BKSDA Sulteng Apresiasi DSLNG Lepasliarkan Lebih dari 100 Burung Maleo di Bakiriang
Fadhila Amalia July 28, 2026 04:24 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alisan Lasande

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah (Sulteng) mengapresiasi upaya industri Minyak dan Gas (Migas) di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah dalam melestarikan Burung Maleo. 

Pejabat Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya BKSDA Sulteng, Bambang Dwi Prasetyo mengatakan, BKSDA dan Donggi Senoro LNG (DSLNG) telah melepasliarkan lebih dari 100 ekor Burung Maleo di Suaka Margasatwa Bakiriang.

Baca juga: Soroti Rencana Tambang Bawah Tanah PT CPM, Safri: Jangan Asal Kejar Emas di Perut Bumi

Hal ini disampaikan Bambang saat Kampanye dan Sosalisasi Burung Maleo yang digelar DSLNG di pelataran Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk di Jl KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Luwuk, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Selasa (28/7/2026).

Bambang menjelaskan, status Burung Maleo dilakukan asesmen setiap beberapa tahun sekali.

Agustus 2021, kata dia, status Burung Maleo Critically Endangered atau selangkah menuju kepunahan di alam liar.

Bambang mengungkapkan, industri Migas telah mengentaskan telur Burung Maleo menggunakan inkubator.

Hal ini mengurangi risiko kegagalan menetas di alam karena diburu satwa lain.

Upaya lain DSLNG, kata dia, penanaman kemiri sebagai pakan hewan monogami ini di Suaka Margasatwa Bakiriang.

Mahasiswa, kata dia, bisa terlibat dalam kampanye pelestarian Burung Maleo di media sosial.

Selain itu, menjadi relawan konservasi sampai melakukan penelitian.

"Kalau ada yang tinggal di sekitar Suaka Margasatwa Bakiriang bisa sosialisasikan kepada tetangga," tuturnya.

Dosen Program Studi Biologi Unismuh Luwuk, Wahyudin Abdul Karim, mengatakan saat ini belum ada jumlah pasti total spesies Maleo. 

"Kalau dalam kawasana barangkali bisa diketahui teman-teman di konservasi, tapi ada yang di luar kawasan," ujar mahasiswa doktoral di Universitas Gajah Mada ini. 

Wahyudin mengatakan, saat ini status Maleo Critically Endangered. 

Baca juga: Komisi III DPRD Morowali Gelar RDP Bahas Persoalan Program Air Bersih di Desa Paku dan Jawi-Jawi

"Kritis terancam punah," tuturnya.

Wahyudin saat ini sedang melakukan penelitian potensi parasit Burung Maleo untuk disertasi di 7 lokasi, salah satunya di Desa Taima, Kecamatan Bualemo. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.