Sejarah Menurut Sartono Kartodirdjo, Begawan Sejarah yang Hidup Laiknya Pandita
Moh. Habib Asyhad July 28, 2026 03:34 PM

Sejarah menurut Sartono Kartodirdjo adalah gambaran masa lalu manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta serta tafsiran yang memberi pemahaman tentang apa yang telah berlalu. Ia juga membagi pandangan sejarah ke dalam dua aspek utama, yaitu objektif dan subjektif.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Jika berbicara tentang sejarah Indonesia modern, haram hukumnya melupakan sosok Sartono Kartodirdjo, begawan sejarah yang dikenal karena asketismenya.

Sejarah menurut Sartono Kartodirdjo adalah gambaran tentang peristiwa atau kejadian masa lampau yang kemudian digambarkan untuk kepentingan masa kini dan masa depan.

Bagi Sartono, menceritakan sebuah sejarah merupakan salah satu cara untuk menghadirkan kembali peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu kemudian diungkapkan secara tertulis.

Sejarah sebagai kisah merupakan suatu konstruksi yang disusun oleh penulis sebagai suatu uraian cerita atau kisah. Kisah yang ditulis merupakan satu-kesatuan dari rangkaian fakta-fakta yang ada dan saling berkaitan.

Dengan demikian, sejarah sebagai kisah menurut pengertian Sartono adalah peristiwa masa lampau yang disusun oleh penulis sebagai sebuah rangkaian cerita.

Sebagai sejarawan generasi pertama, kehebatan Sartono dalam bidang sejarah tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga internasional. Kehebatannya inilah yang kemudian membuat Sartono Kartodirdjo menerima penghargaan Benda Prize, oleh sejarawan H.J. Benda pada 1977.

Sartono Kartodirdjo adalah sejarawan Indonesia yang berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, dia menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada dan dinobatkan sebagai Guru Besar UGM.

Tak hanya di UGM, Sartono Kartodirdjo juga mengajar di IKIP Bandung (sekarang UPI Bandung). Karya sekaligus pemikiran Sartono Kartodirdjo diakui telah banyak memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Di bidang sejarah, Sartono dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu dan peletak dasar bagi perkembangan kajian sejarah kritis atau modern di Indonesia.

Menurut ST Sularto dalam artikelnya di Kompas.ID, Sartono Kartodirjo adalah sang asketis intelektual. Dia adalah sejarawan pertama Indonesia yang meraih gelar doktor ilmu sejarah dari luar negeri. Dia perintis yang mengubah perspektif sejarah dari sejarah penguasa menjadi sejarah orang kecil dan Indonesiasentris.

Sementara menurut Jakob Oetama, mengutip Sularto, Sartono Kartodirdjo adalah ilmuwan sejarah kelas utama sekaligus cendekiawan-intelektual.

Menurut Sartono, ada lima prinsip kehidupan jika sebuah bangsa ingin menjadi bangsa yang modern dan maju: unity (persatuan dan kesatuan), liberty (kemerdekaan dan kebebasan), equality (persamaan hak), personality (identitas dan kebudayaan), dan performance (etos kerja).

Bangsa Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan, menurut Sartono, memiliki etos nasionalisme itu, semangat berkorban yang tinggi.

Taufik Abdullah, salah satu murid Sartono, mengatakan bahwa Sartono adalah sejarawan pertama Indonesia yang meraih gelar doktor ilmu sejarah dari luar negeri. Dialah perintis yang mengubah perspektif sejarah dari fokus sejarah penguasa menjadi sejarah orang kecil dan Indonesiasentris.

Yang paling khas dari Sartono, yang kemudian diteruskan oleh sejarawan-sejarawan setelahnya, adalah penggunaan pendekatan ilmu sosial—dan disiplin lainnya. Dari dirinyalah “historiografi Indonesiasentris” mendapat inspirasinya.

Disertasi Sartono tentang pemberontakan petani Banten 1888 yang mengantarkannya mendapat gelar doktor ilmu sejarah dengan yudisium cumlaude dari Universitas Amsterdam pada 1 November 1966. Dari disertasi itu juga Sartono dikenal sebagai perintis mazhab historiografi sejarah lokal, sejarah dari dalam dan sejarah dari disiplin ilmu sosial.

Sementara menurut Djoko Suryo, guru besar ilmu sejarah UGM, nama Sartono Kartodirdjo dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh Indonesianis seperti JD Legge, Herbert Feith, George McT Kahin, HJ Benda, WF Wertheim, BR O’G Anderson, hingga MC Ricklefs.

Selain pendekatan Indonesiasentris dalam penulisan sejarah Indonesia, Sartono memperkenalkan pendekatan interdisipliner, multidisipliner, atau pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam kajian sejarah Indonesia.

Seminar Sejarah Nasional II di Yogyakarta pada Agustus 1970 menegaskan tiga perubahan besar dalam historiografi Indonesia yang dirintis Sartono. Pertama, dari sejarah politik ke sejarah sosial; kedua, penerapan konsep-konsep ilmu sosial untuk merekonstruksi sejarah; ketiga, penggunaan pendekatan multidimensional terhadap peristiwa masa lalu.

Seminar mengusulkan pembentukan panitia penulisan buku sejarah Indonesia yang terbengkalai sejak 1951.

Sebagai tindak lanjut, Sartono oleh Kementerian Dikbud (waktu itu) ditunjuk sebagai ketua. Namun, pada penerbitan kedua, Sartono mengundurkan diri dan menolak namanya dicantumkan dalam cetak ulang Sejarah Nasional Indonesia tahun 1977.

Dia tidak pernah mengumumkan alasan pengunduran dirinya. Tetapi menurut Abdul Syukur, budayawan Jawa, itu bentuk protes terhadap penulisan yang lebih mengikuti kepentingan Orde Baru.

Tahun 1987, Sartono menulis historiografi Indonesia sendiri atas bantuan dana Netherlands Institute for Advanced Studies dari Belanda. Historiografi ini memakai pendekatan multidimensional konsep-konsep ilmu sosial, khususnya sosiologi.

Sartono Kartodirdjo tutup usia pada 7 Desember 2007 di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.