TRIBUNJOGJA.COM – Pernahkah Tribunners membaca istilah “kriuk” di komentar ataupun konten Tiktok?
Mulai dari komentar seperti "sedep, mantep, kriuk", "kriuk banget", hingga sekadar satu kata "kriuk" sebagai balasan terhadap sebuah video.
Sekilas memang kata tersebut memang identik dengan bunyi makanan yang renyah.
Namun, di media sosial, "kriuk" tidak lagi digunakan dalam arti harfiahnya.
Istilah ini justru berkembang menjadi salah satu bahasa gaul yang sering dipakai warganet untuk mengekspresikan reaksi terhadap suatu situasi.
Menariknya, berbeda dengan istilah gaul lain seperti ghosting, love bombing, atau red flag yang memiliki definisi cukup jelas, "kriuk" justru tidak mempunyai makna baku.
Arti kata ini bergantung pada konteks percakapan dan situasi yang sedang dibahas.
Misalnya, ketika seseorang mengunggah video memasak dengan hasil yang memuaskan atau video restorasi barang yang bersih dan rapi, tidak sedikit pengguna yang berkomentar, "Sedep, mantep, kriuk."
Dalam konteks tersebut, "kriuk" bukan berarti makanan yang renyah, melainkan menjadi pelengkap untuk menunjukkan bahwa video tersebut terasa memuaskan, pas, atau menyenangkan untuk ditonton.
Kata ini memperkuat ekspresi yang sebelumnya sudah disampaikan melalui kata "sedep" dan "mantep".
Namun, penggunaan "kriuk" tidak berhenti sampai di situ.
Pada situasi lain, kata yang sama justru digunakan sebagai bentuk sindiran atau godaan ringan.
Sebagai contoh, ada seorang perempuan yang menolak ajakan berkencan dengan alasan tidak diperbolehkan keluar malam.
Akan tetapi, di unggahan lain terlihat ia justru sering bermain hingga dini hari bersama teman-temannya.
Ketika video tersebut muncul di FYP, beberapa pengguna hanya meninggalkan komentar singkat berupa satu kata, yakni "kriuk."
Dalam konteks ini, "kriuk" tidak bermakna "mantap".
Kata tersebut lebih menyerupai reaksi spontan yang menunjukkan bahwa alasan tadi dianggap tidak konsisten atau "ketahuan".
Nuansanya mirip dengan ungkapan seperti "nah, loh", "ealah", atau "ketahuan juga."
Karena itulah, sulit memberikan satu definisi yang pasti terhadap kata "kriuk".
Maknanya akan berubah mengikuti isi video maupun percakapan yang sedang berlangsung.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam bahasa internet.
Banyak istilah yang awalnya berasal dari bunyi, plesetan, atau sekadar candaan, kemudian berkembang menjadi ungkapan untuk menunjukkan emosi atau respons tertentu.
Contohnya adalah kata seperti "bjir", "bejir", "cie", "weh", "anjay", hingga "awokawok".
Kata-kata tersebut sering kali tidak memiliki arti harfiah yang jelas, tetapi tetap dipahami oleh pengguna media sosial karena digunakan dalam konteks yang sama secara berulang.
"Kriuk" pun memiliki pola penggunaan yang serupa.
Satu kata ini dapat mewakili berbagai respons, mulai dari rasa puas, sindiran halus, kekagetan, hingga perasaan bahwa sesuatu terasa "kena" atau tepat sasaran.
Hal inilah yang membuat bahasa gaul di media sosial terus berkembang.
Sebuah kata tidak selalu lahir dengan definisi yang baku, melainkan memperoleh makna dari kebiasaan penggunaannya di ruang digital.
Oleh karena itu, jika menemukan komentar "kriuk" di TikTok, jangan langsung mengartikannya sebagai satu makna tertentu.
Cobalah melihat isi video, percakapan, maupun nada komentarnya terlebih dahulu.
Bisa jadi kata tersebut digunakan sebagai pujian, bentuk candaan, sindiran halus, atau sekadar pelengkap ekspresi agar komentar terdengar lebih hidup.
Dengan kata lain, "kriuk" bukanlah istilah yang memiliki satu arti pasti, melainkan bagian dari bahasa gaul internet yang fleksibel.
Justru karena sifatnya yang mengikuti konteks, kata ini menjadi salah satu ekspresi yang semakin sering digunakan warganet dalam berbagai jenis percakapan di media sosial. (MG Eka Robiatul Adawiyah)