- Pasukan Mobilisasi Populer atau PMF Irak terang-terangan menyatakan siap membela Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Pengakuan itu disampaikan seorang komandan senior PMF dalam wawancara eksklusif bersama Iran International pada Senin (27/7).
Komandan tersebut mengungkapkan sejumlah milisi Irak telah berada di wilayah Iran.
Mereka disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan operasi darat Amerika Serikat.
Menurutnya, keberadaan para milisi itu merupakan langkah yang wajar.
Mengingat situasi keamanan kawasan terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Ia menegaskan para milisi tidak dikirim melalui struktur resmi PMF, melainkan datang secara sukarela karena kesamaan ideologi dengan Iran.
Komandan itu juga mengklaim lebih banyak warga Irak siap diberangkatkan apabila Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC meminta tambahan personel.
Sejumlah unit milisi disebut telah bersiaga di wilayah selatan Iran untuk memperkuat pertahanan jika konflik berkembang menjadi perang darat.
PMF sendiri dibentuk pada 2014 untuk membantu pemerintah Irak memerangi ISIS dan kini menjadi bagian dari sistem keamanan resmi negara.
Meski telah dilegalkan pemerintah Irak, sejumlah faksi utama di dalam PMF diketahui memiliki hubungan ideologi serta dukungan logistik dengan Iran.
Kedekatan tersebut membuat PMF beberapa kali dikaitkan dengan berbagai ketegangan antara Iran dan AS di kawasan Timur Tengah.
Washington menilai sebagian faksi PMF menjadi instrumen penting Teheran dalam memperluas pengaruh militer dan politiknya di kawasan.
Karena itu, AS terus mendesak pemerintah Irak agar seluruh kelompok bersenjata berada di bawah kendali penuh negara.
Pemerintah AS juga memperingatkan adanya pembatasan kerja sama militer, apabila Baghdad tetap membiarkan kelompok tersebut beroperasi secara independen.
Di tengah situasi tersebut, pengakuan komandan PMF dinilai semakin memperkuat spekulasi mengenai persiapan menghadapi kemungkinan perang darat antara AS dan Iran.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi dari Washington mengenai rencana operasi darat terhadap wilayah Iran.
Sementara itu, pemerintah AS maupun Irak belum memberikan tanggapan resmi terkait pengakuan komandan PMF tersebut.