Dalam dunia pergamelanan, bonang berfungsi sebagai instrumen pemuka yang menuntun arah lagu, memberi aba-aba pergantian bagian musik (gending), dan memperkaya jalinan ritme.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sejarah Indonesia nencatat, berdasarkan kepercayaan dan mitologi masyarakat Jawa, gamelan pertama kali diciptakan pada 167 Saka atau sekitar abad ke-3 oleh Sang Hyang Guru (Batara Guru), penguasa Tanah Jawa yang bersemayam di Gunung Mahendra (sekarang Gunung Lawu/Medang Kamulan).
Proses penciptaannya, awalnya Sang Hyang Guru menciptakan sebuah gong tunggal yang digunakan sebagai sinyal untuk memanggil para dewa. Karena pesan yang ingin disampaikan semakin rumit, dia menambahkan alat-alat musik lain hingga akhirnya membentuk seperangkat ansambel gamelan jangkep (lengkap).
Jika dilihat dari bukti peninggalan sejarah dan arkeologi, gamelan tidak lahir secara mendadak. Ia berevolusi secara bertahap.
Bukti visual tertua terkait alat musik ini ditemukan pada relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Relief tersebut menampilkan instrumen seperti kendang, suling, saron, gambang, kecapi, dan simbal.
Pada abad ke-12 muncul istilah gangsa (kata halus untuk gamelan) yang tercatat dalam kitab kuno seperti Smaradahana.Pada periode ini pula diperkirakan set gamelan tertua yang masih dilestarikan sampai saat ini—seperti Gamelan Munggang dan Gamelan Kodok Ngorek—mulai dibuat.
Abad ke-14-15 (era Majapahit) gamelan disempurnakan hingga bentuk dan susunannya mendekati perangkat gamelan modern. Dalam satu set gamelan Jawa lengkap (gamelan ageng), instrumen-instrumennya dibagi menjadi tiga bagian utama alat musik berdasarkan fungsinya dalam struktur musik (karawitan).
Tiga bagian itu adalah pemimpin atau pengatur irama yang disebut sebagaipamurba yrama, pelaku atau pembawa melodi yang dikenal sebagai pamurba lagu atau ricikan panerus, dan penjaga struktur atau pemangku irama atau yang dikenal sebagai pamangku yramayang berfungsi sebagai pembuat kerangka dasar lagu (penanda pembagian siklus gending).
Masing-masing kelompok memiliki jenis alat musik yang berbeda. Salah satunya adalah alat musik bonang, yang masuk kategori pamurba lagu atau ricikan panerus.
Bonang adalah alat musik yang termasuk dalam kelompok instrumen yang memainkan alur melodi utama atau perhiasan melodi.
Bonang adalahinstrumen berbentuk kumpulan gong-gong kecil yang dipasang secara horizontal di atas bingkai kayu bertali (disebut rancak).Ia terdiri atas cawan/gong kecil berpencu (disebut pencon) yang ditata dalam dua deret sejajar.
Ada tiga jenis bonang dalam satu set gamelan, yang dikategorikan berdasarkan ukurannya.
1.Bonang Panembung, yang berukuran paling besar dengan nada paling rendah.
2.Bonang Barung, yang ukurannya sedang dan fungsinya sebagai pemimpin instrumen melodi.
3.Bonang Peneru, yang ukurannya paling kecil dengan nada paling tinggi dan dimainkan dengan kecepatan dua kali lipat dari Bonang Barung.
Sejarah singkat bonang
Asal-usul alat musik bonang disebut berasal dari Kebudayaan Perunggu.
Bentukawal instrumen seperti bonang mulai berkembang pesat pada era kerajaan Jawa Kuno (abad ke-8 hingga abad ke-14 M). Relief di relief candi-candi di Jawa menunjukkan perkembangan alat musik pukul logam itu.
Bentuk bonang yang dikenal sekarang mengalami penyempurnaan sekita abad 16-17 (masa Mataram Islam), ketika susunan sistem nada (laras sendro dan pelog) dibakukan dan struktur permainan gending disempurnakan oleh para wali dan seniman keraton.
Menurut beberapa sumber,pada masa Mataram Kuno hingga Majapahit, instrumen berpenjebol pencu seperti bonang mulai berkembang pesat. Pencuadalah istilah dalam dunia karawitan untuk menyebut bagian benjolan yang menonjol di tengah-tengah instrumen musik logam (seperti gong, bonang, kenong, atau kempul).
Jadi, instrumen berpencu merujuk pada kelompok alat musik yang memiliki benjolan di tengahnya sebagai area utama untuk ditabuh. Di masa tersebut, bonang bukan sekadar alat musik hiburan, melainkan memiliki fungsi kultural yang dalam.
Dalam bab pergamelanan, bonangbertindak sebagai pembawa melodi utama atau pembuka (muka gending). Tanpa bonang, para pengrawit lain sulit menentukan arah lagu yang akan dimainkan.
Bonang juga menjadi sarana ritual dan upacara. Gamelan dan bonang dimainkan dalam upacara keagamaan, penyambutan tamu agung kerajaan, hingga iringan wayang kulit yang sarat nilai spiritual dan filosofis.
Pada era Kesultanan Demak, para wali—terutamanya Sunan Bonang—menggunakan instrumen ini sebagai media dakwah. Dia menggubah gending-gending bernuansa islami yang memikat hati masyarakat untuk berkumpul dan mendengarkan ajaran kebaikan.
Fungsi bonang dalam gamelan
Bonang memiliki peran yang sangat strategis dalam seni karawitan. Bonang Barung, misalnya, sering digunakan untuk mengawali sebuah lagu (gending) sebelum instrumen gamelan lainnya mulai masuk bersama-sama.
Bonang mengarahkan alur melodi dan memberikan petunjuk (sasmita) bagi pemain instrumen lain ketika akan ada perubahan tempo, ritme, atau perpindahan bagian gending. Alat musik ini juga bertugas mengisi selah-selah nada dengan pola jalin-menjalin yang cepat (imbal atau cengkok), sehingga membuat alunan musik gamelan terdengar ramai dan hidup.
Di zaman sekarang, keberadaan bonang tidak lagi terbatas pada bangsal keraton atau pertunjukan wayang tradisional semata. Bonang telah mengalami evolusi fungsi dan adaptasi.
Komposer musik modern sering menggabungkan suara bonang dengan instrumen barat seperti biola, cello, hingga synthesizer. Karakter suara bonang yang khas memberikan nuansa etnik yang kuat pada komposisi fusion.
Bahkan bonang sudah go international. Ia bisa kita jumpai di berbagai universitas luar negeri seperti di AS, Inggris, dan Australia, terutama untuk bahan studi etnomusikologi. Begitulah riwayat bonang kebanggaan kita semua.