- Seorang komandan senior Pasukan Mobilisasi Populer atau PMF Irak mengakui milisi Irak telah berada di wilayah Iran.
Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara eksklusif bersama Iran International pada Senin (27/7).
Komandan tersebut meminta identitasnya dirahasiakan karena persoalan ini dinilai sangat sensitif.
Menurutnya, para milisi berada di Iran sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan serangan darat Amerika Serikat.
Ia menyebut keberadaan mereka merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran.
Komandan itu menegaskan para milisi tidak dikirim melalui struktur resmi PMF, melainkan datang atas dasar keyakinan ideologis untuk mendukung Iran.
Ia juga mengklaim lebih banyak warga Irak siap diberangkatkan apabila Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC meminta bantuan tambahan.
Menurutnya, sejumlah unit milisi kini telah bersiaga di wilayah selatan Iran untuk menghadapi berbagai kemungkinan di medan tempur.
Pengerahan tersebut disebut sebagai langkah persiapan apabila konflik berkembang menjadi operasi darat berskala besar.
Di sisi lain, AS terus meningkatkan tekanan kepada pemerintah Irak agar melucuti kelompok-kelompok PMF.
Washington menilai sejumlah faksi bersenjata pro-Iran kerap mengancam personel serta kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.
AS juga menilai PMF menjadi salah satu instrumen penting Iran dalam memperluas pengaruhnya di Timur Tengah.
Karena itu, Washington mendesak seluruh kelompok bersenjata berada di bawah kendali penuh pemerintah Irak.
Pemerintah AS bahkan memperingatkan kemungkinan pembatasan kerja sama militer, apabila Baghdad tetap membiarkan kelompok-kelompok tersebut beroperasi di luar kendali negara.
Di tengah situasi itu, spekulasi mengenai kemungkinan invasi darat AS ke Iran terus menjadi perhatian.
Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi terkait operasi tersebut.
Sementara itu, pemerintah AS maupun Irak belum memberikan tanggapan resmi terkait pengakuan komandan PMF tersebut.