Inggris menjadi salah satu negara yang secara terbuka disebut dalam peringatan tersebut.
Iran menuduh pesawat pengebom AS menggunakan pangkalan milik Inggris untuk menyerang wilayahnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat.
Konflik dipicu serangkaian insiden di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
AS sebelumnya mengklaim menyerang puluhan target militer Iran sebagai respons atas ancaman di kawasan.
Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Presiden Donald Trump juga menegaskan Washington tetap siap melancarkan operasi militer besar jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS.
Iran menilai setiap negara yang membantu operasi Amerika berarti ikut terlibat dalam perang.
Situasi ini kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas Timur Tengah dan keamanan pasokan energi global.
Sejumlah negara pun terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi agar perang tidak semakin meluas.
Baca juga: Donald Trump Dinilai Lebih Serius Serang Iran, DPR Amerika Serikat Setujui Anggaran Rp1.700 Triliun
Seperti diketahui, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Inggris dapat menjadi “target yang mutlak dan sah” apabila membantu Amerika Serikat (AS) dalam perang dengan Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan IRGC melalui media pemerintah Iran, IRIB, setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terkait konflik di kawasan Teluk.
IRGC menegaskan bahwa negara mana pun yang memberikan dukungan kepada Washington, termasuk Inggris dan sejumlah negara Teluk, dapat menjadi sasaran.
“Setiap negara yang mendukung Amerika Serikat dalam konflik ini dapat menjadi target,” kata IRGC, seperti dilaporkan media pemerintah Iran, Sabtu (25/7/2026).
Mereka juga menuduh bahwa beberapa pesawat pengebom AS menggunakan pangkalan udara milik Inggris dalam operasi terhadap Iran.
Ancaman Iran terhadap Inggris muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangkaian insiden di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak strategis dunia.
Sebelumnya, Iran dituduh melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan tersebut, yang kemudian dibalas Amerika Serikat dengan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah melancarkan serangan terhadap puluhan target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar, jaringan komando, fasilitas rudal antikapal, hingga kapal milik IRGC di sekitar Selat Hormuz.
Iran kemudian mengklaim melakukan serangan balasan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Teheran juga memperingatkan bahwa pihaknya akan mempertahankan kepentingan nasionalnya jika mendapat serangan lebih lanjut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington masih siap melakukan operasi militer besar terhadap Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Meski sempat menghentikan serangan udara selama beberapa waktu, Trump menegaskan penghentian sementara tersebut bukan berarti Amerika mundur.
“Penghentian sementara serangan bukan berarti kami mundur. Kami masih siap melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran jika mereka tidak melakukan apa yang kami inginkan,” ujar Trump dalam wawancara dengan media Prancis LCI.
Penghentian serangan AS disebut terjadi setelah adanya perkembangan dalam pembicaraan yang dimediasi Oman terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, militer AS tetap menyiapkan opsi untuk kembali melakukan operasi jika situasi kembali memburuk.
Sementara itu, Iran menilai dukungan negara-negara Barat terhadap operasi Amerika dapat menjadikan mereka bagian dari perang.
IRGC menegaskan bahwa Teheran memiliki hak untuk merespons setiap ancaman terhadap keamanan dan kedaulatannya.
Ketegangan Iran-AS ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi global.
Sejumlah negara terus mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi untuk mencegah konflik meluas.
Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran.
Serangan tersebut terjadi setelah upaya diplomasi terkait program nuklir Iran di Jenewa tidak menghasilkan kesepakatan.
AS dan Israel menuding Teheran berusaha mengembangkan senjata nuklir yang dapat mengancam keamanan kawasan.
Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa program nuklirnya hanya digunakan untuk tujuan damai, seperti kebutuhan energi dan penelitian.
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Setelah proses pemilihan oleh Majelis Ulama Iran, posisi kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai bentuk balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Selain itu, Iran juga meningkatkan pengawasan terhadap Selat Hormuz, jalur laut penting yang menjadi penghubung utama perdagangan energi global.
Setelah konflik berlangsung hampir 40 hari, Pakistan berperan sebagai mediator dan membantu mempertemukan pihak-pihak terkait hingga tercapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026.
Upaya penghentian konflik kemudian dilanjutkan melalui jalur diplomasi dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran pada 17 Juni 2026.
Kesepakatan tersebut ditandatangani Presiden AS Donald Trump di Paris dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran.
Qatar kemudian menyampaikan bahwa pembicaraan lanjutan antara kedua negara akan digelar setelah rangkaian pemakaman Ali Khamenei yang berlangsung pada 4 hingga 9 Juli 2026 selesai dilaksanakan.
Namun, proses menuju perdamaian kembali terganggu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap lebih dari 80 target di Iran pada 7 Juli 2026, bertepatan dengan berlangsungnya prosesi pemakaman tersebut.
Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), serangan itu dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.
Selain memperkuat tekanan militer, Washington juga menghentikan kebijakan pengecualian ekspor minyak Iran yang sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan dalam nota kesepahaman kedua negara.
Pada Sabtu, Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan terhadap Kota Hodeidah di Yaman yang dikuasai kelompok Houthi, di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait konflik AS dan Iran.
Presiden Donald Trump menyebut dialog dengan Teheran masih berlangsung dan kemungkinan serangan besar dapat dihindari, meski AS tetap dalam kondisi siap siaga.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada ancaman maupun tekanan.
Di sisi lain, Israel memperketat operasi keamanan di Tepi Barat setelah bentrokan yang menewaskan enam orang, termasuk warga Palestina dan tentara Israel.
(TribunNewsmaker.com/Tribunnews/Yunita)