Jerit Petani di OKI Imbas Kemarau, Rogoh Rp100 Ribu Sehari untuk Beli Pertalite Demi Pompa Air
Shinta Dwi Anggraini July 28, 2026 01:01 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Musim kemarau membawa beban berat bagi para petani sawah di Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan.

Betapa tidak, biaya operasional atau modal bertanam padi kini membengkak hingga dua kali lipat akibat tingginya ongkos untuk menyedot air (pompa).

Seorang petani sawah di Desa Lubuk Seberuk, Dwi, mengatakan perjuangan ekstra harus dilakukan oleh petani saat kondisi cuaca kemarau seperti sekarang.

Mengairi lahan seluas satu hektare saja, Dwi membutuhkan waktu memompa air selama lima hari berturut-turut dengan durasi sekitar lima jam per harinya.

"Lima hari itu pun airnya baru seperti ini (belum penuh). Itu belum bisa untuk ditanam karena proses awal penggemburan tanah," ungkap Dwi saat menjelaskan kondisi lahannya, Selasa (28/7/2026).

Baca juga: Petani Ikan Keramba di OKI Merugi, Tebar 10.000 Bibit Patin, Hanya 100 yang Hidup Dampak Kemarau

Dwi merincikan, proses pengolahan lahan di musim kemarau sangat menguras kantong.

Sebelum bibit padi ditanam, lahan harus diisi air total 3 kali (makan waktu 15 hari).

Penderitaan belum selesai karena usai ditanam, mesin pompa air harus terus menyala setiap hari hingga masa panen tiba.

Untuk menghidupkan mesin sedot air, Dwi harus merogoh kocek Rp100.000 per harinya hanya untuk membeli bensin.

"Sehari itu minyak (Pertalite) mesin ini Rp100 ribu. Belinya di eceran harga Rp15 ribu (per liter). Kalau beli di SPBU bensin tidak bisa, susah antrenya," jelasnya.

Menurutnya, bila dihitung secara keseluruhan, Dwi mengaku modal yang harus dikeluarkan di musim kemarau ini sangat meledak jika dibandingkan dengan musim hujan.

"Kalau musim hujan, satu hektare itu setelah tanam modalnya pegang uang Rp10 juta. Tapi kalau cuaca seperti ini, modal bisa sampai Rp17 juta, bahkan nyampe Rp20 juta per hektare. Modal untuk airnya itu yang bikin meledak," keluh Dwi.

Sulitnya mendapatkan sumber air ini berdampak fatal bagi sebagian petani. Dwi menceritakan, terdapat lahan sawah di daerah dalam yang sama sekali tidak memiliki sumber air untuk disedot.

"Akibatnya, para petani di beberapa tempat terpaksa area sawah mereka jadi gagal panen," ujarnya.

Melihat tingginya risiko dan mahalnya modal air, banyak petani di Desa Lubuk Seberuk akhirnya memilih menyerah pada musim tanam ketiga ini.

Banyak lahan sawah yang dibiarkan kosong begitu saja oleh pemiliknya. Menurut Dwi, para petani tersebut juga tidak beralih menanam sayuran atau palawija.

"Di sebelah sana itu tidak ditanam (musim ketiga). Berhenti, nganggur saja. Bukannya dialihfungsikan jadi sayuran, tapi memang tidak ditanam karena malas mikir modal airnya tadi," tutupnya.

 

 

 

Ikuti dan Bergabung di Saluran WhatsApp TribunSumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.