TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang mendorong pihak keluarga siswi SD Negeri 33 Rawang untuk menempuh jalur hukum dan melakukan visum.
Langkah tersebut disarankan untuk membuktikan secara medis dugaan perundungan (bullying) yang viral di media sosial, sekaligus mencegah timbulnya saling tuduh di ruang publik.
Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova, menyampaikan hal tersebut saat mengonfirmasi langsung isu kekerasan anak ke pihak sekolah di Padang, Senin (27/7/2026).
"Jika orang tua korban kurang puas, silahkan buat laporan dan visum anaknya biar nanti tidak saling tuduh," ujar Yopi saat di SDN 33 Rawang.
Yopi menjelaskan bahwa kedatangannya ke sekolah tersebut didasari oleh informasi yang beredar luas di media sosial mengenai tuduhan perundungan berujung maut.
Baca juga: Polda Sumbar Batalkan Pelantikan Jabatan Baru Perwira Terduga Pelecehan Polwan
Namun, berdasarkan hasil klarifikasi awal dengan jajaran pendidik, Disdikbud Kota Padang tidak menemukan adanya indikasi perundungan maupun tindakan kekerasan terhadap korban.
Menurut Yopi, siswi yang meninggal dunia tersebut sebenarnya menjalin hubungan pertemanan dengan rekan-rekan sekelasnya selama di sekolah.
"Kami berharap data yang belum pasti ini tidak menjadi persoalan di kemudian hari. Tidak ada perundungan, mereka bersahabat," tegas Yopi.
Di tengah terbukanya arus informasi saat ini, pihak dinas juga meminta seluruh tenaga pendidik untuk tidak takut menyampaikan kebenaran sesuai kondisi riil di lapangan.
"Kita zaman terbuka dan kami kuatkan para guru maupun pihak sekolah untuk terbuka dengan benar. Jika tidak salah, tidak usah takut," tambahnya.
Baca juga: Terungkap Alasan Warga Hilang di Padang, Diduga Stres Kabur dari RS Unand Kemudian Masuk Hutan
Sebagai langkah antisipasi Disdikbud Kota Padang mengimbau seluruh satuan pendidikan di wilayahnya untuk terus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, termasuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Bullying dan Kekerasan.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 33 Rawang, Siptah Hayadi, secara tegas membantah adanya praktik perundungan yang menyebabkan siswinya meninggal dunia.
Siptah menegaskan bahwa hasil penelusuran internal yang dilakukan oleh pihak sekolah tidak menemukan bukti apa pun yang mengarah pada tindakan perundungan.
"Keterangan dari orang tua NA tidak sesuai dengan keterangan guru dan fakta di sekolah," ungkap Siptah.
Ia tak menampik bahwa para guru sempat terkejut (shock) saat pertama kali mendengar kabar mengenai dugaan perundungan tersebut, namun aktivitas belajar mengajar di sekolah kini tetap berjalan normal.
Baca juga: Seorang Lansia Diduga Hanyut saat Memancing di Padang Pariaman, Tim SAR Dikerahkan
Pihak sekolah juga memastikan bahwa sistem pengawasan terhadap murid telah diterapkan dengan ketat, seperti membatasi izin keluar kelas saat jam pelajaran serta pengawasan guru pada jam istirahat.
Siptah menambahkan bahwa almarhumah dikenal sebagai sosok murid yang baik dan sangat mudah bergaul dengan teman-teman sekelasnya.
Sebelumnya, suasana duka yang mendalam masih menyelimuti kediaman keluarga Wahid Al Amin di Kota Padang.
Harapan sederhana seorang anak perempuan yang hendak merayakan hari ulang tahunnya yang ke-10, berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menyayat hati keluarga dan publik.
Putri ketiga dari empat bersaudara yang memiliki saudara kembar, seorang siswi kelas 3 di SDN 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, berinisial NA (10), menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada Kamis (23/7/2026).
Ironisnya, hari kepergian sang buah hati bertepatan persis dengan hari ulang tahunnya yang ke-10.
Baca juga: Seorang Lansia Diduga Hanyut saat Memancing di Padang Pariaman, Tim SAR Dikerahkan
Di balik kepergian bocah yang dikenal baik dan tidak pernah mengganggu orang lain tersebut, keluarga menyimpan kecurigaan besar.
NA diduga kuat menjadi korban tindakan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah hingga berujung pada cedera fatal yang merenggut nyawanya.
Tragedi ini bermula pada Senin pekan lalu, ketika korban pulang dari sekolah. Menurut keterangan keluarga, bocah malang tersebut menunjukkan gelagat yang tidak biasa setibanya di rumah setelah jam pelajaran berakhir.
Wahid Al Amin, ayah korban, menceritakan bahwa putrinya terlihat murung dan mengeluhkan kondisi badan yang tidak nyaman sepulang dari sekolah. Rasa tidak nyaman itu perlahan berubah menjadi keluhan fisik yang serius menjelang malam hari.
Keesokan harinya pada Selasa, kondisi kesehatan NA semakin memburuk secara drastis. Korban bahkan tidak mampu lagi pergi ke sekolah karena merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya, khususnya di area pinggang.
Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar Hari Ini Selasa 28 Juli 2026, Mayoritas Berawan
Puncak kecemasan keluarga terjadi ketika rasa sakit tersebut membuat korban mengalami kesulitan bergerak dan demam tinggi.
Keluarga sempat berencana membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun proses evakuasi terkendala karena korban menjerit kesakitan setiap kali hendak dipindahkan.
Setelah berhasil mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, nyawa bocah kelas tiga SD tersebut tidak berhasil diselamatkan.
NA akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit pada Kamis, 23 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang diterima keluarga, tidak ditemukan adanya luka lebam atau tanda-tanda benturan pada bagian luar tubuh korban.
Kendati demikian, tim medis mendeteksi adanya cedera serius pada organ bagian dalam tubuh NA.
Pemeriksaan tersebut mengungkapkan adanya pergeseran tulang pada area pinggang korban.
Baca juga: Pria di Sijunjung Digerebek Polisi Dini Hari, Sabu Bungkus Pink dan Bong Disita dari Kotak Rokok
Temuan inilah yang kemudian memicu dugaan kuat dari pihak keluarga bahwa cedera tersebut diakibatkan oleh kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
Wahid menduga putrinya sempat mengalami kekerasan fisik, seperti didorong atau dipukul oleh pihak lain, meskipun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti bentuk insiden yang menimpa anaknya.
Dugaan tersebut semakin diperkuat oleh pengakuan korban sebelum meninggal dunia.
“Sebelum berpulang, NA sempat memberikan informasi penting kepada keluarganya mengenai nama-nama rekan sekolah yang diduga menjadi pelaku perundungan terhadap dirinya,”ucap Wahid saat ditemui TribunPadang.com, Minggu (26/7/2026).
Tindakan perundungan tersebut ternyata bukan kali pertama dialami oleh korban.
Keluarga mengungkapkan bahwa NA sejatinya telah menjadi sasaran perundungan sejak duduk di bangku kelas 2 SD.
Pihak keluarga bahkan sempat melaporkan perbuatan tersebut kepada pihak sekolah, namun tindakan intimidasi diduga kembali berulang saat korban naik ke kelas 3.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, PCNU Padang Belum Tentukan Dukungan untuk Calon Ketua Umum PBNU
Kenangan manis bersama sang buah hati kini tinggal kenangan yang menyakitkan bagi Wahid dan keluarga.
Sebelum berpulang dan merayakan hari lahirnya, NA sempat menyampaikan keinginan sederhana kepada keluarganya untuk dibuatkan kue bolu cokelat sebagai kado ulang tahun.
Keinginan terakhir bocah perempuan tersebut kini selamanya tidak akan pernah terwujud. Kue bolu cokelat yang diimpikannya hadir bersamaan dengan kepergiannya untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta.
Terkait langkah hukum dan administratif, pihak keluarga menyatakan telah mencoba melakukan konfirmasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.
Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu tanggapan resmi dari instansi terkait sembari mempertimbangkan langkah laporan formal ke pihak kepolisian.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, PCNU Padang Belum Tentukan Dukungan untuk Calon Ketua Umum PBNU
Wahid Al Amin menyampaikan harapan yang besar agar kasus ini dapat diusut secara tuntas dan transparan oleh pihak berwenang.
Ia tidak ingin ada lagi anak-anak lain yang menjadi korban kekerasan serupa di lingkungan pendidikan.
Selain itu, pihak keluarga mendesak pihak sekolah untuk lebih proaktif dalam mengawasi, melindungi, dan menjaga para murid selama berada di lingkungan sekolah.
Pengawasan yang ketat dinilai sangat krusial agar insiden perundungan berujung maut seperti yang merenggut nyawa NA tidak terulang kembali di masa mendatang. (*)