BANJARMASINPOST.CO.ID- DI balik kemudahan layanan transportasi berbasis aplikasi yang sehari-hari kita rasakan, ada kenyataan pahit yang semakin dirasakan para pengemudi ojek online (ojol).
Sebagaimana pengalaman sejumlah pengemudi ojol di Banjarmasin, kini mendapatkan penumpang tidak lagi semudah beberapa tahun lalu.
Mereka harus menunggu lebih lama, dan bersaing dengan jumlah pengemudi yang terus bertambah, sementara kebutuhan hidup sehari-hari tidak pernah berhenti.
Padahal, bagi banyak orang, menjadi pengemudi ojol bukan sekadar pekerjaan sampingan. Ojol sudah menjadi sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membayar biaya pendidikan anak, hingga mencicil kendaraan yang digunakan untuk bekerja.
Ketika jumlah order terus menurun, dampaknya langsung terasa pada kondisi ekonomi rumah tangga mereka.
Persaingan yang makin ketat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari bertambahnya jumlah mitra pengemudi hingga banyaknya operator aplikasi yang bersaing di pasar.
Akibatnya, jumlah penumpang yang tersedia harus dibagi kepada semakin banyak pengemudi. Kondisi ini membuat pendapatan rata-rata pengemudi terus menurun.
Belum lagi hantaman kenaikan harga BBM dan onderdil kendaraan. Kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda agar mereka bisa tetap bekerja di jalanan.
Kebijakan pemangkasan potongan komisi aplikasi ojol menjadi maksimal 8 persen yang resmi mulai berlaku pada Rabu (1/7) silam ternyata juga tak banyak membantu.
Kini saatnya pemerintah bersama para pemangku kepentingan mengevaluasi tata kelola industri transportasi daring.
Salah satu usulan yang kerap disampaikan para pengemudi adalah adanya pengaturan yang lebih baik terkait jumlah operator dan mekanisme perekrutan mitra agar pertumbuhan jumlah pengemudi lebih seimbang dengan kebutuhan pasar.
Tujuannya bukan untuk menghambat persaingan, melainkan menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan bagi seluruh pihak.
Selain itu, sistem bagi hasil antara platform dan pengemudi juga perlu dikaji secara berkala agar tetap memberikan keseimbangan antara keberlangsungan usaha perusahaan dan kesejahteraan mitra pengemudi.
Transparansi dalam perhitungan potongan serta skema pembagian pendapatan dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun kepercayaan dan rasa keadilan.
Transportasi online telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Agar layanan ini tetap berkualitas, kesejahteraan para pengemudi sebagai ujung tombak pelayanan juga perlu mendapat perhatian. (*)